Kamis, 09 Februari 2012

URGENSI PENERBITAN JURNAL ILMIAH MAHASISWA


Dunia pendidikan Indonesia kembali ramai. Kali ini persoalannya adalah ketetapan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengenai kewajiban publikasi karya ilmiah mahasiswa. Tidak main-main, setidaknya terdapat empat poin mengenai kebijakan tersebut, seperti yang tercantum dalam surat edaran Dikti untuk Pimpinan PT, Direktur Politeknik Negeri, dan Koordinator Kopertis I-XII. Pertama, adalah mengacu pada Permendiknas No 17 Tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di PT. Kedua, Permendiknas No 22 Tahun 2011 tentang terbitan berkala ilmiah, Perdirjen No 29/DIKTI/Kep/2011 tentang pedoman akreditasi berkala ilmiah, serta dalam rangka menegakkan komitmen untuk membangun karakter dan meningkatkan kualitas dosen.


Kebijakan itu berimplementasi pada kewajiban setiap mahasiswa pada tingkat Strata 1, 2 dan 3 untuk menerbitkan karyanya pada jurnal ilmiah. Mahasiswa S1 harus menerbitkan makalahnya di jurnal ilmiah, jurnal ilmiah terakreditasi Dikti untuk S2, dan jurnal internasional untuk Strata 3.

Namun, keefektifan kebijakan tersebut masih dipertanyakan, mengingat masih banyak sekali aksi plagiarisme yang dilakukan kalangan intelektual negeri ini. Plagiarisme memang seperti penyakit akut negeri ini selain korupsi. Bukan hanya kalangan mahasiswa yang melakukannya, namun juga dilakukan oleh para pengajar itu sendiri. Tujuannya hanya satu, agar terdapat gelar yang segera dapat disematkan di depan ataupun di akhir nama. Tentu kita masih ingat tentang plagiarisme oleh seorang petinggi universitas beberapa waktu lalu. Ternyata puluhan karya yang telah dihasilkan beliau diragukan keontetikannya.

Bagi beberapa pihak yang kontra pasti mempertanyakan kebijakan tersebut, karena di kalangan pegajar saja plagiarisme masih menjadi masalah, apalagi kalau harus diiplementasikan untuk mahasiswanya. Bukankah kewajiban mahasiswa di S1 misalnya, untuk meneliti. Dan dalam penelitian itu pasti terdapat kegagalan. Hal tersebut bertolak belakang dengan kebijakan pemakalah di jurnal ilmiah yang penelitiannya sudah ada hasilnya. Bukankah yang lebih penting adalah dalam penelitian, walaupun terjadi kegagalan, namun kita mampu menjelaskan aspek-aspek kegagalan tersebut.

Selain itu, dikhawatirkan sistem publikasi di jurnal ilmiah yang menjadi ‘sedikit longgar’akibat kebijakan tersebut. Bahkan bisa ditebak pasti banyak yang memanfaatkan celah tersebut. Misalnya dengan menyewa seorang penulis bayangan, misalnya. Tapi ada cara terbaik untuk menanggulanginya. Mari menjadi seorang idealis. Seorang dengan cita-cita tinggi, dan idealisme yang kuat.

Bagi seorang idealis, tantangan dari Dikti tersebut pasti disambut dengan tangan terbuka dan dengan penuh antusiasme. Memang di bangku PT para mahasiswa dituntut untuk mempunyai budaya menulis yang baik. Budaya menulis berbanding lurus dengan kebiasaan membaca. Membaca dan menulis melahirkan rasa keingintahuan kita yang terpendam. Intelektual muda akan terus hidup dengan mempertahankan rasa ingin tahunya yang besar.

Sang pendefinisi abad ini, Steve Jobs pernah berkata bahwa “ Inovasilah yang membedakan seorang pemimpin dan pengikut.” Inilah tantangan yang harus disambut oleh para intelektual muda negeri ini. Kalau memang kita mampu dan karya kita asli, apa yang mesti ditakutkan? Menjawab tantangan dengan aksi nyata menurut saya, adalah suatu hal yang sangat keren! Mari berinovasi melalui tulisan.

Minggu, 05 Februari 2012

LANGKAH KEREN PELIHARA BUMI

Limbah, limbah, dan limbah. Produk sampingan dari sebuah proses industri itu selalu dianggap sebagai sumber petaka. Selain itu dianggap tak berarti karena tak memiliki nilai ekonomi atau pun peluang adanya nilai tambah suatu produk.


Namun, pola pikir itu sebaiknya cepat-cepat kita sisihkan dari otak kita. Koran Harvard edisi Sabtu 4 Februari 2012 menuliskan hal yang lain mengenai limbah. Periset dari Harvard di Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering mampu menciptakan jenis plastik baru dari limbah uang dan protein yang berasal dari sutera. Plastik yang disebut sebagai ‘shrilk’, dan terinspirasi oleh cangkang luar serangga itu, kuat dan mampu terdegradasi secara alami.



Menurut sang peneliti, Javier Fernandez, material temuannya itu tipis, bersih, lentur, dan sekuat alumunium. Setiap penemuan dan pengembangan baru sains selalu saja menarik untuk disimak. Sekecil apapun perkembangan dan temuan itu.


Karena kini bumi dengan tujuh miliar penduduknya menghadapi masalah yang kompleks. Bukan hanya masalah ketahanan pangan, air bersih, atau pun angka buta huruf, melainkan juga masalah kelestarian bumi itu sendiri.


