Selasa, 31 Juli 2012

Kearifan Seorang Pendidik (2)


Menjadi seorang pendidik awalnya adalah impian saya. Dulu, ingat pernah menyatakan keinginan itu kala seorang guru Bahasa Indonesia SMP bertanya tentang cita-cita. Tanpa ragu saya jawab: guru. Awalnya ingin menjadi seorang pendidik karena terinspirasi cara beliau mengajar. Beliau adalah Muji Prawisto. Apa kabar, Pak? :)

Namun, menjadi pendidik kala itu mungkin masih menjadi hal yang murba untuk dijadikan sebagai cita-cita. Secara bersahaja, beliau menjawab agar saya jangan menjadi guru. Susah. Begitu beliau menjawab. 

Hasrat untuk menjadi guru bukan menjadi sebuah prioritas pada waktu itu. Prioritas primer adalah tentang menggapai ilmu setinggi-tingginya. Toh, pada akhirnya ilmu yang telah didapatkan harus dibagikan agar menjadi ilmu yang bermafaat. Menjadi serang pendidik, bukanlah hanya menjadi seorang guru, an sich. Seperti kata Anies Baswedan, menjadi pendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Perjalanan Bintang 
Mengenai semangat untuk menjadi seorang pendidik, adalah spesialisasi seorang teman. Teman yan begitu progresif sehingga untuk menyebarkan semangatnya untuk berbagi ilmu, dia ‘harus’ menyeberang melintasi samudera menuju Krasnoyarks, Siberia, Russia. Melalui salah satu skema program pertukaran pelajar yang luar biasa, di sana dengan skian banyak peserta ynag beruntung dari belahan Bumi berbeda, dia saling berbagi ilmu tentang kepengajaran. 

Dalam laman blog pribadinya, cerita tentang semangat untuk mendapatkan visi yang berbeda tentang keadaan negeri begitu mengalir dalam. Bahwa Perjalanan Bintang itu kiranya memang harus ditempuh dengan jerih payah. Ad Astra per Aspera.

Semangat yang sama ditunjukkan oleh Gita Wirjawan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengenai kualitas bangsa Indonesia. Menurut beliau, pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Dengan segala dukungan yang ada tak bisa dipungkiri akan ada para peraih Hadiah Nobel yang berawal dari Indonesia. Semangat untuk mendidik dan berbagi ilmuharus senantiasa dipupuk dalam hati. 


Masih menurut Gita Wirjawan. Indonesia kini sedang berada dalam kondisi optimalnya dengan jumlah penduduk angkatan usia produktif. Hal ini menjadikan Indonesia sedang menikmati sebuah keadaan, yang dideskripsikan oleh para ahli demografi maupun ekonom sebagai bonus demografi. 

Pada Konferensi Internasional tentang Futurology (International Conference on Futurology), Gita Wirjawan mencoba mengejahwantahkan keunggulan bonus demografi daris egi ekonomi, kapital, dan pengembangan negara secara lugas. Bangsa yang cerdas, cergas, dan ulet akan mampu membangun negerinya. Hal ini seperti mengarifi kembali apa yang telah dilakukan oleh Dinasti Syailendra dan kerajaan Majapahit pada zaman dahulu.

Edukasi
Berawal dari semangat dan ‘motivasi tak disengaja’ oleh guru saya tersebut, saya bis amenatap tulisan keren ini di Bogor. Bahwa kegatan mengarifi kemabli kalimat ‘mendidik adalah tugas setiap orang terdidik’ melecut diri untuk menjadi salah satu orang terdidik di zamrud khatulistiwa ini.

Bogor yang merupakan bagian sentral dari ‘Jabodetabek’ memiliki peran sentralnya dalam pendidikan, khususnya pendidikan pertanian. Institut Pertanian Bogor adalah salah satu perguruan tinggi (PT) yang dengan lugas membicarakan masalah primer sebuah bangsa, yaitu pertanian. Pertanian yang merupakan bagian integral dari kebudayaan leluhur bangsa merupakan poin sentral dalam membangun sebuah bangsa. 

Di sini para kandidat pemuda pemudai terdidik, pemuda pemudi terbaik bangsa akan menemukan makna sesungguhnya dari kearifan seorang pendidik. Bogor yang hanya ‘selemparan’ batu dari Ibu Kota masih menyimpan kengerian ketidakberhasilan pendidikan di negeri ini. Hanya dengan jarak ‘selemparan’ batu pula, di Bogor dapat ditemukan dengan mudah kantong-kantong kemiskinan. Kemiskinan adalah hal ihwal terhentinya kegiatan mendidik di negeri ini secara perlahan.

Kamis, 26 Juli 2012

Kearifan Seorang Pendidik (1)




“Ad Astra per Aspera.”

Sejauh mana keberhasilan sebuah negara dalam sebuah percaturan sosial-ekonomi dunia? Sejauh mana ketangguhan sebuah negara berdiri di antara negara lain? 

