Jumat, 17 September 2010

KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Sejatinya pendidikan adalah aspek terpenting dalam setiap pembangunan suatu negara. Jepang membuktikan diri sebagai contoh yang tepat. Setelah luluh lantak oleh bom atom, melalui Restorasi Meiji, Jepang berhasil bangkit. Disusul dengan banyak Negara lain di kawasan Asia.

Perubahan itu selalu ada. Perubahan itu selalu akan terjadi. Jika sang pengubah siap dan berkehendak. Data berikut selayaknya kita simak. Rilis terbaru mengenai kualitas pendidikan di dunia. Dalam rilis terbarunya, dalam tahun ketujuh-nya mempublikasi kualitas pendidikan di dunia, Times Higher Education Supplement, menempatkan Universitas Cambridge sebagai universitas non-Amerika sebagai universitas terbaik. Hal ini menarik, pasalnya, sudah sejak tahun 2004 posisi jawara ditempati oleh Universitas Harvard.

Penilaian dari THES-QS dianggap sebagai penilaian yang paling bebas. Independensinya terjaga dengan melibatkan 700 pimpinan universitas. Ada enam barometer yang dipakai yakni, penilaian sejawat, penilaian pegawai , sitat tiap fakultas, mahasiswa fakultas, fakultas internasional, dan mahasiswa internasional.

Massachusetts Institute of Technology mencetak lompatan besar. MIT berada di posisi lima yang sebelumnya berada di posisi sembilan. MIT berhasil meneguhkan posisinya dengan performa kuat sebagai universitas teknologi.

Sampai tulisan ini selesai belum dipublikasikan keseluruhan ranking. Dari 200 besar perguruan tinggi dunia, kabar buruknya, tidak ada satupun wakil Indonesia. Asia Tenggara diwakili oleh National University of Singapore (NUS) pada urutan ke 31 dunia.

Alarm Katastrofe

Pembangunan sangat linier dengan kualitas pendidikan. Dalam bukunya, Knowledge and Innovation Platform Daya Saing (2010), Zuhal menekankan pentingnya riset untuk perbaikan kualitas pendidikan. Terutama riset pada bidang sains dasar hingga teknologi nano. Hal itu menjadi kendala di Indonesia karena anggaran risetnya yang hanya sekitar 0,1 persen, sangat jauh dari layak yang sekitar 4 persen dari PDB. Hal itu sangat miris melihat potensi Indonesia yang sekarang. Indonesia adalah G-20 major economic countries, sejajar di 11 negara yang akan membuat kemajuan pesat- Next Eleven. Riset yang teraplikasikan pada akhirnya akan memacu pertumbuhan ekonomi suatu negara itu. Dengan berlandaskan Knowledge-Based Economy (KBE) sudah banyak negara maju sebagai aktor utama dalam pembangunan yang diatas rata – rata. Sudah saatnya Indonesia tidak hanya sebagai cameo. Hanya memengaruhi statistik.

Perbaikan kualitas pendidikan harus selalu dijalankan. Sebenarnya Indonesia memiliki banyak sekali universitas baik. Tapi hanya beberapa yang maju dengan berlandaskan research university, maupun entrepreneurial research university.

Ini adalah sebuah peringatan dini. Peringatan dini selayaknya akan terjadi bencana besar jika sang pendengar alarm tidak acuh. Akan menjadi blunder, apabila kita tetap maju dengan cara lama. Dimana competitor kita telah melesat dengan mesin baru. Mesin baru berupa dan riset yang tinggi serta fokus pemerintah terhadap perbaikan kualitas pendidikan. Korea Selatan yang tidak stabil pada tahun 60-an, kini adalah aktor utama pelaku industri dalam tempo kurang dari 40 tahun. China bangkit setelah reformasi selama 30 tahun sejak tahun 1978. Bahkan dengan konstelasi eksospolnya yang sekarang-BRIC- dengan berani menyarankan pewacanaan ulang mata uang dolar AS sebagai tolak ukur mata uang dunia.

Menjawab kebuntuan di sektor pendidikan. Banyak pakar telah duduk bersama dan berdiskusi. Buahnya berupa ITB 2020. Bisa dikatakan sebuah sumpah para ahli dari berbagai bidang untuk memajukan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan pada universitas. Mereka tengah menyiapkan suatu progres yang sangat tidak linier dalam rangka menyambut pendidikan teknik di Indonesia yang akan berusia 100 tahun pad 2020 nanti.

Institut Teknologi Bnadung yang memang sudah sejak lama menyatakan diri sebagai universitas riset kelas dunia maju di garda depan. Sangat futuristik. Terlihat dari logo berikut penjelasannya.

Bentuk-bentuk molekul, rantai karbon, dan sel, ditambah dengan bentuk-bentuk di dalam rangkaian elektronika, PCB dan mikroprosesor mengilhami pembuatan logo kegiatan ITB2020.

