Jumat, 28 September 2012

"Foolishisasi" Koperasi


Description: http://www.unisosdem.org/images/spacer.gif


Oleh: Lukman M Baga




Mungkin ini tulisan lama yang baru saya temukan sekarang. Namun, dengan segala kerendahan hati saya ingin membaginya pada semua orang. 

Tulisan ini luar biasa untuk dua alasan. Pertama, mungkin alasan subyektif bahwa, saya suka Mata Kuliah Koperasi dan Kelembagaan Agribisnis di Semester 3. Pengajarnya luar biasa. 

Kedua, bahwa di negeri ini jauh lebih banyak orang-orang luar biasa yang sedang bergerilya untuk Bumi Pertiwi dibandingkan dengan orang-orang itu. Ya, benar! orang-orang itu yang kita lihat perangainya di teve setiap harinya. (It might be, the corruption, bribery, fraud, and greedily action are their breakfast for supporting their normal everyday routine. Poor. :( ) 

Untuk Pak Baga dan semua orang-orang keren yang sudah memberikan kuliah yang mantab dan inspiratif pada kami pada beberapa mata kuliah, terima kasih. Semangat untuk aksi Anda! If Allah permits, hence, we're gonna be making a few improvements through the pathbreaking you all have taught to us for this Bumi Pertiwi, sake!  One, two, or three years ahead of our moving forward! :)

Tulisan bagus ini saya dapatkan dari sini.  Sesuatu yang harus dibagi. Ideas worth spreading. :)

Ilustrasi gambar dari sini


"We are the blind people and cooperative is our elephant"
SUSAH memang jika negara kita yang mengidamkan bangkitnya kekuatan ekonomi rakyat, tetapi dipimpin oleh mereka yang terkategori "tidak tahu bahwa mereka tidak tahu" tentang perkoperasian. Repotnya lagi jika para pemimpin negara berperilaku sok tahu sehingga proses foolishisasi koperasi justru berkembang di kalangan masyarakat.

Saat memperingati Hari Koperasi tahun lalu, dengan nada sangat prihatin Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan, "Pada usia yang ke-55 tahun ini, seperti halnya kita manusia yang mestinya sudah menuju kasepuhan, tapi ini (koperasi) jalannya masih seperti bekicot, pelan sekali." (Kompas, 13 Juli 2002)

Menyimak pernyataan ini, paling tidak ada tiga hal yang patut disesalkan. Pertama, diungkapkan dengan nada prihatin bernuansa pesimistis. Suatu nuansa yang justru bertentangan dengan semangat gerakan koperasi yang optimistis.

Bandingkan, misalnya, dengan pidato Bung Hatta pada Hari Koperasi II tahun 1952: "Kita menuju ke arah membangun masyarakat gotong-royong, dan alat untuk membangunnya secara teratur ialah kooperasi. Oleh karena itu besar harapan saya, supaya benar-benar hidup suatu tradisi yang ada artinya, sehingga Hari Kooperasi yang kembali saban tahun itu menjadi anak tangga naik ke jurusan yang kita tuju. Koperasi hendaknya dapat menggambarkan, bahwa dari tahun ke tahun gerakan koperasi kita bertambah baik jalannya, bertambah sempurna organisasinya dan bertambah kuat semangatnya." (Hatta, 1971, Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun)

Terlihat perbedaan cara pandang terhadap gelas yang setengah penuh. Megawati mengeluhkan kondisi ini, sebaliknya dengan Bung Hatta yang optimistis. Padahal, kondisi perekonomian pada tahun 1952 tidak lebih baik dibandingkan dengan tahun 2002.

Kedua, Megawati tidak memahami bahwa pada kodratnya koperasi bergerak lambat, tetapi membangun suatu kekuatan yang dahsyat dan tidak mudah digoyahkan. Gerakan koperasi di Jerman dan negara-negara Skandinavia dimulai pada awal abad ke-19. Hasilnya, gerakan koperasi di negara-negara tersebut luar biasa perannya saat ini.

Mbak Mega seharusnya tidak membandingkan koperasi dengan pertumbuhan sektor swasta yang cepat bagaikan pelari sprint 100 meter. Apalagi dengan pertumbuhan para konglomerat yang berlari di dalam gerbong kereta yang konon difasilitasi pemerintah.

