Sabtu, 19 Mei 2012

Maturasi Tujuh Puluh Tahun Grup Bakrie



Dalam perjalanan hidup ini, insan manusia selalu bergerak seiring perubahan waktu. Manusia yang layaknya seorang khalifah di Bumi ini terus mengesplorasi diri. Manusia juga tak statis dalam mencipta perubahan yang hendak ia lihat di Bumi ini. Manusia selalu dinamis. Manusia selalu berusaha menggapai asa tertinggi. Khalifah yang hakiki mendamba kemakmuran yang hayati dan berkelanjutan untuk negeri ini. Khalifah yang hakiki selalu mengawali dan mendasarkan setiap aksi perubahannya dengan mimpi. Mimpi untuk menjadi sosok pemimpin negeri yang tak hanya berjiwa pribumi, namun juga bersahaja. 

Menjadi seorang pengusaha adalah destinasi setiap pemuda negeri ini. Menjadi seorang pengusaha adalah ajang pembuktian diri setiap pemuda negeri ini. Bukan hanya sekedar tesis teoritis tanpa bukti empirik, bahwa pengusaha-lah yang mampu memakmurkan sebuah bangsa. Seluruh negara maju di dunia mengetahui ramuan sederhana untuk menciptakan kemakmuran negerinya. Ramuan sederhana itu berasal dari kumpulan anak muda negeri itu. Bahwa terdapat syarat absolut jumlah minimum pengusaha di suatu negara. Bahwa sebesar 2% dari penduduk Indonesia bukanlah jumlah yang sedikit. Selanjutnya siapakah yang mampu menjadi teladan bagi kuantitas pengusaha itu. Pada ranah dan kondisi yang seperti apa pemimpin tersebut harus memimpin negeri ini? Lalu startegi komprehensif apa yang harus ditempuh agar kuantitas 2% itu terpenuhi? Berikut sekelumit analisa, sang calon CEO Grup Bakrie.

Menjadi seorang pemimpin adalah dambaan semua anak muda negeri ini. Posisi Chief Executive Officer selalu bak persaingan memperebutkan kursi panas. Kualifikasi the right man in the right place mutlak dipenuhi seorang pimpinan pada tingkat manajemen atas. Tak terkecuali seorang pemimpin pada episentrum bisnis multinasional pada jajaran Grup Bakrie. Grup Bakrie dengan rangkaian bisnisnya telah 70 tahun berbakti untuk negeri. Bak manusia, usia 70 tahun adalah angka keramat yang merepresentasikan tingkat kedewasaan seseorang.

Memaknai usia 70 tahun harus dilakukan dengan memandang bisnis sebagai sarana pemberdayaan negeri. Jajaran bisnis Grup Bakrie yang beraneka rupa, dan lintas bidang adalah sarana itu. Grup Bakrie menyatukan negeri ini melalui Bakrie Telecomunication dan Bakrie Connectivity. Kemudian, bentangan zamrud khatulistiwa negeri ini tereksplorasi dengan berkelanjutan melalui Bakrie Sumatera. Eksplorasi hasil tambang negeri ini pun tak luput dari perhatian Grup Bakrie. Semua ranah bisnisnya menghasilkan jejaring yang saling terkait satu sama lain. Kebutuhan penduduk negeri ini akan akses infrastruktur dan hunian yang laik pun terejahwantah melalui Bakrie Land

Poin penting namun riskan

Sebagai seorang CEO, dengan bidang usaha yang sudah berada dalam tahap dewasa, saya akan melakukan analisis mengenai bisnis saya selama ini. Periode bisnis pada tahap ‘balita’ hingga ‘dewasa’ dan ‘matang’ merupakan poin penting. Proses pemaknaan usia 70 tahun dilakukan dengan analisis mengenai ranah usaha yang selama ini telah dibangun dan harus dipertahankan keberadaaannya. 

Analisis pertama adalah bahwa dengan beragamnya ranah bisnis, memunculkan sebuah posisi tawar yang kokoh. Bahwa memang benar kekuatan muncul dari upaya maksimal kita dalam menggapai sesuatu. Kekuatan utama dari bidang bisnis Grup Bakrie adalah keberagamannya. Layaknya semboyan negeri ini bahwa keberagaman adalah kekuatan hakiki. Keberagaman sektor usaha Grup Bakrie selaras dengan upaya pemerintah dala merumuskan Master Plan Percepatan dna Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Indonesia yag telah terbagi menjadi beberapa koridor adalah kesempatan emas dalam perluasan sektor bisnis Grup Bakrie.  

