Jumat, 23 November 2012

Media Sosial dan Masa Depan Industri Kreatif Indonesia



"Ah! media sosial itu bikin pening, mainan yang cuma buang-buang waktu."

Awal tahun ini dibuka dengan sebuah kabar menarik. Asia memimpin perekonomian dunia. Tahun ini bahkan ditasbihkan sebagai Abad Asia. Indonesia, China, India, merupakan tritunggal utama yang menjadi actor utama kemajuan Asia. Tak bisa dipungkiri bahwa, keberadaan kelas menengah yang melimpah di Asia menjadi faktor utama. Asia yang sedang menikmati bonus demografinya tersebut kini sedang dipenuhi dengan wirausahawan muda (entrepreneur) yang progresif.

Keberadaan kelas menengah yang melimpah juga sedang dialami oleh Indonesia. Laporan Bank Dunia bertajuk Global Developmet Horizons 2011 Multipolarity: The New Global Economy secara lugas menjelaskan hal ini. Menurut laporan tersebut, Indonesia mengalami peningkatan signifikan jumlah kelas menengah dibandingkan tahun 2003. Pada tahun 2010, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 56,6 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 114 juta penduduk. Kelas menengah yang dipenuhi dengan penduduk usia produktif sangat suportif terhadap kemajuan Indonesia asalkan tidak terjadi slah kelola sumber daya manusia (SDM).

Kuantitas sebesar itu menjadi  kian prospektif untuk kemajuan suatu bangsa jika sediktnya 2 persen dari jmlah penduduk tersebut menjadi wirausahwan. Dua  persen di sini merupakan formula agung menurut para ekonom. Singapura, China, Jepang, dan bahkan Amerika Serikat memiliki sedikitnya lima pesen wirausahawan. Lantas, apa yang menjadi faktor pendorong utama keberhasilan wirausahawan di tengah gempuran globalisasi dan perdagangan bebas yang kini sedang terjadi?

Industri Kreatif dan Media Sosial
Dalam ranah wirausaha, industri kreatif di Indonesia masih belum memiliki banyak pemain. Padahal, bidang ini sangat prospektif untuk dikembangkan. Pertama, industri kreatif di Indonesia memiliki peluang untuk menjadi besar karena budaya Indonesia yang beragam. Hal ini merujuk pada beragamnya jenis tarian, bahasa, hingga karya-karya budaya lainnya baik bersifat benda (tangible) maupun tak benda (intangible).
Kedua, industri kreatif merupakan ranah yang padat karya. Dalam hal ini, penyerapan tenaga kerja tergolong banyak. Selain itu idustri kreatif menunjukkan kualitas suatu bangsa. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai budayanya.

Keberadaan industri kreatif akan korelatif dengan kemajuan jejaring media social yang kini sedang menggejala di Indonesia. Media sosial merupakan masa depan industri kreatif Indonesia. Keberadaan jejaring sosial yang mewujud melalui munculnya Twitter, Facebook, LinkedIn senafas dengan upaya pelestarian budaya suatu bangsa. Hal ini menjadi penting karena-menyitat pendapat Roby Muhammad-empat hal. Pertama, proses sosial penting seperti penyebaran ide dan informasi terjadi melalui jejaring sosial. Kedua, jejaring sosial mampu mendeteksi reaksi dalam masyarakat. Sehingga, dengan media sosial arah promosi atau perkenalan suatu produk industri kreatif akan lebih muda. Ketiga, media sosial membantu organisasi ataupun individu menyelesaikan masalah. Poin terakhir ini menjadisenafas dengan keberadaan industri kreatif yang kehadirannya mencoba menjadi penyelesaian masalah horizontal.

Industri kreatif merupakan ranah yang secara lugas membedakan antara negara maju dan negara yang tertinggal. Masa depan industri kreatif yang prospektif sudah dibuktikan oleh negara-negara maju di dunia. Inggris, Amerika Serikat, Korea Selatan, China, Jerman, adalah sedikit negara yang salah satunya terkenal karena industri kreatifnya. Sebagai contoh, negeri-negeri tersebut merupakan pemain utama dalam hal penciptaan karya seni hingga ajang penghargaan ranah perfilman bergengsi. Yang paling menarik tentu Korea Selatan. Hadirnya gelombang Korea (halyu) merupakan wujud dari upaya Korea Selatan dalam menghadirkan industri kreatif sebagai smber perekonomian negara. Apa yang dilakukan Korea Selatan mendapat dukungan yang kuat dari penduduknya. Korea Selatan hadir bukan hanya dengan karya biasa. Di Korea Selatan pemerintahnya fokus membina insan muda kreatif negeri itu untuk menjadi pemain utama dalam industri kreatif dunia. Pemerintah Korea Selatan menjawabnya dengan memberikan edukasi dan sarana pendukung industri kreatif mulai edukasinya, teknologinya, hinnga modalnya.