Koperasi bersama anggotanya berlari bagaikan program maraton sebuah keluarga besar. Sang bapak yang bisa berlari lebih cepat tentunya tidak akan meninggalkan anak-anaknya yang sebentar-sebentar kelelahan dan minta istirahat. Alangkah tidak tahu dirinya jika ketua koperasi berlari melesat sendirian meninggalkan anggotanya jauh di belakang, tidak mau membimbing anggotanya, dan tidak lagi memotivasi anggotanya agar mau terus berlari. Akan tetapi, ini justru yang banyak terjadi pada koperasi Indonesia.

Ironisnya, pernyataan para pejabat kita justru mengondisikan agar koperasi mewujudkan diri sebagai para pelari sprinter, yang inginnya cepat besar tanpa adanya proses pembimbingan dan pemotivasian anggota. Fakta menunjukkan bahwa faktor pendidikan yang sangat esensial bagi gerakan koperasi menjadi suatu hal yang banyak terabaikan di negeri tercinta. Alhasil, banyak koperasi yang anggotanya merana, sementara para pengurusnya berjaya.

Ketiga, mungkin Megawati tidak mengalkulasi bagaimana kekuatan yang dibangun oleh gerakan koperasi walau dinyatakan sebagai jalannya bekicot. Yang perlu diingat, bekicot ini bukan dalam jumlah satuan atau ratusan, tetapi jutaan.

Jumlah anggota koperasi pada akhir tahun 2000 tercatat paling tidak 27,3 juta orang dari sekitar 103.000 koperasi. Volume usaha koperasi Rp 23,1 triliun dengan sisa hasil usaha (SHU) Rp 694,5 miliar. Megawati mungkin hanya melihat angka volume usaha dana SHU yang secara rata-rata adalah Rp 224 juta dan Rp 6,7 juta per koperasi setahun. Suatu jumlah yang sama sekali tidak bisa dibanggakan.

Namun, Megawati lupa atau tidak menyadari bahwa anggota yang jutaan ini memiliki volume usaha dan keuntungan yang, jika dijumlahkan, jauh lebih besar dibandingkan yang terkait langsung dengan koperasi.

Misalnya dalam koperasi susu. Volume usaha yang tercatat adalah transaksi tunai dari volume susu yang disetorkan peternak kepada koperasi susu, ditambah dengan pembelian pakan konsentrat serta beberapa pelayanan kesehatan ternak yang dibeli atau diperoleh dari koperasi.

Namun, berbagai aktivitas ekonomi lain, baik yang bersifat tunai maupun nontunai, belum lagi diperhitungkan. Misalnya, pengadaan rumput, jasa pemeliharaan ternak sehari-hari, hasil penjualan sapi, dan aktivitas simpan pinjam yang dibutuhkan dalam peternakan. Semua aktivitas ini tidak akan pernah ada di pedesaan jika koperasi susu tidak ada.

Keuntungan yang diperoleh anggota jauh lebih besar dibandingkan dengan SHU koperasi. Misalnya jika usaha anggota koperasi secara rata-rata memberikan keuntungan bersih sebesar Rp 1.000 per hari (jumlah yang sangat kecil tentunya), berarti terdapat keuntungan bersih sebesar Rp 9,86 triliun per tahunnya. Ini hanya keuntungan bersihnya. Oleh karena itu, sangat picik jika menilai keberhasilan gerakan koperasi hanya dari SHU koperasi.

"The blind leading the blind"
Jika Megawati prihatin dengan kondisi koperasi, maka yang lebih memprihatinkan adalah bahwa cita-cita gerakan koperasi tidak berkembang justru karena pemimpin negara ini salah dalam memandang koperasi sebagai suatu bentuk organisasi yang unik.

Kekeliruan yang sama juga dinyatakan Abdurrahman Wahid pada Hari Koperasi tahun 2000. "Seperti yang dikatakan di dalam GBHN, koperasi tidak mempunyai keuntungan, tetapi sisa hasil usaha. Kenapa kita harus menipu diri sendiri. Langsung saja bilang keuntungan karena koperasi cari keuntungan juga tidak salah. Apa salahnya?" (Kompas, 13 Juli 2000)

Apa salahnya? Salahnya adalah sang pemimpin yang tidak tahu, tetapi sok tahu tentang koperasi. Edgar Parnell dalam bukunya, Reinventing Cooperation (1999), mengibaratkan fenomena ini sebagai the blind leading the blind. Pernyataan Gus Dur tersebut benar-benar merupakan pembodohan masyarakat terhadap nilai dasar perkoperasian.