Selain itu, kekuatan lain dari Grup Bakrie adalah berbagai upaya perbaikan yang terus dilakukan. Tak heran jika BUMI Resources menjadi perusahaan batubara yang pertumbuhannya tercepat kedua di dunia, seperti yang tercantum dalam laman web BUMI Resources. Bidang usaha yang selalu terbarukan juga merupakan kunci kedigdayaan Bakrie Sumatera. Bahwa kepedulian dengan lingkungan juga memberikan profit yang signifikan. Bahwa usaha pengembangan bisnis haruslah berwawasan lingkungan tetap menjadi koridornya dalam melaukan eksplorasi sumber daya alam. 

Namun, terdapat kekuatan utama yang menurut saya sangat potensial. Indonesia dengan pertambahan jumlah penduduknya yang masif harus terhubung satu sama lain. Dalam hal ini perusahaan Grup Bakrie pada sektor telekomunikasi memegang peranan yang besar dan signifikan. Bahwa seperti dalam bukunya, Thomas Friedman, The World Is Flat (2009) menyikapi pola dunia yang kian datar dan harus terkoneksi satu sama lain. Sebagai CEO, akan saya buat Grup Bakrie sebagai episentrum kalangan muda berbakat negeri ini. Profit yang telah saya dapat akan terejahwantah menjadi unit riset dan episentrum lembaga pemikir yang terpadu. Lembaga pemikir (think-tank) yang dipenuhi oleh kalangan muda. Kalangan muda berusia produktif yang begitu melimpah. Kalangan muda yang memang layak Indonesia dapatkan akibat ‘bonus demografi’ nya. Kekuatan kalangan muda produktif Indonesia tak bisa dipungkiri sangatlah besar. Grup Bakrie akan melaju dengan konsep youth-incorporated-nya. 

Pemuda negeri ini yang melimpah sebanding dengan kreativitas yang dimiliknya. Kreativitas yang siap menggebrak segala kerutinan negeri ini. Kekuatan nirwujud yang mampu mengurai benang kusut birokrasi pemerintah, hingga mampu memberikan solusi cerdas tentang debottlenecking yang sedang melanda negeri ini. Kekuatan nirwujud berupa kreativitas yang akan terkelola dalam lembaga pemikir dimana Grup Bakrie menjadi episentrum di dalamnya.

Analisis kedua menyoroti kelemahan dari Grup Bakrie. Sejumlah kekuatan menghasilkan kelemahan yang setara. Dalam suatu unit usaha, inovasi memegang peranan yang sangat luar biasa dalam keberlanjutan sebuah usaha. Terdapat tesis menarik mengenai inovasi. Zuhal, dalam bukunya, Knowledge & Innovation Platform Kekuatan Daya Saing (2010), memfokuskan kekuatan inovasi. Inovasilah yang membuat banyak negara maju. Namun, kiranya inovasilah yang kurang jika kita tilik pada kebanyakan Grup Bakrie. Inovasi yang dimaksud di sini adalah tentang penciptaan lapangan pekerjaan baru yang multisektor namun tetap terpadu. Selain itu kelemahan lain sebenarnya bearada pada tahap pengembanagn usaha itu sendiri. Tak jarang, pemerintah menjadi penghalang dengan ramuannya yang memang begitu birokratif. Padahal hal itulah yang menghambat terjadinya inovasi yang fenonemal. Inovasi yang secara konstan dilakukan memgang peranan penting dalam daya saing Grup Bakrie.

Analisis selanjutnya merupakan poin yang tak kalah pentingnya. Analisis ini mencoba menggali kesempatan-kesempatan (opportunities) yang dapat dieksplorasi oleh Grup Bakrie. Abad ini adalah abda Asia. Indonesia siap meluncur ke depan memimpin Abad Asia itu. Abad ini pun konsen setiap penduduk Bumi adalah upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan tanpa harus melupakan kemajuan ekonomi. Sebagai CEO akan saya kembangkan Grup Bakrie pada sektor usaha energi terbarukan. Grup Bakrie akan menjadi motor penggerak dalam green economy yang sangat prospektif, terpadu, dan berkelanjutan. Grup Bakrie berwawasan global dengan aksi lokal. Grup Bakrie menjadi motor penggerak perekonomian negara kawasan. Bahwa Abad Asia berlangsung dimana Indonesia merangkul India, Cina, dan Korea Selatan untuk menyongsong perubahan.