Dua bentuk pertanyaan yang tak sederhana. Negara selalu terkait erat dengan kemajuan atau kemunduran bangsanya. Dalam praksisnya, pendidikan selalu menjadi lagkah primer dalam meraih kemajuan sebuah negara. Keruntuhan Jepang dalam peperangan dibayar dengan lugas melalui pendidikanya. Melalui Restorasi Meiji, Jepang mampu menjadi pemain besar dalam perekonomian dunia. Sebelum disalip oleh China pada 2011, Jepang menjadi kekuatan ekonomi dunia terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS).

Pendidikan juga menjadi faktor pengubah primer banyak negara di dunia ini. Berawal dari China dengan jumlah lulusan perguruan tinggi (PT) yang melimpah setiap tahunnya. India menjadi ‘pengekspor’ insinyur dan ahli teknologi informasi (IT) terbanyak di seluruh dunia. Brasil mengiringi di belakang India. Brasil mampu mengguncang dunia dengan terobosannya dalam ketahanan pangan dan energi terbarukan berkat pendidikan. Tiga negara tersebut, bersama dengan Rusia dan Afrika Selatan bergabung dalam satu konstelasi ekonomi primer di dunia, BRICS. 

Konstelasi ekonomi, sosial, dan politik dalam BRICS berawal dari satu kesamaan. Kelima negara tersebut menyadari pentingnya pendidikan dalam sebuah negara. Kelima negara tersebut tidak menjadikan kekurangan sumber daya alam (SDA) sebagai sebuah hambatan dalam kemajuan negara. Dewasa ini, isu tentang keberlimpahan sumber daya alam bukanlah menjadi sebuah faktor mutlak kemajuan sebuah negara. Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN), Zuhal, dalam bukunya Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing (2010) menyebutkan bahwa, riset dan edukasi sangat memengaruhi kekuatan dan keunggulan suatu negara. 

Buku tersebut menyoroti dengan lugas pentingnya modal sumber daya manusia (SDM) pada sebuah negara. Modal SDM menjadi keunggulan utama Singapura, Finlandia, dan Korea Selatan dalam kemajuan ekonomi. Sumber daya manusia yang unggul pada sebuah negara akan mampu menjadi agen perubahan primer melalui fusi antara pemerintah, industri dan perguruan tinggi (PT).

Pengajar Muda
Menjadi pengajar di negeri ini awalnya adalah tentang sebuah tantangan. Pengajar di negeri ini masih belum menjadi profesi pada strata tertinggi. Jelas, menjadi pengajar adalah pilihan murba setelah cita-cita menjadi seorang dokter, pilot, dan/atau arsitek.

Adalah seorang Anies Baswedan yang hadir dengan gebrakannya yang bersahaja. Melalui Gerakan Indonesia Mengajar, Rektor Universitas Paramadina ini meredefinisi makna seorang pendidik secara lugas dan bersahaja. Menjadi pendidik adalah sebuah upaya pencerdasan bangsa secara primer. Jujur, beliau adalah panutan saya dalam mengejar tingkatan-tingkatan tertinggi dalam jenjang perguruan tinggi (PT). 


Gerakan Indonesia Mengajar telah melahirkan banyak agen-agen perubahan bangsa dengan laik. Para Pengajar Muda-sebutan untuk orang yang beruntung mengajar di pelosok negeri- berhasil mengisnpirasi masyarakat sekitar melalui kegiatan mengajar. Para Pengajar Muda dengan lugas dan tegas bersedia meninggalkan sleuruh zona nyaman yang sudah direngkuhnya. Zona nyaman yang memang dicari segera setelah menyelesaikan jenjang pendidikan di perguruan tinggi. 

Para Pengajar Muda bukanlah orang kelas minoritas dengan kemampuan akademis di bawah rata-rata. Menjadi pendidik membutuhkan kompetensi yang laik. Menjadi pendidik juga berarti menyiapkan pemimpin masa depan (our future leaders) yang memiliki kompetensi yang laik (world class competence) serta pemahaman akan budaya lokal dan kearifannya (grass-root understanding). Menjadi pendidik adalah sebuah upaya kontemplatif untuk mengarifi kontribusi kita. Sejauh mana pendidikan telah menyelamatkan negara ini.

Sekian banyak kandidat terpilih Pengajar Muda adalah orang orang dengan predikat lulus ‘Cum Laude’ dari ITB, Unpad, dan berbagai perguruan tinggi terbaik lainnya. Sebagaian bahkan sudah berkarir nyaman di kota besar sebagai manajer di perusahaan multinasional. Sebagian lainnya bahkan sudah berkarir dengan tepat di Singapura. 

Melalui pesannya yang tersampaikan melalui TEDx Jakarta, beliau Anies Baswedan, mencoba menyalakan lagi semangat para pemuda negeri ini. Hal yang sama selalu beliau smapaikan melalui media sosial, seperti Twitter. Secara lugas melalui akun Twitternya (@aniesbaswedan), beliau mengajak untuk ‘menyalakan lebih banyak lilin’ selain melenguh tentang kegelapan. 