Koperasi tak berorientasi pada keuntungan karena koperasi berkonsentrasi untuk meningkatkan keuntungan yang diterima anggota, bukan dirinya sendiri. Jika koperasi berorientasi keuntungan, koperasi akan mengeksploitasi anggotanya. Jumlah keuntungan para anggota inilah yang dinamakan hasil usaha yang sesungguhnya. Kalaupun ada surplus yang diperoleh koperasi, misalnya karena berhasil meningkatkan efisiensi usaha, itu namanya sisa keuntungan atau sisa hasil usaha.

Kita tahu pengertian kata "sisa" adalah sesuatu yang sebenarnya tidak diharapkan, tetapi jika ada, sayang untuk dibuang. Karena itu, pemanfaatan SHU dikembalikan kepada anggotanya, mau dibagikan kepada anggota atau diikhlaskan untuk pemupukan modal koperasi agar pelayanan kepada anggota semakin meningkat.

Terminologi SHU ini sudah tepat, tetapi malah dikacaukan oleh pemimpin negara yang terhormat. Karena itu, tidak heran jika banyak pihak yang memandang remeh gerakan koperasi karena SHU-nya kecil. Padahal, mereka sedang membandingkan keuntungan total perusahaan swasta dengan sisa keuntungan yang diperoleh koperasi.

Tidak tahu bahwa tidak tahu
Disadari bahwa masyarakat Indonesia masih awam terhadap gerakan koperasi. Masyarakat butuh pembelajaran, tetapi yang terjadi justru proses pembodohan. Bangsa Indonesia hingga kini tetap kebingungan, di mana sesungguhnya letak keunggulan koperasi sehingga Bung Hatta menyatakan secara tegas dalam UUD 1945. Bukti kebingungan ini terlihat ketika kata koperasi dihilangkan dalam proses amandemen UUD, bangsa ini seakan tidak melihat ada yang salah di sana.

Hebatnya kekuatan gerakan koperasi bukan suatu utopi, tetapi telah terbukti di banyak negara maju dan negara berkembang lainnya. Sayangnya, bangsa kita masih bagai katak di bawah tempurung. Sementara para pemimpinnya berperilaku bagaikan sekumpulan orang buta yang berdebat mengenai bentuk seekor gajah. They are the blind people and cooperative is their elephant.

Sungguh, gerakan koperasi Indonesia merindukan tokoh sebagaimana Bung Hatta, yaitu orang yang terkategori "tahu bahwa dia tahu" tentang koperasi. Terhadap kategori orang seperti ini, para ulama menasihatkan kita untuk banyak belajar darinya. Perguruan tinggi seharusnya terpanggil untuk memperbanyak orang-orang kategori ini.
Sebaliknya, pada mereka yang terkategori "tahu bahwa dia tidak tahu", ulama menganjurkan untuk mengajari dia, tuntun dia agar menjadi kategori yang pertama. Akan tetapi bagi mereka yang terkategori "tidak tahu bahwa dia tidak tahu", ini adalah kelompok yang celaka, maka nasihat ulama adalah tinggalkan dia. Entah apa lagi yang akan terungkap pada peringatan Hari Koperasi tahun ini.

Lukman M Baga, Staf IPB, Kandidat Doktor pada Institute for Cooperation in Developing Countries, Marburg, Jerman






Kamis, 27 September 2012

Listrik Byar-Pet, Konon Itu Cerita Lama

Listrik Byar-Pet, Konon Itu Cerita Lama


        Di Indonesia, korporasi milik pemerintah tengah berjalan menuju perubahan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan sorotan primer masyarakat yang selalu mendamba kinerja yang laik. Hal tersebut kiranya juga sedang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Melalui semangat perubahannya, PLN bergerak maju ke garda terdepan dalam rambu-rambu Tata Kelola Korporasi yang Baik (Good Corporate Governance/ GCG).

        Berbicara tentang PLN dan kita, setidaknya akan menyingkap dua permasalahan primer klasik. Pertama, tentang upaya pemenuhan kebutuhan listrik untuk 240 juta lebih penduduk Indonesia. Kedua, mengenai upaya menjalankan tata kelola korporasi yang baik melalui penghapusan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

       Permasalahan pertama menyeruak pada keseharian kita karena, dalam upaya pemenuhan kebutuhan listrik, masih sering terjadi pemadamam berkala, atau istilah kerennya byar-pet. Harus diakui bahwa, memenuhi kebutuhan listrik untuk seluruh penduduk Bumi Pertiwi bukan perkara mudah. Hal tersebut diperparah dengan praktik korporasi yang belum maksimal oleh PLN saat permasalahan byar-pet menjadi heboh. Untuk permasalahan tersebut, saya sebagai mahasiswa menjadi salah satu ‘korbannya’. Namun, sisi positifnya, pengalaman tersebut menjadikan saya lebih arif dalam menggunakan perangkat digital.