Dalam konsep lingkungan, terdapat satu lagi jenis sumber daya yang saat ini belum tereksplorasi dengan baik. Sumber daya yang memang selalu ada (perpetual resources) sangatlah prospektif. Pertama, sektor usaha yang memanfaatkan energi panas bumi, angin, cahaya matahari, dan ombak laut belum banyak dilirik. Kedua, bentangan garis pantai Indonesia begitu luas. Begitu juga jumlah gunung aktif dan juga iklim yang panasnya merata sepanjang tahun. Contoh konkrit adalah Brazil. Brazil melaju dengan energi hijaunya yang berbasis biofuel. Brazil telah membuktikan bahwa energi dan kebutuhan pangan negerinya dapat melaju dengan beriringan. Brazil berhasil mengambil kesempatan yang awalnya dinilai tidak mungkin. Toh,  pada akhirnya sektor pertanian Brazil tetap maju dan stabilitas pangannya tetap terjaga. 

Indonesia bisa menjadikan Brazil sebagai contoh negara yang selalu berpikir di luar kotak. Brazil pun melaju dengan dukungan penuh dari para wirausahawannya. Indonesia yang kini beranjak maju, memiliki lebih banyak peluang pada sektor usaha berbasis sumber daya yang selalu ada (perpetual resources). Grup Bakrie yang telah berpengalaman dengan usaha multisektornya layak untuk mengambil tantangan ini. Di sinilah ketangkasan seorang CEO dibutuhkan. Seorang CEO Grup Bakrie mampu melihat apa yang tidak dilihat oleh pesaingnya. Pada akhirnya akan terjalin sinergi yang saling menguntungkan antara Grup Bakrie, Indonesia, dan para pemuda negeri ini. Keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya yang memang selalu ada itu adalah jalan mulus menuju konstelasi ekonomi yang lebih besar. Bukan tidak mungkin akan terbentuk BRICSI dengan Indonesia yang memang layak berada di dalamnya.  

Poin analisis terakhir adalah tentang ancaman-ancaman yang akan dihadapi Grup Bakrie. Ancaman yang paling kentara adalah banyaknya pengusaha yang bermain pada sektor yang sama dengan Grup Bakrie. Para pesaing pada sektor usaha yang sama bergerak dengan cepat dan signifikan. Pada umumnya, para pesaing tersebut juga memiliki sektor usaha yang beragam dan terpadu. Bisa kita lihat bahwa Sinarmas, Medco adalah dua contoh pesaing primer. Tidak perlu dipertanyakan lagi kapabilitas dua pesaing utama itu dalam hal kapital-material. Keduanya sama kuatnya dalam permodalan. Dalam hal ini, seorang CEO haruslah bangkit untuk merangkul keduanya. Seorang CEO haruslah menggebrak dengan langkah improvisasi multisektor dengan menjadikan kedua pesaing sebagai rekan. Sehingga dihasilkan sebuah kesepakatan yang nantinya akan menjadikan cetak biru ke arah mana bisnis akan di bawa. Ke arah mana pula perekonomian Indonesia akan diarahkan. 

Seorang CEO harus terus bekerja keras dalam menghadapi setiap ancaman yang dihadapinya. Bahwa dalam berbisnis jatuh bangun adalah hal yang sangat biasa. Hal itulah yang saya nilai menarik dan saya dapatkan langsung dari Ical Bakrie melalui laman web-nya. Terdapat tiga hal menarik dan sangat sederhana yang saya dapatkan dari sosok yang Pak Ical kagumi, yaitu Achmad Bakrie. Dalam bukunya, Achmad Bakrie menyoroti pentingnya kerja keras, semangat, dan kejujuran dalam menggapai keberhasilan. 

Kerja keras, kejujuran, dan keberhasilan, begitulah kiranya yang saya simpulkan dari buku tentang beliau. Kebersahajaan seorang CEO akan terejahwantah melaui dua sifat tersebut. Layaknya padi yang selalu makin merunduk begitu dirinya bernas. Sebagai seorang CEO, sekiranya itulah poin gagasan perubahan yang holistik untuk Grup Bakrie. Gagasan perubahan yang tetap dinamis dan memerhatikan kearifan lokal Indonesia. Bahwa Indonesia yang kini sedang menikmati ‘bonus demografi’ nya tengah bersiap untuk melaju di garda terdepan perubahan dunia. Maka, kiranya tepat jika proses pendewasaan diri pada usia 70 tahun mampu membuat seorang CEO berpandangan jauh lebih mengerucut ke depan. Bahwa benar, kata Isaac Newton, bahwa diperlukan pundak para raksasa agar mampu melihat sedikit lebih jauh ke depan. Bahwa benar, dengan segala keragaman negeri ini, Grup Bakrie hadir sebagai solusi atas permasalahan multidimensi yang sedang dihadapi Indonesia. Bahwa benar, perbaikan harus selalu harmonis. Bahwa benar perbaikan akan selalu berada pada koridor keselarasan. Bahwa sungguh benar, kekuatan negeri ini bukan lagi sumber daya alamnya. Bahwa benar kekuatan negeri ini adalah pemuda-pemudi negeri ini yang tiada tandingannya. Kiranya benar bahwa kemajuan harus selalu dalam keselarasan. So, let there be light! 