Video beliau kala berbagai semangat tentang gerakan mendidik bangsa ini adalah video favorit yang selalu saya putar ulang. Kontemplasi diri akan keterpurukan selalu dapat sirna begitu menonton video tersebut. Bertajuk ‘Lighting Up Indonesias Future’, Anies Baswedan secara arif mengajak semua pemuda-pemudi negeri ini untuk bangkit dan melakukan gerakan pendidikan bagi bangsa. 
Mencapai bintang dengan jerih payah

Satu kalimat yang terinspirasi dari peribahasa Latin di atas. Bahwa untuk mencapai bintang harus dengan jerih payah. Kiranya hal itulah yang mendasari terciptanya Pengajar Muda melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Para pendidik tangguh telah ditempa dengan progresif tentang kepemimpinan, dan kepengajaran pendidikan. Para Pengajar Muda tidaklah ditempatkan di sekolah terkeren dan terlaik di setiap daerah. Lokasi mengabdi selama setahun adalah lokasi yang belum tentu ada air mengalir, listrik, dan sudah pasti jauh dari hiruk pikuk kota. 

Menaklukkan tantangan selama setahun menjadikan setiap pribadi beruntung di Pengajar Muda sebagai pribadi yang kaffah. Pribadi unggul yang memang dibutuhkan Ibu Pertiwi. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Anies Baswedan “...Hadirnya kalian menunjukkan bahwa Ibu kita masih melahirkan pejuang..

Anies Baswedan secara lugas menyebut para Pengajar Muda sebagai pahlawan. Pejuang tangguh penentu masa depan negeri. Gerakan Indonesia Mengajar dan Para Pengajar Muda mengarifi kembali apa yang telah dilakukan Bapak Bangsa Indonesia. “...Soekarno-Hatta memiliki seluruh pilihan untuk mereka hidup nyaman bagi dirinya, bagi keluarganya, dan mereka tinggalkan semua itu untuk mengusahakan kemerdekaan bagi bangsa. Kalian memiliki  seluruh kesempatan untuk berkarir nyaman di kota-kota besar..” 

Program Indonesia Mengajar bukan hanya tentang menjadi guru. Gerakan Indonesia Mengajar adalah tentang menebarkan optimisme. Keberadaan para Pengajar Muda di pelosok negeri adalah untuk menjadi inspirasi. Gerakan ini adalah mengenai potensi negeri yang belum tergali secara maksimal. Tugas mendidik bukanlah menjadi tugas para guru di sekolah atau pemerintah. “Mendidik adalah tugas tiap orang terdidik. Siapa saja bisa menjadi guru. Siapa saja bisa menjadi seorang pendidik.”, ujar Anies. 


Dengan cara yang bersahaja, Anies Baswedan telah mnegajak kita semua untuk mneyalakan lebih banyak lilin. Mengarifi kembali gerakan pendidikan di Indonesia. Bahwa pendidikan adalah motor penggerak primer kemajuan bangsa. Jelas saya sangat terinspirasi. Jiwa pendidik, saya rasa ada pada setiap orang di negeri ini. Masalahnya adalah sejauh mana semangat dan jiwa pendidik itu bermanfaat bagi semua. Bahwa benar menjadi pendidik adalah tugas seorang pendidik. Bahwa laik dan tepat kiranya Ibu kita masih melahirkan pejuang. Bahwa pejuang itu adalah dia yang menggapai bintang dengan jerih payah. 

Ferry Gunawan
Mahasiswa Program Diploma 3 Program Keahlian Perkebunan Kelapa Sawit
Program Diploma Institut Pertanian Bogor


Keberlanjutan Industri Kelapa Sawit Di Indonesia


Pertanian adalah tentang hidup dan mati.” Sekiranya itulah pandangan Soekarno tentang sektor pertanian di Indonesia. Pandangan Bapak Pendiri Bangsa Indonesia tersebut kian menemui maknanya kini. Di abad ke-21 ini, Bumi kian sesak dengan populasinya yang mencapai 7  miliar jiwa. Tujuh miliar jiwa populasi yang kian kompleks manakala terjadi friksi dengan isu ketahanan pangan.

Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam tinggi adalah salah satu pemain besar dalam sektor pertanian (agriculture) khususnya perkebunan kelapa sawit. Pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia masih belum maksimal. Menjawab berbagai tantangan dalam industri kelapa sawit,  Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, mengadakan kegiatan seminar dan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara IPB dan Cargill.

Acara tersebut juga dihadiri oleh beberapa pihak yang terdiri dari perwakilan para mahasiswa, dosen, dan media. Perwakilan mahasiswa dari Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH), Fakultas Pertanian IPB serta mahasiswa dari Program Keahlian Perkebunan Kelapa Sawit Program Diploma IPB tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. 