          Maka, setidaknya dua hal berikut ini mencoba menegaskan bahwa, kehebohan byar-pet merupakan cerita lama.

Keterbukaan informasi

        Upaya menjadikan PLN sebagai agen primer yang menjunjung tinggi GCG dan semangat anti korupsi harus sejalan dengan program perbaikan yang signifikan dan holistik. Hal ini merujuk pada fakta bahwa, pada aras Asia Tenggara, PLN masih tertinggal. Dewi Aryani[1] melalui artikelnya yang berjudul Kemana Arah Listrik Kita? (Koran SINDO, 07 September 2012) menyajikan data terbaru mengenai elektrifikasi Indonesia. Menurutnya, rasio elektrifikasi Indonesia yang hanya 74,3% jauh tertinggal dari negara-negara kawasan seperti Singapura (100%), Brunei Darussalam (99,7%), Malaysia (99,4%), Thailand (99%), Vietnam (97,6%), dan bahkan Filipina (89,7%).
Akun resmi @pln_123
          Fakta tersebut jelas merupakan tamparan keras untuk negeri ini. Negeri yang bersiap untuk bergerak maju sebagai salah satu kekuatan utama perekonomian dunia. Namun, PLN tak harus gentar dan kehilangan momentum untuk bergerak maju dengan skema GCG dan semangat anti korupsi. Pada era digital seperti sekarang ini, upaya mejadikan ‘slogan’ byar-pet sebagai cerita lama menjadi lebih mudah. Pertama, karena PLN dapat merengkuh dan berdialog serta mendengar secara langsung keinginan pelanggannya melalui media sosial. Disini, PLN harus mau ‘sedikit merepotkan diri’ untuk membuka dengan selebar-lebarnya corong episentrum informasi. Kedua, pada tahun 2011, PLN merupakan BUMN yang meraih penghargaan premium pada Anugerah BUMN 2011.[2] Secara lugas, kinerja PLN sangat diakui pada kategori ‘Inovasi Produk Jasa BUMN Tebaik’ dan ‘Inovasi Pelayanan Publik BUMN Terbaik’.
Keterbukaan informasi PLN melalui media sosial
Penghargaan premium tersebut menegaskan kemampuan PLN sebagai inovator pada sektor publik. Sebagai salah satu generasi abad ini yang familiar dengan media sosial, saya sangat apresiatif dengan langkah  PLN dalam membuka informasi korporasinya kepada publik secara luas melalui Facebook maupun Twitter. Fakta ini menjadi menarik karena saya tahu belum banyak korporasi pemerintah yang melakukan hal serupa. Umumnya, menurut saya, korporasi pemerintah yang belum memiliki jejaring di media sosial belum mengetahui keampuhan media sosial dalam menciptakan jejaring serta menyebarkan informasi. Maka, saya anggap korporasi milik pemerintah yang lain tersebut melakukan ‘pelanggaran normatif sederhana’ karena belum mau keluar dari kotak birokratifnya dan karena belum mau membuka informasi kepada publik secara luas.

Akun informatif PLN 123 di Facebook. Ada yang belum nge-like?

Akun informatif @blogdetik

Fakta bahwa PLN telah merengkuh media sosial membuat saya senang. Karena ini menegaskan bahwa, PLN bukanlah korporasi pemerintah yang sekedar hebat-biasa. Selain itu, bukankah langkah maju dibawah panji-panji semangat GCG dan tekad mencegah korupsi memerlukan upaya yang tidak biasa. Semangat menyongsong PLN sebagai aktor utama penerapan GCG dilandasi fakta bahwa listrik itu penting untuk mendukung kemajuan negeri ini. Wasistho Adji[3], Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menyatakan bahwa energi listrik adalah kebutuhan vital pada era peradaban masa kini. Keterbatasan atau kekurangan pasokan energi listrik akan berdampak pada beberapa persoalan vital, diantaranya tidak ada investasi baru (pertumbuhan investasi) karena tidak tercukupinya pasokan listrik untuk mendukung operasional pabrik baru. Derivatnya secara langsung adalah tidak ada pertambahan lapangan kerja.