Oleh
Ferry Gunawan
Mahasiswa Diploma 3 Program Keahlian Perkebunan Kelapa Sawit
Program Diploma Institut Pertanian Bogor

Selasa, 15 Mei 2012

Belanda Merengkuh Dunia Kini Dan Nanti!


Konon, dahulu kala negeri dengan kekayaan alam melimpah begitu dipuja. Dikultuskan sebagai negeri yang pasti akan makmur. Konon, dahulu kala keberagaman dan keunikan alam adalah resep utama kemakmuran suatu bangsa. Dua buah pikiran praksis tersebut sedikit termentahkan hari ini. Terdapat faktor lain yang dapat menjadi resep utama selain kekayaan alam. Besarnya jumlah penduduk usia produktif-lah yang menjadikan sumber daya alam mampu berbicara banyak dalam hal kemakmuran suatu bangsa. Kreativitas adalah kata kunci selanjutnya yang harus dicermati setelah jumlah penduduk usia produktif.

Belanda adalah contoh menarik dalam hal ini. Pertama, dahulu Belanda dikenal sebagai negara yang paling inovatif dan kreatif dalam hal teknologi. Teknologi khas Belanda dapat kita temui hampir di setiap bidang keseharian kita. Kedua, hal itu masih terus melekat dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, dan dunia. Teknologi pelayaran, perairan, hingga perumahan, dan segala konsep ramah lingkungannya kini banyak diterapakan di semua negara. Mulai dari Philips, tim Oranje, hingga konsep rumah yang compact!

Sebagai salah satu negara dengan Growth Domestic Product (PDB) terbesar di Eropa, Belanda berhasil memakmurkan bangsanya dengan berlandaskan konsep kreativitas. Belanda adalah contoh menarik negara yang mampu menggabungkan semua elemen kreatifnya dari budaya, ekonomi, dan pariwisatanya. Festival Film Rotterdam adalah salah satu festival film paling berpengaruh bagi insan perfilman dunia.

Belanda membangun kesuksesannya sekarang tidak dalam tempo semalam. Selalu ada saat jatuh dan bangun dalam membangun fondasi kemakmuran bangsa yang bagus dengan menjunjug tinggi HAM. Seperti kata pepatah Belanda yang diterjemahkan sebagai after the rain, the sun will shine.  Semua elemen kreatif dari Belanda dapat kita nikmati di setiap sudut ruang terbukanya. Ruang terbuka yang memang disediakan untuk publik memiliki konsep sedemikian rupa sehingga banyak kalangan muda yang menjadikannya tempat untuk bertemu. Jika dua orang muda sudah bertemu dan saling berdiskusi, maka akan tercipta satu inovasi baru, setidaknya. 
Ranah ilmu pengetahuan dan teknologi pun tak terlepas dari sentuhan inovatif. Inovasi dan kreativitas yang memang disadari sangat pentig, terejahwantah dengan nyata pada lingkup akademik. Tidak heran jika Belanda menjadi salah satu negara dengan peraih Nobel terbanyak. Pendidikan tinggi di Belanda pun meleburkan bidang riset dan inovasi menjadi satu fusi yang memesona. Utrecht, Nijmegen, Wagenigen, adalah beberapa motor penggerak inovasi yang memesona itu.

Pada ranah research and entrepreneur-based university, Belanda memimpin dengan sigap. Hubungan antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat umum tecermin dalam setiap aplikasi hasil riset terbaru para periset Belanda. Penerapan yang baik dalam hal knowledge-based economy telah melahirkan masyarakat yang tak apatis terhadap bentuk perkembangan ilm pengetahuan dan teknologi.

Semua kemajuan Belanda dahulu dan sekarang yang masih kita lihat mentahbiskan lagi tesis lama tentang erekonomian suatu bangsa. David Landes dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Poverty Nation (1998) telah menjelaskan hubungan erat antara perkembangan ekonomi dan kebudayaan sebuah bangsa. Landes membahas mengenai European Miracle, tentang bagaimana bangsa Eropa maju dengan pesat setelah Revolusi Industri. Dalam hal inilah, kreativitas yang merupakan aset nirwujud (intangible) berperan sangat signifikan! Aset nirwujud dan bangsa yang tak apatis melahirkan negara yang makmur dan stabil.