Rangakaian acara pada hari Rabu, 18 Juli 2012 tersebut dimulai pukul 14:00 dengan agenda pertama adalah Peresmian Kerjasama IPB-Cargill dalam membangun kebun pendidikan kelapa sawit. Nantinya, kebun pendidikan (teaching farm) yang akan berlokasi di Kecamatan Jonggol, Bogor, akan menjadi kebun pendidikan kelapa sawit pertama di Indonesia dengan luas 50 hektar. Sebagai bentuk kerjasamanya, Cargill memberikan dana sebesar 2,335 milyar rupiah. 

Dalam sambutannya, Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto menyatakan bahwa, kerjasama tersebut dilandasi atas misi utama IPB dalam mengembangkan pertanian tropika. “Misi utama IPB dalam mengembangkan pertanian tropika selaras dengan kemitraan dengan Cargill. Diharapkan bahwa, nantinya teaching farm di Jonggol mampu menerapkan konsep Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dengan baik sehingga mampu menjadi sarana pembelajaran.” Ujar Rektor IPB dihadapan para undangan.




Kegiatan peresmian berakhir dengan penyerahan MoU antara IPB dan Cargill. Dalam sambutannya, Angeline Ooi, Chief Executive Officer (CEO) Cargill Tropical Palm Holdings mengatakan, “ Pembangunan kebun pendidikan  (teaching farm) kelapa sawit adalah untuk meningkatkan pembelajaran tentang kelapa sawit. Mahasiswa diharapkan mampu memahami kaitan antara industri dan mahasiswa itu sendiri. Permintaan minyak kelapa sawit yang terus naik harus diiringi dengan keberlanjutan biodiversitas. Keberlanjutan dalam kegiatan pertanian adalah salah satu caranya. Sehingga pada akhirnya mampu mengurangi kemiskinan.

Prospek Global Industri Kelapa Sawit
Kegiatan yang menarik lainnya pada hari itu yang menjadi agenda kedua adalah talk show mengenai “Prospek Global Pengembangan Kelapa Sawit pada Masa Depan.” Para narasumber yang memnag berkompeten di bidanganya mencoba ‘menguliti’ satu per satu permasalahan kelapa sawit di Indonesia yang kian kompleks.

Kekompleksan industri kelapa sawit di Indonesia yang pertama adalah tentang aspek produksinya.. Kuantitas produksi kelapa sawit sebesar 17,7 juta ton belum mampu terserap pada industri hilir dengan maksimal. Sebanyak 11,7 juta ton diantaranya diekspor sebagai minyak mentah (crude palm oil/CPO). Hal tersebut diakui oleh moderator, Dr. Ir. Arief Daryanto, karena memang terjadi kelebihan produksi yang mampu ditampung oleh pasar dalam negeri. 

Tercatat sebagai pembicara talk show adalah Prof. Dr. Ir. Sudirman Yahya dari IPB, Anthony Yeow dan Ong Kee Chau dari Cargill, Prof. Dr. Ir. Endang Gumbira Sa’id dari Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI), Menteri Pertanian yang berhalangan hadir diwakili oleh Dr. Rismansyah selaku Direktur Tanaman Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Permasalah kedua, menurut Dr. Arief Daryanto, adalah “Isu-isu negatif tentang kelapa sawit seperti pemanasan global, kerusakan sumber daya alam, dan kesehatan, yang terus mengekskalasi dan mengancam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia ke depan.” Prof. Dr. Ir. Sudriman Yahya yang memang menekuni dunia perkelapasawitan di IPB menekankan pentingnya ‘kaderisasi’ pemuda Indonesia yang kompeten guna mejawab prospektifnya industri kelapa sawit di Indonesia. 

Masa Depan Industri Kelapa Sawit Di Indonesia


Masa Depan Industri Kelapa Sawit Di Indonesia
Oleh
Ferry Gunawan
Mahasiswa Program Diploma 3 Program Keahlian Perkebunan Kelapa Sawit
Program Diploma Institut Pertanian Bogor

Permasalahan ketahanan pangan adalah permasalahan kompleks setiap bangsa. Dalam skala mikro, hal itu terlihat jelas dengan semakin banyaknya kebutuhan pangan di suatu negara. Pada aras yang lain, pada skala makro, Bumi yang kian renta dengan populasinya yang mencapai tujuh miliar jiwa menambah kekompleksan masalah ketahanan pangan.

Sektor pertanian adalah sektor sentral  untuk semua persoalan ketahanan pangan regional maupun internasional. Dalam hal ini, Indonesia dengan kekayaan alam yang sangat beragam memiliki kans menjadi pemain utama, khususnya dalam industri kelapa sawit. Permintaan akan produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) maupun produk olahannya meningkat dari tahun ke tahun. 

Permintaan dunia akan minyak sawit dan olahannya harus diimbangi dengan keberlanjutan lingkungan akibat konversi lahan menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Hal ini secara lugas harus menjadi fokus utama Indonesia sebagai pemain utama dalam sektor pertanian khususnya perkebunan kelapa sawit. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa, konversi hutan menjadi areal perkebunan kelapa sawit kian masif. Di pihak lain, kesuburan tanah dan ketersediaan air yang melimpah menjadi faktor utama dipilihnya areal hutan untuk dikonversi.