Transparency International Indonesia (TII)
Semangat perubahan
          Semangat perubahan yang dilakukan PLN kini kian menemui maknanya.  Kerjasama yang dilakukan PLN dengan Transparency International Indonesia (TII) setidaknya menegaskan upaya menuju koporasi dengan konsep GCG dan semangat anti korupsi. Melalui laman resminya[4], PLN menegaskan bahwa melalui kerjasama tersebut, baik PLN maupun pelanggan, vendor/mitra kerja dan pemegang kebijakan (stake holder) lainnya sama-sama dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan berpotensi menimbulkan korupsi.


Akun Komunikasi Korporasi PLN. GCG banget, ya?

          Semangat perubahan yang lainnya dilakukan oleh PLN dengan menargetkan investasi pada tambang batubara senilai 1 milyar dolar seperti dikutip Reuters.[5] Hal tersebut dilakukan untuk mendukung dan memastikan suplai listrik terpenuhi serta upaya lugas agar kelak tidak melakukan impor. Hal tersebut laik untuk dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara yang besar dan akan sangat riskan jika untuk suplai saja harus didukung dengan impor bahan baku.

          Kenyataan tersebut didukung dengan apa yang disampaikan oleh Gita Wirjawan, yang kala itu menjabat Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),  dalam International Conference on Futurology [6]di Jakarta 28 Juli 2011. Menurutnya, terdapat tiga mimpi primer untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik. Pertama adalah tentang hard infrastructure seperti ketersediaan listrik, rel kereta, dan jalan. Kedua merupakan mimpi tentang edukasi dan kesehatan yang masuk dalam koridor soft infrastructure. Mimpi terakhir adalah tentang digital. Era digital akan mampu mengakhiri keterbatasan informasi dan pendidikan di daerah terpencil. Jelas, poin pertama dan ketiga tengah direngkuh dengan baik oleh PLN.
Media sosial, episentrum keterbukaan informasi
          Apa yang sedang dilakukan oleh PLN sekarang ini memang selayaknya harus dilakukan oleh setiap korporasi pemerintah di Bumi Pertiwi ini. Terhampar begitu banyak riset, seminar, dan kajian yang menunjukkan bahwa semangat perubahan harus selalu dilakukan di Indonesia. Semangat perubahan yang dilakukan korporasi pemerintah merupakan upaya afirmatif dalam mendukung kemajuan Indonesia. Bahwa, negara-negara maju di dunia bukan menjadi sejahtera karena sumber daya alam (SDA) yang dimilikinya. Melalui bukunya, Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing (2010), Zuhal[7] menyoroti pentingnya kekuatan sumber daya manusia (SDM) dan modal dalam mencapai kesejahteraan berbasis daya saing. Bahwa, menurut Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) tersebut, SDA tidak sama dengan kekayaan. Bahwa, pembangunan infrastruktur negeri ini harus didukung oleh SDM yang kompeten dan kapital yang memadai.

          Pada akhirnya, melalui GCG dan semangat anti korupsi, PLN tengah mengakhiri stigma negatif pada korporasi tersebut mengenai listrik byar-pet-nya. Bahwa, semangat PLN tersebut harus didukung dengan semangat lain untuk yaitu keterbukaan informasi dan semangat perubahan yang laik. Bahwa benar, aku dan PLN merupakan cara sederhana untuk menunjukkan harapanku untuk PLN. Bahwa benar, kemajuan PLN satu, dua atau sekian dekade ke depan bukan karena ‘Electricity For A Better Life’[8] melainkan karena PLNKerja, Kerja, Kerja’!

          Inilah sekelumit harapan seorang mahasiswa yang menjadi ‘korban’ listrik byar-pet. Eh, konon itu (sudah) menjadi cerita lama kini.

Referensi:

Dahlan Iskan Ganti Slogan PLN Jadi Bekerja Bekerja Bekerja http://finance.detik.com/read/2011/10/06/194504/1738549/1034/dahlan-iskan-ganti-slogan-pln-jadi-bekerja-bekerja-bekerja  Diakses 27 September 2012.

 

Dewi Aryani ; Anggota Fraksi PDI Perjuangan; Ketua PP ISNU, Kemana Arah Listrik Kita? Di dalam Koran SINDO 07 September 2012.