Molekul-molekul, rantai karbon, dan sel mewakili kehidupan berbasis karbon (carbon-based life), kehidupan fisik di mana secara nyata kita ada. Sementara itu rangkaian elektronika, PCB, dan mikroprosesor mewakili kehidupan berbasis silikon (silicone-based life), atau kehidupan maya di mana manusia modern pada saat ini banyak menghabiskan waktunya baik untuk secara produktif bekerja maupun bersosialisasi melalui jejaring sosial. Kedua bentuk kehidupan tersebut merupakan inti dari peradaban manusia saat ini dan mendatang.

Bentuk-bentuk visual tersebut diambil sebagai dasar dari citraan semangat dan dinamika ITB sebagai perguruan tinggi sains, teknologi, seni dan bisnis terkemuka di Indonesia menghadapi masa depan di tahun 2020 mendatang. Output logo berupa komposisi bentuk menyerupai arah gerak menandakan dinamika, disusun dari bentuk-bentuk yang selain menyerupai rangkaian elektronika, juga menyerupai sel-sel yang bergabung satu sama lain.

Pada tahun 2009, ITB berada pada daftar 80 besar universitas di dunia bidang teknologi. Banyak paten telah dihasilkan. Banyak paten yang telah diaplikasikan. Tapi yang miris adalah banyak juga ilmuwan Indonesia yang lebih memilih berkarya di luar negeri. Tidak bisa disalahkan karena masalah kesejahteraan peneliti di Indonesia. Asvi Warman Adam Peneliti LIPI selama 27 tahun tunjangan fungsional ahli peneliti utama (APU) sebesar Rp 1,4 juta per bulan. Hanya menigkat sekitar 500 ribu dibandingkan masa Habibie yang sangat apresiatif terhadap riset(Negara dan Nasib Peneliti - KOMPAS 15 September 2010).

Penduduk Indonesia yang melimpah ruah adalah sebuah anugerah. Ditambah dengan geografis Indonesia yang sangat mengagumkan. Saat ini apa yang tidak bisa ditanam di tanah subur ini?. Pemerintah yang sekarang sering sekali goyah karena elemennya tidak bersatu dan hanya mementingkan kepentingan individu.

Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi tidak dipedulikan. Rakyat dibiarkan mati kelaparan. Pencapaian MDGs termasuk yang paling lambat di antara negara kawasan. Dengan dalih membutuhkan ruang kerja layak- yang sekitar 120 meter persegi- triliunan uang rakyat dikorbankan. Padahal banyak sekolah, terutama di pedesaan yang telah roboh. Ada juga sekolah yang hendak roboh, tapi masih digunakan untuk proses belajar mengajar. Gaji guru yang meskipun naik, masih belum bisa mensejahterakan. Okelah, untuk ruang kerja layak, kami kabulkan. Hanya jangan terlalu merefleksikan hedonisme dengan fasilitas luks yang tidak sepatutnya ada.

Dengan alokasi dana yang lebih pada pendidikan yang mumpuni, kita bersama akan menyaksikan kemajuan pendidikan Indonesia dan perekonomiannya mulai detik ini. Saat banyak sekali orang yang mengenyam pendidikan di suatu Negara, Negara itu jugalah yang akan mendapatkan manfaat banyak. Mari maju bersama. ITB sudah memulai. Satukan tekad demi kepentingan bersama. Yang patut kita ingat adalah bahwa India memiliki 150-an ribu ilmuwan berbasis IT hanya di Bangalore, sementara ahli IT Silicon Valley sekitar 120-an ribu!.Perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia adalah sebuah keniscayaan!.


Kamis, 02 September 2010

DILEMA KESENIAN

Art is a lie that makes us realize the truth— Pablo Picasso

Kebudayaan adalah identitas sebuah bangsa. Kebudayaan mencerminkan kualitas suatu bangsa, yang tidak lain unsure dari negara tersebut. Dalam berbagai kehidupan berbangsapun tak jarang seni bergesekan dengan aspek kehidupan lain, yakni agama. Lagi, dengan perjuangan keberagaman seni yang bertemu dengan kompleksnya masalah ekonomi. Kala seni dipaksa agar memnuhi permintaan pasar yang fluktuatif dan cenderung asal laku.

Joost Smiers (2009), meyakini bahwa ada orang yang berubah agresif ketika keyakinannya yang terdalam berbenturan dengan bentuk ekspresi artistik yang ditampilkan kepadanya, atau ada juga orang yang merasa didesak untuk melakukan tindak kekerasan kaena dipaksa menerima karya seini tertentu, baik secara eksplisit maupun implisit.

Masa Orde Lama ditandai dengan kegiatan represif terhadap Manifest Kebudayaan. Soeharto sebagai penggantinya juga sama. Semua tentu ingat bagaimana sang smiling general itu terhadap ekspresi seni. Karya bagus milik Pramoedya Ananta Toer baru bias dinikmati dengan bebas beberapa tahun terakhir. Bisa jadi  Gadis Pantai ada karena seorang pelajar di Australia masih menyimpannya.