Kiranya hal itulah yang menyebabkan luas tutupan areal hutan di Indonesia berkurang. Laporan Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) Indonesia tahun 2010 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan hal tersebut dengan lugas. Kecenderungan persentase tutupan hutan di Indonesia sejak tahun 1990 hingga tahun 2008 mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 1990 persentase luas tutupan hutan di Indonesia mencapai 59,97 persen. Hal ini jelas merupakan penurunan drastis karena pada tahun 2008, luas tutupan hutan di Indonesia ‘hanya’ 52,43 persen. Eksesnya adalah mayoritas indikator pada target ketujuh dari MDGs yaitu ‘Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup’ cenderung berstatus ‘akan tercapai’ dan ‘perlu perhatian khusus’.

Kerusakan lingkungan
Sebagai ladang bisnis yang padat karya (high returns) dan sangat prospektif untuk Indonesia, kelapa sawit sejatinya mempunyai banyak sekali hambatan dalam pengembangannya. Sejak awal pegembangan, kelapa sawit sudah menemui kendala dari banyaknya isu-isu negatif mengenai kegiatan industrinya dari hulu hingga hilir. Tantangan primer jelas sekali mengenai kerusakan lingkungan, pemanasan global, terancamnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya risiko kesehatan akibat asupan minyak yang berlebihan. 

Secara primer, kelapa sawit memiliki lima fungsi (5F). Pertama adalah kelapa sawit sebagai sumber makanan (food). Hal ini secara lugas tecermin dari kontribusi minyak sayur di dunia yang cukup signifikan. Fungsi kedua adalah kelapa sawit sebagai sumber bahan baku pangan (feed), kelapa sawit sebagai sumber pupuk (fertilizer), bahan bakar (fuel), dan yang terakhir adalah kelapa sawit sebagai sumber pendapatan (financial instrument). Pelbagai fungsi tersebut menyebabkan industri kelapa sawit sangat prospektif di Indonesia.

Isu kerusakan lingkungan akibat kegiatan perkebunan kelapa sawit haruslah menjadi fokus utama para pengusaha. Keberlanjutan lingkungan dan kemajuan industri harus selalu berjalan seiring. Hal tersebut sesuai dengan amanat dari Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Program/UNEP) melalui konsep ekonomi hijau yang aplikatif. UNEP mengajak kita turut serta secara inklusif dalam kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Berdasarkan hal itu, maka bukan menjadi sebuah fokus utama konversi hutan menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Dewasa ini fokus utama adalah memanfaatkan lahan marjinal untuk areal perkebunan kelapa sawit.

Hal tersebut setidaknya terjawab melalui konsep Kelapa Sawit Indonesia yang Bekelanjutan (Indonesia Sustainable Palm Oil/ISPO). Perusahaan yang berkecimpung pada perkebunan kelapa sawit harus menerapkan konsep agar keberlanjutan lingkungan terjaga seiring kemajuan ekonomi. Konsep tersbut juga selaras dengan program pemerintah melalui MP3EI. Dengan adanya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, fokus pengembangan ekonomi Indonesia akan terarah. Melalui MP3EI, Indonesia akan terbagi menjadi enam koridor ekonomi primer. Fokus utama pengembangan industri perkebunan kelapa sawit ada pada Koridor Ekonomi Sulawesi. 

Riset 
Riset kelapa sawit mutlak diperlukan agar tercipta produk yang kompetitif dan mampu bersaing di pasar regional maupun internasional. Mata rantai industri kelapa sawit yang panjang pada sektor hulu hingga hilir harus diputus. Kelapa sawit yang menyejahterakan masyarakat berawal dari riset yang komprehensif tentang pasar dan pengembangan produk kelapa sawit.




Dalam seminar bertajuk “Prospek Global Pengembangan Kelapa Sawit Pada Masa Depan” oleh IPB dan Cargill, diketahui bahwa paten Indonesia pada kelapa sawit sangat rendah. Prof. Dr. Ir. E. Gumbira Sa’id memaparkan bahwa, dalam skala global, Indonesia tak masuk 10 besar. Hal ini sangat bertolak belakang jika dilihat dari angka produksi kelapa sawit Indonesia yang luar biasa melimpah. Produksi minyak sawit Indonesia mencapai 17,7 juta ton. Kuantitas sebesar itu harus ‘direlakan’ 11,7 juta ton untuk diekspor dalam bentuk minyak mentah.

Melimpahnya ekspor minyak mentah merupakan ladang riset bagi para peneliti. Tercatat 10 besar pemegang paten kelapa sawit berdasarkan analisis oleh M. Hendra Wibowo dan E. Gumbira Sa’id adalah The Procter&Gamble Company, Unilever PLC, Unilever N.V, L’Oreal, DSM IP Assets B.V, Nestec SA, Colgate-Palmolive Company, Societe Des Produits Nestle S.A, Cargill Incorporated, dan The Librizol Corporation. 