Indonesia's PLN eyes $1 billion investment in coal mines http://www.reuters.com/article/2012/08/14/us-indonesia-coal-pln-idUSBRE87D05W20120814   Diakses 27 September 2012.

Inilah BUMN-BUMN Terbaik 2011

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/12/02/08284285/Inilah.BUMNBUMN.Terbaik.2011  Diakses 27 September 2012.

PLN Jalin Kerjasama Dengan Transparency International Indonesia Dalam Penerapan GCG http://www.pln.co.id/?p=5127  Diakses 27  September 2012.

The International Conference On Futurology 2011. http://www.youtube.com/watch?v=6PTuPnKTeSQ  Diakses 01 Mei 2012.

Wasistho Adji ;  Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Listrik dan Sumber Energi Baru, Di dalam SUARA MERDEKA, 22 Juni 2012.

Zuhal. 2010. Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing. Jakarta: Gramedia.





[1] Dewi Aryani ; Anggota Fraksi PDI Perjuangan; Ketua PP ISNU, Kemana Arah Listrik Kita? Di dalam Koran SINDO 07 September 2012

[2] Inilah BUMN-BUMN Terbaik 2011

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/12/02/08284285/Inilah.BUMNBUMN.Terbaik.2011  Diakses 27 September 2012


[3] Wasistho Adji ;  Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Listrik dan Sumber Energi Baru, Di dalam SUARA MERDEKA, 22 Juni 2012
[4] PLN Jalin Kerjasama Dengan Transparency International Indonesia Dalam Penerapan GCG http://www.pln.co.id/?p=5127  Diakses 27  September 2012

[5] Indonesia's PLN eyes $1 billion investment in coal mines http://www.reuters.com/article/2012/08/14/us-indonesia-coal-pln-idUSBRE87D05W20120814   Diakses 27 September 2012

[6]The International Conference On Futurology 2011. http://www.youtube.com/watch?v=6PTuPnKTeSQ  Diakses 01 Mei 2012.


[7] Zuhal. 2010. Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing. Jakarta: Gramedia.


[8]Dahlan Iskan Ganti Slogan PLN Jadi Bekerja Bekerja Bekerja

Kamis, 20 September 2012

Sebuah Ucapan Terima Kasih


Sebuah Ucapan Terima Kasih

(murni, dibuat untuk memotivasi diri untuk lebih baik)

Mengucapkan terima kasih adalah upaya paling sederhana yang mampu dilakukan individu. Terima kasih adalah upaya untuk sejenak menjadi arif tentang apa yang telah seorang berikan dan kita dapatkan dengan tidak mudah. Sebuah upaya pembuktian diri pribadi. Jangan ditanya caranya menang. Tanya aja berapa kali kalahnya. Dan berapa kali ikutan lomba sejenis via blog (Eh, pertanyaan ini juga nggak akan saya jawab, karna nanti bikin sedih, yaudah jangan tanya aja. :P ).

Ucapan terima kasih ini pertama untuk diri saya yang, terima kasih, selalu gila dalam setiap hal. Kedua, untuk pemberi hadiah yang saya dapatkan. Sambil berkaca kaca saya bilang, ini sudah lama saya impikan. Maaf sedikit emosional. Sobat dekat pasti tahu alasannya. Terima kasih untuk yang ngasih rute ke Jl. Prof. Dr. Satrio (Dengan bangga dikatakan: Hei akhirnya menembus keruwetan Tebet!! :) )

Ini perangkat multimedia pertama saya yang saya dapat tidak dengan mudah dan tidak dengan biasa. Harga yang harus dibayar adalah: sebuah ulasan. Kala itu, Vivanews yang akan bergerak dengan semangat barunya mengadakan kompetisi untuk ulasan desain situs terbarunya. Peserta disediakan bahan untuk ulasan yang dapat dipilih, bisa tentang desainnya, atau tentang konten, atau teknologi serta apa pun yang menarik, namun tidak diperkenankan kombinasi dari dua atau lebih hal tersebut.

Waktu itu saya pilih ulasan tentang kontennya. Saya tertarik dengan kontennya karena memang saya lihat ada yang baru dan layak untuk diketahui banyak orang. Kedua, alasan dipilih konten sebagai bahan primer ulasan bertajuk ‘Wajah Baru Viva’ adalah karena saya termasuk pengulas (reviewer) awam yang bahkan tidak geek masalah teknologi, desain, maupun teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Saya hanya seorang pengulas awam.