Tren berkembang dengan baik jika ranah akademik juga selaras dalam merespon keberadaan media sosial. Di Indonesia masih belum banyak perguruan tinggi (PT) yang menyadari hal ini dan kemudian mengubah haluannya menjadi PT yang berbasis pengajaran (teaching-based university) menjadi PT dengan fokus utama wirausaha (entrepreneurial-based university). Salah satunya adalah Prasetiya Mulia Business School (PMBS).

PMBS hadir dengan lugas untuk membuktikan bahwa bisnis akan selalu selaras dengan media sosial. Hal ini bisa dilihat dari dibukanya programstudi yang responsive tehadap bidang pemberdayaan komunitas sosial. Selain itu, PMBS juga menjadi PT yang berusaha memperkenalkan konsep bisnis sosial melalui kompetisi yang sering dibuat. Hal ini menarik karena kompetisi tersebut ditujukan untuk siswa sekolah menengah atas (SMA). Bahwa, penting untuk memperkenalkan bisnis kepada generasi muda.

Keberadaan media sosial pada akhirnya akan sangat suportif untuk keberlanjutan industri kreatif, khususnya di Indonesia. Karena terbukti bahwa, melalui usaha kecil namun dikelola dengan baik, industri kreatif akan mampu menunjukkan tajinya. Industri kreatif merupakan pengejahwantaan proses kreatif individu dalam mengkreasi sesuatu. Dalam prosesnya, industri kreatif menjadi episentrum utama berkumpulnya individu-individu kreatif. Hal tersebut selaras dengan keberadaa media sosial. Media sosial hadir dengan prinsip sederhana, yaitu kala dua orang berinteraksi tercipta satu hal. Sau hal yang lahir dari upaya bertukar pikiran berpeluang mutlak untuk berkembag menjadi satu hal positif lainnya. 

Industri kreatif menjadi faktor utama yang patut diperhitungkan dalam area persaingan global. Kreativitas tak pernah mati. Hanya kadang, sebuah bangsa belum menyadari pentingnya kreativitas. Satu hal penting yang mampu membuat sebuah bangsa berdaya saing. Satu hal penting yang sedang bersemayam di sana, dalam benak setiap manusia. Hanya dibutuhkan sedikit upaya 'ekskavasi' satu hal itu. 

Industri Kreatif Indonesia
Indonesia harus menyambut baik hadirnya media sosial dalam upaya meningkatkan kemajuan ekonomi. Indonesia memiliki segala potensinya. Negeri ini merupakan tempat untuk berbagai macam ragam budaya. Selain itu, Indonesia merupakan negeri dengan jumlah kelas produktif yang signifikan. Maka, setidaknya terdapat tiga mimpi besar mengenai masa industri kreatif dan media sosial Indonesia.

Pertama,  Indonesia harus mampu menjadi pemain utama dalam industri kreatif dunia. Dalam hal ini, akan luar biasa jika setiap kota di Indonesia memiliki setidaknya satu wadah pemikir (think-tank) industri kreatif. Maka, bukan hanya kuantitas yang melimpah, namun kualitas produk kreatif akan mampu berdaya saing. Kedua, Indonesia merupakan salah satu negeri dengan jumlah penetrasi ponsel terbesar di dunia. Maka, konten kreatif sudah memiliki pangsa pasar di sini. Pasar tersebut akan luar biasa jika sanggup diraih dan diberdayakan melalui peyediaan konten-konten edukatif. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Gita Wirjawan, dalam Konferensi Internasional tentang Futurologi (International Conference on Futurology) tahun 2011 lalu. Mimpi tentang pemberdayaan ranah digital di Indonesia merupakan satu dari tiga mimpi besar untuk negeri ini. Bukan mimpi yang mustahil.

Ketiga, masa depan Indonesia akan cerah jika pengelolaan SDM yang melimpah dan kini sedang menjadi bonus demografi utama Indonesia sejalan dengan industri kreatif di Indonesia. Hal ini sekaligus menjawab keberadaan episentrum wadah pemikir para pekerja industri kreatif di setiap kota di Indonesia nantinya. Sehingga, pada akhirnya, Indonesia akan mampu menjadi pemain utama dalam industrik kreatif global. 

Maka, hadirnya Prasetiya Mulya Business School dalam usianya yang masih belia telah menunjukkan tajinya. Dalam hal fusi antara kreativitas dan bisnis, PMBS menjadi salah satu yang terdepan. Maka, 30 tahun merupakan orde awal menuju Indonesia yang lebih baik. Secara lugas, kutipan dialog di atas dari seseorang beberapa waktu lalu dengan mudah dipatahkan. Bahwa, media sosial  bukan hanya tentang membuang waktu, an sich! Media sosial adalah langkah awal negeri ini untuk maju satu, dua, atau tiga dekade ke depan. Maju selaras dengan industri kreatif Indonesia.