Sementara itu pada tingkat ASEAN pada tahun 2011, Indonesia berada pada urutan keempat untuk paten kelapa sawit. Jumlah paten tentang kelapa sawit Indonesia hanya tiga buah dengan kontribusi persentase pada dunia hanya 0,04 persen dan 2,50 persen pada tingkat ASEAN. Hal itu jelas kalah jauh dari Malaysia yang memiliki 79 paten dengan kontribusi paten 1,06 persen untuk tingkat global dan 65,83 persen untuk tingkat regional ASEAN. 

Pada akhirnya, keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia adalah fokus utama semua elemen masyarakat. Kelapa sawit yang akan maju dengan riset komprehensif atau terhenti karena isu-isu negatif menjadi tanggung jawab semua pemangku kepentingan. Hal tersebut seperti memaknai kembali apa yang telah diucapkan Soekarno lebih dari lima dekade lalu bahwa, “Pertanian itu tentang hidup dan mati.”

Tulisan yang awalnya dikirim untuk media nasional sebagai cara diri memenuhi target pribadi. Masih terus belajar menulis dengan laik dan benar. :) (@ferryg1)

Minggu, 22 Juli 2012

Hikmah Ramadan: Negara yang Membunuh Rakyatnya


Hikmah Ramadan:
Negara yang Membunuh Rakyatnya
M Bashori Muchsin ; Guru Besar dan Direktur Program Pascasarjana
Universitas Islam Malang
MEDIA INDONESIA, 20 Juli 2012

Tulisan keren di Media Indonesia. Disitat dari blog yang berisikan tulisan-tulisan keren! :)

BENARKAH negara bisa membunuh dan membantai rakyatnya? Kalau bisa, kapankah suatu negara bisa dikategorikan sebagai `kriminal' keji atau pembunuh atas rakyatnya? Dengan modus apakah negara bisa membunuh dan membantai rakyatnya?
Kranenburg, pakar di bidang politik ketatanegaraan dan penganut teori negara kesejahteraan, menyatakan tujuan negara bukan sekadar memelihara ketertiban hukum, melainkan juga aktif mengupayakan kesejahteraan warganya. Kesejahteraan yang dimaksudkannya itu meliputi berbagai bidang yang luas dengan berlandaskan kesederajatan.

Kalau suatu negara sampai tidak berusaha maksimal menyejahterakan rakyatnya, negara itu layak dikategorikan melakukan kejahatan bertajuk kejahatan melawan kemanusiaan (crime against humanity), manakala akibat ketidakseriusan atau pengabaiannya itu, banyak rakyat yang kehilangan (tercerabut) hak keberlanjutan hidupnya.

Banyak cara yang dibuat elemen negara untuk membunuh rakyat. Membunuh seseorang atau sejumlah orang dari rakyat tidak selalu dengan cara langsung seperti mencekik atau menusuk dengan senjata. Caranya bisa melalui kebijakan represi yang bercorak dehumanisasi, menghambat dan menyumbat mengalirnya sumber daya strategis bangsa yang bermaksud mengairi (memenuhi) dan menyejahterakan atau menjaga keberlangsungan hidupnya, minimal dari ranah pemenuhan hak pangan atau kebutuhan ekonomi sehari-harinya.

Apologi yang Salah

Di negeri ini, pola pembunuhan rakyat sudah demikian sering dilakukan negara. Memang banyak elemen negara yang menolak atau tidak mau digolongkan sebagai pembunuh warga (rakyat). Mereka berapologi tangan mereka tetap bersih dari lumuran darah rakyat. Mereka bahkan menyebut diri sebagai kelompok strategis yang bertanggung jawab yang sudah menunjukkan perannya sebagai abdi negara yang mengabdi total pada rakyat.

Apologi itu jelas salah karena praktik pengabaian, pembiaran, dan bahkan 
pengkleptokrasian yang dilakukan sejumlah elite negara telah mengakibatkan kemiskinan di berbagai pelosok Tanah Air. Mereka menjadi korban ‘pembunuhan’ yang dilakukan elite negara yang bermental serakah atau yang sibuk me ngumpulkan dan menimbun kekayaan sebanyak-banyaknya.

Dalam ulasan tajuk Media Indonesia (7 Juli 2012) disebutkan, kemiskinan punya dampak begitu mengerikan. Tidak hanya bisa memicu manusia menjadi maling demi menyambung hidup, kemiskinan ternyata juga mampu mendorong seseorang bunuh diri untuk mengakhiri hidup. Misalnya lantaran tak kuasa menahan impitan ekonomi, Markiah nekat menjemput kematian dengan menceburkan diri ke Sungai Cisadane, Bogor. Tragisnya lagi, janda asal Serang, itu tidak bunuh diri sendirian, tetapi mengajak mati buah hatinya (Salman) yang berumur tiga tahun.