Hal yang menarik yang saya jadikan senjata utama dalam review saya adalah keberadaan fitur ‘Socio’ dan segmentasinya di halaman utama. Selain itu, tentang keberadaan iklan di bagian halaman situs. Ini saya anggap sebagai gebrakan baru karena memang saya lihat berbeda dari beberapa situs atau portal sejenis. Apalagi, saya juga memiliki beberapa akun di beberapa situs atau portal berita sejenis, yang menurut saya, selalu mengganggu di bagian segmentasinya.


Namun, dalam kompetisi ini ada satu hal yang saya ambil dari pemenang utama. Bahwa, ini adalah ulasan, dan blunder yang saya buat adalah kurangnya komparasi dengan situs sejenis. Tapi tetap hamdalah dengan hadiahnya.  Ohya, terima kasih (lagi) untuk pemberi hadiah. Kantor anda KEREN BANGET! A geek guy with his Mac over the corner, another folks are stumbled in front of his gadget while wacthing 'Pemanggilan Jusuf Kalla, langsung dari Gedung DPR RI'. Suka suasana kantor Vivanews. Banyak reporter yg cantik! :D

Semoga dengan menjadi pemenang hasrat menulis selalu dapat menyala! Bahwa, benar kita harus selalu berjuang  untuk mengeluarkan seluruh kemampuan kita. 

Terima kasih. Terima kasih banyak. :)

Royal Society: Mengajak Untuk Tetap Kritis


Royal Society: Mengajak Untuk Tetap Kritis

Source:  brainleadersandlearners.com

Konon, ilmu pengetahuan adalah agen utama dalam mencerdaskan sebuah bangsa di belahan dunia manapun. Konon, ilmu pengetahuan adalah sarana utama untuk menjawab setiap pertanyaan kita tentang kehidupan. Konon juga, ilmu pengetahuan adalah sarana primer yang laik untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. Live long and prosper.

Tiga tigkatan primer dalam hidup tersebut dapat tercapai kalau ilmu pengetahuan, pada hemat saya, tetap diperlakukan sebagai agen utama pengasah rasa kritis (curiosity). Adalah Royal Society, sebuah lembaga nirlaba berbasis sains dan teknologi yang senantiasa mengajak kita untuk tetap kritis. Berbasis di London, Royal Society (RS) beranggotakan banyak saintis yang luar biasa pada eranya.

Motto
Nullius in Verba, menjadi motto utama organisasi ini. Terjemahan bebasnya kira-kira ‘Jangan Pernah Percaya Dengan Apa Yang Dikatakan Orang’. Berdiri pada tahun 1660, RS menjadi salah satu organisasi berbasis riset dan teknologi tertua di dunia. Saat ini, RS dipimpin oleh Sir Paul Nurse. Nurse bukanlah orang biasa karena dia meruapakan salah satu peraih Hadiah Nobel bidang Kedokteran/Fisiologi 2001. Bersama dengan Leland H. Hartwell dan Tim Hunt, Nurse memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran/Fisiologi 2001untuk penemuan mereka terhadap kunci regulator dalam siklus sel.’

Dalam sebuah artikel oleh NYTimes, Nurse bertekad menjadikan RS bertahan dalam gempuran politik yang berusaha untuk menjadikan sains tak berkutik. Pengejahwantahan terhadap motto, terlihat lugas melalui publikasi jurnal oleh RS. Bahwa, teruslah berkarya dan jangan percaya dengan apa yang dikatakan orang (sebelum kamu membaca atau membuktikan sendiri, melalui sains tentunya-kiranya seperti itu upaya RS).

Anggota RS mayoritas adalah para peraih Hadiah Nobel dan/atau peraih penghargaan tertinggi lainnya bidang sains. Secara berkala, RS menerbitkan jurnal antara lain, The Philosophical Transactions dan Proceedings of the Royal Society.

Melalui, RS setidaknya kita diajak untuk tetap kritis dan selalu mempertahankan rasa ke-ingintahu-an kita. Sedikitnya ilmuwan hebat sepanjang sejarah tercatat sebagai anggotanya, yaitu Newton, Christopher Wern, dan Robert Boyle.

Suatu ketika, Newton berkata: “Jika saya mampu melihat sedikit lebih jauh daripada yang lain itu karena saya berdiri di bahu para raksasa.”
Salam, dahaga sains, Nullius in Verba...