Cara sederhana dan keren untuk memelihara bumi antara lain dengan berjalan kaki ke kampus atau pun dengan naik sepeda. Selain tanpa emisi, kegiatan berjalan, menurut sebuah studi mampu meningkatkan kapasitas otak sehingga individu tersebut tidak mudah pikun.


Namun, kendalanya adalah kini masalah berjalan kaki atau pun bersepeda ke lokasi yang dekat itu sepertinya menjadi suatu hal yang memalukan. Selain juga karena masalah fasilitas bagi para pedestrian yang kurang memadai. Orang cenderung segan untuk melakukan dua aktivitas tersebut. Contohnya sendiri di kampus Program Diploma IPB Cilibende, yang notabene menggalakkan gerakan peduli lingkungan. Setiap hari kian bertambah jumlah mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor untuk ke kampus. Padahal, jarak dari kost-an relatif dekat.



Menggunakan kendaraan bermotor untuk lokasi yang relatif dekat selain boros energi, menambah pengeluaran, juga sangat polutif. Memang banyak yang beralasan demi efisiensi dan efektivitas, namun kebiasaan berjalan kaki memiliki maknanya sendiri. Mengenai efektivitas dan efisiensi, dengan berjalan kaki misalnya, berarti kita berkomitmen untuk selalu bangun lebih awal. Di situlah poin efektivitas dan efisiensi itu bermakna.

Selain itu juga masalah fasilitas umum untuk pejalan kaki, atau dikenal dengan area pedestrian. Fasilitas untuk para pedestrian merupakan salah satu problema yang dimiliki oleh kota-kota besar di seluruh dunia. Semakin dinamisnya kehidupan global ini, manusia cenderung makin dinamis. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dalam sehari.

Namun, sepertinya kesadaran untuk menyediakan lokasi yang memadai untuk para pedestrian tampaknya belum maksimal di Indonesia. Padahal, beberapa waktu lalu di media cetak disebutkan angka kelas menengah Indonesia relatif banyak jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Padahal kelas menengah itu, yang cenderung mobilitasnya tinggi, mendambakan fasilitas yang memadai dan juga aman.




Jangankan untuk komparasi pada level negara maju, di level Asia pun lokasi untuk para pedestrian kita jauh tertinggal dari Hongkong dan Korea Selatan. Dua negara tersebut benar-benar memahami pentingnya fasilitas bagi para pedestrian demi mendukung mobilitas penduduknya yang tinggi. Tak heran jika kedua negara tersebut menjadi salah satu negara denga perekonomian terkuat di Asia.


Di Indonesia, semoga langkah dua negara tersebut dan beberapa negara lain yang sudah mengaplikasikannya diterapkan dengan baik dan didukung dengan jaminan keamanan. Ironis memang jika masalah area bagi pedestrian tengah diwacanakan pembuatannya, namun di angkot saja keamanan kita terancam.


Jelas sekali bahwa langkah untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan, terutama bumi itu selaras dengan kemajuan perekonomian suatu negara. Mari mulai dari diri sendiri. Mari investasikan energi kita untuk bumi! J

SELAMAT DATANG PUTRA PUTRI TERBAIK BANGSA!




For sure, judul di atas selalu bisa bikin semangat. IMO, awalnya dipakai di salah satu PT bidang teknik terkemuka di Indonesia. Tapi sekarang rasanya sudah me’nasional’ J. Semboyannya pun serasa linier dengan tagline dari institut tersebut, ‘mencari dan memberi yang terbaik’.

Banner itu pun dapat ku jumpai setelah berjuang dengan sekuat hati. Lebih tepatnya berjuang dengan nego diri. Akhir Juni di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor-Baranangsiang, semua teman seperjuangan pasti juga melihatnya. Dan, kalau setekad, pasti kata- katanya juga bikin semangat!

Putra Terbaik (kah?)

Perjuangan panjang itu dimulai kala mengetahui seleksi masuk Program Diploma IPB dengan beasiswa penuh dari PT. SMART Tbk. Ingat sekali waktu itu tengah malam, kontemplasi –dengan beberapa neuron, tanya ke amygdala, masih mampu kah bersaing – sebelum mengisi formulir pendaftaran.

Konon, berdasarkan banner itu kami semau adalah bagian dari putra terbaik bangsa. Sebaik apakah, atau terbaik di bagian manakah?

Waktu berjalan begitu cepat. Kuliah yang begitu padat. Tapi tetap, tekadlah yang menjadi pemenangnya.

Terbaik bisa saja subjektif di mata beberapa subyek penilai. Namun, terbaik bisa jadi sesuatu parameter terobjektif akan kesungguhan dan keteguhan individu. Terbaik bisa diterapkan di aspek manapun. Menjadi rajin, idealis, dan antusisas adalah salah satu upaya menjadi yang terbaik.

Terkadang semua yang ‘ter’ di atas bukanlah sebuah jaminan untuk mengahasilkan sebuah output yang maksimal. Berarti, let’s re-consider our own term of the best itself. It is now up to us, to save our own idealism to be the best! Just wanna remind, as the beauty is in eye of the beholder, is just the same in case of searching ‘the best’, ask your amygdala! J

[Dibuat untuk memotivasi diri sendiri. Setelah pengumuman nilai kimia yang reaksinya : “kok bisa?” L ]