Nasib Markiah sungguh memilukan. Ia bukan orang pertama yang bunuh diri karena miskin. Pada 11 Agustus 2010, Khoir Umi Latifah melakukan hal serupa membakar diri bersama dua anaknya. Kemudian, pada 25 Oktober 2011, Suharta dan putranya tewas setelah gantung diri di Riau. Jauh sebelumnya, seorang ibu dan empat anaknya di Malang mengambil jalan pintas dengan menenggak racun potasium. Ia memilih mati. Ia menyerah melawan kemiskinan yang kejam mendera dirinya.

Pemerintah lebih sering atau selalu membanggakan keberhasilan menurunkan angka kemiskinan. Pada Senin (2/7), Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan warga miskin telah berkurang 890 ribu jiwa. Pada Maret 2011, warga miskin berjumlah 30,1 juta jiwa dan pada Maret 2012 turun 0,53% menjadi 29,13 juta orang. Pemerintah memang berhak terpukau oleh angka-angka yang resmi dirilis BPK ini, tetapi fakta menunjukkan kondisi riilnya bersifat paradoksal. Angka jauh dari mencerminkan fakta.

Momentum Sakral

Pengabaian, pembiaran, hingga pengkleptokrasian yangdilakukan (elemen) negara itu memang merupakan rangkaian bentuk pembunuhan yang menimpa rakyat. Kasus bunuh diri tidak sebatas dibaca sebagai eksaminasi moral dan ketauhidan manusia yang bunuh diri, tetapi sebagai eksaminasi moral dan keimanan setiap pemimpinnya, yang masih gagal menjalankan peran kepemimpinan yang `menghidupkan', menyelamatkan, dan menyejahterakan rakyatnya.

Kehadiran Ramadan sejatinya merupakan momen tum menyakralkan peran kepemimpinan elemen negara dalam relasinya dengan rakyat. Di bulan ini, idealnya para pemimpin mencari segala jenis baksil yang selama ini menyerang dan membunuh rakyat mereka.

Pemimpin kita selama ini memang hanya fasih berucap, bersilat lidah, berkilah, dan bermain-main apologi demi membenarkan atau menahbiskan dirinya, sementara kemaslahatan masyarakat tidak dicintainya. Komunitas elite itu merupakan deskripsi sosok pemimpin yang tidak berbeda dengan pengkhianat dan `penjagal' hak-hak masyarakat. Mereka tidak benar-benar `berpuasa' dari ketidakadilan struktural atau praktik praktik yang bercorak penyalahgunaan kekuasaan.

Mereka itu gemar jadi `pengutip' atau pemalak atas hak-hak orang kecil, menyalahalamatkan atau ‘menyunat’ bantuan operasional sekolah, membengkakkan harga raskin, membuat biaya birokrasi mahal, menjarah bantuan bencana alam, atau berbagai kepentingan masyarakat dikonversi (dirampok) supaya jadi hak pribadi, partai politik, dan kroni.

Pemimpin negeri ini hanya memperlakukan diri dan kelompoknya jauh melebihi kepentingan riil masyarakat. Syahwat memiliki, merampas, menjarah, dan menguasai dibiarkannya menjadi kekuatan yang mendorong dan menentukan gerak liberal dan serbapermisif (het doel heiling de middelen) yang melahirkan berbagai bentuk keprihatinan di berbagai bidang kehidupan fundamental.

Bagaimana bisa dikatakan hati pemimpin negeri ini bersinarkan cahaya cinta pada masyarakat dan ‘berpuasa’ kalau masyarakat atau tetangga yang lokasinya hanya beberapa meter dari kantor pemerintahan daerah saja dibiarkan tidak terurus sehingga mereka terpaksa mengambil profesi menjadi pengemis instan?

Komunitas elite yang menyebut diri sebagai pemimpin Indonesia sangat pintar menabur janji atau mengobral pernyataan yang membius dan menyesatkan masyarakat, yang menggiring masyarakat meyakini atau memercayainya.

Sayangnya, janji itu tidak pernah mereka buktikan dalam kinerja atau dinihilkan dari komitmen struktural mereka. Padahal, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan, “Keadilan (kecintaan) seorang pemimpin lebih utama seribu kali jika dibandingkan dengan ibadah ahli ibadah.”

Selama ini, masyarakat lebih sering mendapatkan kosakata yang tersusun menarik di atas kertas atau melalui pidato-pidato bombastis ketika kampanye, kunjungan kerja, dan pertemuan-pertemuan resmi para pemimpin, yang tidak pernah diaplikasikan dalam kehidupan riil masyarakat.

Bunuh diri yang dijadikan opsi sejumlah orang akibat kemiskinan berlarut yang menimpa mereka merupakan bukti bahwa pemimpin kita belum ‘berpuasa sejati’ dari syahwat memburu kemapanan dan kenyamanan eksklusif kekuasaan. Mereka masih lebih menahbiskan kecintaan pada dirinya sendiri, kroni, dan partainya jika dibandingkan dengan memikirkan kepentingan riil rakyatnya.

