Jumat, 01 Juli 2016

LITERASI KEUANGAN: MARWAH BARU INDUSTRI KEUANGAN INDONESIA

Indonesia dengan pelbagai keragaman yang ada merupakan salah satu pangsa pasar keuangan yang prospektif. Lebih dari 250 juta jiwa penduduk, yang sedikitnya 30% di antaranya adalah kelas menengah usia produktif. Bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia karena kuantitas kelas menengahnya merupakan pisau bermata dua. Di satu sisi menguntungkan, dan di sisi lain bisa membahayakan jika terjadi salah kelola sumber daya manusia.
          Sebagai salah satu panga pasar keuangan yang  prospektif, Indonesia akan berdaya saing jika penduduknya, yang sebagian besar adalah konsumen tetap pasar keuangan tersebut, memiliki tingkat pemahaman keuangan yang memadai. Literasi keuangan bukan hanya sekedar kemampuan membaca aksara atau angka semata. Lebih jauh, literasi keuangan menyoroti pentingnya pemahamam pengelolan keuangan itu sendiri.
          Literasi keuangan kian dianggap penting di tengah menjamurnya bisnis pembiayaan di Indonesia. Program literasi keuangan kian menunjukkan urgensinya kala kita membaca laporan survei nasional literasi keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013. Hasil survei nasional tersebut menunjukkan ‘hanya’ 21,8 persen saja masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat pemahaman keuangan baik (well literate).  
Inovasi
          Home Credit Indonesia sebagai salah satu lembaga pembiayaan keuangan di Indonesia menjadi yang terdepan dalam hal edukasi keuangan. Tidak hanya berfokus pada akselerasi pertumbuhan bisnis keuangan semata, Home Credit Indonesia yang berdiri sejak tahun 2012 di Indonesia, menghadirkan literasi keuangan sebagai salah satu langkah inovatifnya. Sejak tahun 2014, di usianya yang masih muda untuk sektor pembiayaan keuangan khususnya di Indonesia, Home Credit  Indonesia telah melakukan kegiatan literasi keuangan kepada 515 orang. Menariknya, kegiatan literasi keuangan ini tidak hanya diberikan kepada mahasiswa saja, namun juga kepada pelaku usaha kecil menengah, ibu rumah tangga dan pihak swasta.
          Disadari atau tidak program literasi keuangan yang secara aktif dilakukan akan mampu menciptakan iklim keuangan yang sehat. Sebagai lembaga pembiayan yang memiliki visi menyediakan layanan pembiayaan yang inovatif, langkah ini bisa dikatakan berani, dan sangat bermanfaat bagi para konsumen. Guna menciptakan iklim keuangan yang sehat dan mampu menghadirkan pasar keuangan yang berkelanjutan, Otoritas Jasa Keauangan juga harus mendukung kegiatan literasi keuangan. Bentuk dukungan bisa dalam bentuk pemberian sertifikasi kepada para penyedia layanan keuangan, serta edukasi terkait industri keuangan yang berkembang di Indonesia kepada korporasi keuangan.
          Inovasi lain yang dihadirkan Home Credit Indonesia berupa kecepatan dan ketepatan dalam proses validasi data konsumen terkait pembiayaan keuangan. Proses yang mudah dan cepat membuat jasa pembiayaan keuangan oleh Home Credit Indonesia kian berkembang pesat. Melalui siaran pers pada laman daringnya, Home Credit Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan ekspansi jasa pembiayaan multiguna untuk kawasan Indonesia timur khususnya di wilayah Makassar. Hal ini menujukkan bahwa dengan komitmen yang ada, batasan geografis tidak akan menjadi penghalang untuk melakukan ekspansi bisnis. Selain itu, peningkatan layanan jasa pembiayaan multiguna menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pembiayaan keuangan yang sering kali mendapat stigma negatif karena masalah layanan konsumennya.
          Di tengah pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif dan kondisi keuangan sektoral maupun regional yang juga kurang baik, akselerasi bisnis yang dilakukan Home Credit Indonesia menunjukkan bahwa, masyarakat Indonesia kian terbuka. Iklim industri di Indonesia, khususnya produk keuangan, kian baik serta tingkat konsumtif masyarakat meningkat dikarenakan tingkat pendapatan yang cenderung kian membaik.
Keberlanjutan
Amartya Sen dalam salah satu bukunya yang menarik bertajuk Economic as Freedom menyatakan pentingnya meningkatkan fungsi layanan kepada masyarakat. Program literasi keuangan yang telah dan sedang dilakukan oleh Home Credit Indonesia menunjukkan bahwa, pemahaman pembiayaan keuangan itu penting. Hal ini sangat terkait dengan keberlanjutan industri penyedia jasa keuangan dalam memberikan layanan kepada konsumen.
Memasuki kondisi masyarakat yang kian terhubung satu sama lain. Media elektronik dan gawai (gadget) menjadi kebutuhan primer, sudah saatnya layanan keuangan juga menjadi kian ligat dan cergas dalam hal penyediaan jasa layanan pembiayaannya. Saya membayangkan kemudahan akses informasi terkait literasi keuangan dari hulu hingga hilir langsung dari gawai saya. informasi terkait manajemen keuangan yang baik, tata cara pengelolaan aset bernilai, hingga informasi terkini perihal kondisi keuangan regional maupun global.
Literasi Keuangan 2.0 akan sangat mendukung keberlanjutan penyediaan layanan keuangan di Indonesia. Pengajuan pembiayaan keuangan berbasis aplikasi mobile akan memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya terkait bantuan layanan keuangan. Sehingga pada akhirnya seperti yang dikatakan Sen, kita akan mampu mengarifi pembangunan ekonomi masyarakat secara harfiah. Dimana pertumbuhan ekonomi bukan hanya ekslusif milik satu kaum tertentu, tapi terjangkau dan inklusif untuk semua lapisan masyarakat.