Mereka sebenarnya masih ingin menikmati hidup lebih lama di Bumi Pertiwi ini, tetapi akibat pemimpinnya yang bermental menihilkan komitmen kerakyatan atau tidak ‘memuasakan’ egoisme dan ambisi pribadi dan kelompok eksklusifnya, baginya, melanjutkan hidup di antara hati pemimpin yang sudah tuli tidak ada artinya lagi.

Kalau penguasa kita benar-benar sudah berpuasa sejati seperti yang didoktrinkan Nabi Muhammad, tentulah penguasa itu meneladaninya, seperti sabdanya, “Tempat terbaikku ialah orang-orang kecil dan orang-orang yang kalah.” Itu berarti setiap pemimpin yang berpuasa berkewajiban menjadikan ‘orang-orang kecil dan orang-orang yang kalah’ sebagai pembuktian amanat kerakyatan mereka dan bukan menjadikan hak-hak publik (orang kecil) sebagai objek pengabaian, pereduksian, dan pengkleptokrasian mereka. ●

Senin, 09 Juli 2012

Maka Kayuhlah Sepedamu!


Sumber gambar http://www.atlantabike.org/starterbikes 




Sepeda diciptakan tidak dengan sebuah kesederhanaan. Namun tetap sederhana. Membumi dan tanpa tendensi untuk disukai banyak kalangan. Bisa dikatakan juga dalam stratifikasinya, sepeda begitu murba. Sepeda jika dicermati mengandung begitu banyak aspek filosofis. Pengalaman bersepeda adalah cetak biru ego diri. Pengalaman bersepeda juga merupakan kilas baik perjuangan menjadi pribadi utuh, unggul, nan bersahaja. Bermula dari semangat bersepeda yang menjelma menjadi nafsu untuk menggapai tingkatan tertinggi dalam hidup. Tingkatan tertinggi yang berawal dari Institut Pertanian Bogor.

Kesahajaan menjadi pribadi pertama kali saya pelajari melalui sepeda. Kami berdua, saling terkait satu sama lain dalam hal kesahajaan. Terhitung sejak tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) kebersamaan erat telah kami jalin. Sepeda dan bersepeda sangat erat dengan aspek kesahajaan. Afirmasi diri yang selalu positif tercipta mana kala bersepeda. Hingga kini kala diri telah menjelma sebagai agen perubahan bangsa, seorang mahasiswa.

Bak sebuah proses, perjalanan menempuh pendidikan terbaik, mengalami banyak hambatan. Terkadang dalam berlatih dan belajar saya sempat terjatuh. Namun, layaknya bersepeda, jatuh-bangun adalah sebuah proses. Pilihannya dengan lugas adalah tidak berhenti di tengah jalan. Opsi untuk berhenti di tengah jalan bukanlah pilihan untuk mereka yang berteakad kuat. Terus mengayuh sepeda berarti terus memacu diri untuk menggapai masa depan.

Filosofi yang lain juga saya peajari dari kegemaran saya bersepeda. Masih tetap dalam koridor kesahajaan, sepeda mengajarkan saya hal yang luar biasa. Bersepeda adalah tentang mengalahkan ego diri. Sifat ke-aku-an yang bagaikan pisau bermata dua. Kegiatan bersepeda melibatkan upaya diri untuk mengayuh, mengerem, dan menjaga kestabilan diri agar tetap seimbang. Menjalani hari sebagai mahasiswa memerlukan semua kombinasi aplikatif dari aktivitas bersepeda tersebut.

Setiap kayuhan dalam bersepeda terejahwantahkan dalam setiap langkah kita dalam hidup. Setiap langkah mahasiswa yang terus, dan terus bergerak untuk membuat perubahan positif. Pelbagai upaya untuk mengayuh, mengerem, dan menjaga keseimbangan saling memengaruhi keseharian seorang mahasiswa.

Kini sepeda dan segala aktivitas yang berkorelasi dengannya telah menjadi rutinitas harian kaum urban. Bukan hanya aksi bersepeda ke tempat kerja, ke kampus, melainkan juga aktivitas keseharian lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa kita, dan semua negara maju di dunia ini telah sadar akan pentingnya pola hidup yang bersahaja. Melalui kegiatan bersepeda, bisa dikatakan upaya menghitung jejak karbon, adalah sebuah keniscayaan. Berarti benar kiranya kalau sekarang bukan saatnya lagi kita menghitung jejak karbon kita. Aku dan sepedaku adalah cerita tentang upaya kontemplatif memaknai aktivitas sebagai mahasiswa.Kini, mari mulai menyemarakkan aksi menghitung jejak roda sepedamu. Maka kayuhlah sepedamu!

Malam yang aneh, setelah sebulan lebih non-stop menjadi budak resmi agenda. Hingga semua berantakan, mulai hal simpel hingga hal pribadi. Akhirnya menemukan kepingan tulisan yang terserak di laptop. Tulisan yang sempat dikirim ke IGLM IPB. Mencoba mengarifi lagi....

Maka kayuhlah sepedamu adalah tentang upaya untuk move on... to keep you sane...

(@ferryg1)