Di belahan dunia lain aksi represif terhadap kesenian dan produknya lebih ekstrim lagi. Taliban di Afghanistan menghancurkan alat – alat musik tradisional dan aksi Taliban sebagai dampak dari interpretasi Hukum Syariah yang menyatakan bahwa segala bentuk ekspresi budya “tidak religious” yang meyertkan tindakan manusia;hiburan tari dan music, sebagai hal yang tidak islami dan bergelimang dosa. Sebagai akibatnya seni ekspresif dilarang.

Berbanding linier dengan beberapa realita di atas adalah realita lain yang menimpa Salman Rushdie. Penulis Satanic Verses ini bersembunyi setelah Ayatollah Khomeini (pemimpin Iran) mengeluarkan fatwa pada tahun 1989 yang memerintahkan kaum Muslim untuk membunuhnya karena dianggap menghina Islam atas bukunya yang berjudul The Satanic Verses. Ia menulis buku pada 1988, berjudul Satanic Verses. Buku ini memasukkan Tuhan dalam Islam (Allah) sebagai tokoh. Banyak negara melarang buku ini. Mereka menemukan buku ini menyerang Islam, dan melarang sejumlah toko buku menjualnya

Pemimpin Agung Iran saat itu Ayatollah Khomeini berpidato di radio tentang Rushdie. Ia berkata bahwa Rushdie telah keluar dari Islam (murtadin). Rushdie dan sang penerbit buku diberi fatwa mati. Pada 1989, pemerintah Inggris mulai melindungi Rushdie, bahkan tanggal 7 Maret 1989 Iran memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Inggris karena masalah ini. Pada 1990, Rushdie menulis esai, mencoba membuktikan ia masih beriman pada Islam. Hingga pada 16 Juni 2007, Salman Rushdie memperoleh anugerah gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II (Wikipedia).

Bagi dua sisi mata uang, produk kesenian juga menunjukkan citra buruknya dengan kualitas produk yang semakin dipertanyakan. Banyak muncul produk yang sarat unsure seni, film misalnya,yang hanya mementingkan unsur konsumtif. Hingga sensor yang luar biasa, yang menurut para pembuat film yang tersensor sangat banyak tida bias diterima. Banyak ironi terjadi saat pertunjukan perdana film dengan latar belakang cerita horor dan eksploitasi seksual yang lebih dibanjiri penonton dibandingkan film dengan tema social yang sangat representatif. Bukankah film sebagai produk kesenian adalah representasi keadaan masyarakat?.

Mungkin benar bahwa kesenian itu adalah kebohongan yang membuat kita menyadari kebenaran. Saat publik dibohongi dengan tontonan absurd , lalu semakin lama publik akan memberontak dan menunjukkan daya kontrolnya. Dari rasa tidak suka dengan stagnansi pembodohan itulah muncul gerakan independen. Di Indonesia mencuat Masyarakat Film Indonesia yang dengan jells tidak setuju dengan pemenangan suatu film karena jelas sangat imitatif.

Namun dari trigger yang tidak banyak itulah lalu, kemudian semua berbenah. Lalu memunculkan banyak gagasan perbaikan. Karena memang yang membuat perbaikan sejak dahulu adalah yang sebagian kecil itu. Yang lainnya hanya sebagai followers.

 

Rabu, 01 September 2010

Hadiah Nobel Untuk Indonesia

Dengan segala kompleksitas dalam dunia pendidikan di Indonesia, mari, kini saatnya kita bangkit. Negara dengan penduduk terbesar keempat sedunia ini memiliki dan tengah menyibakkan potensinya. Kilau negeri terpendar dengan prestasi anak negeri.

Harus berpikir di luar cangkang. Karena pemikiran yang tidak linier itulah yang akan membuahkan terobosan yang kontributif. Maka, mari kita lihat kontribusi kita pada bidang pendidikan. Bidang penyelamat kita.

Mantan presiden B.J Habibie memberikan contoh yang positif. Bagaimana sebuah ketekunan membuahkan hasil maksimal. Dalam bidang engineering beliau mampu berbicara banyak. Makmur Makka (The True Life Of Habibie:Cerita Dibalik Kesuksesan) setidaknya menjelaskan kehormatan apa saja yang diterima Habibie sebagai seorang intelektual. Habibie menjadi anggota kehormatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Luar, Jerman Barat tahun 1983; The Royal Aeronautical Society, London tahun 1983;The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences tahun 1985;Academie Nationale de I’Air et de I’Espace, Perancis tahun 1985.

Belum cukup dengan itu pada tahun 1992, Habibie menerima Award Von Karman dari ICAS. Kemudian pada tahun 1997 dianugerahi EdwardWarner Award dari ICAO. Habibie juga adalah anggota The US Academy of Engineering. Hal ini menarik karena Asia hanya diwakili oleh tiga Negara yakni, Jepang(10), India(1), dan Indonesia(1). Habibie juga menyumbangkan pemikirannya lebih jauh karena beliau adalah anggota Inter Action Council-lembaga nirlaba yang terdiri dari lebih dari 30 mantan kepala pemerintahan di dunia yang berfokus pada tiga hal: Perdamaian dan Keamanan,Revitalisasi Ekonomi Dunia, dan Standar Etika Universal.

Habibie mendapatkan semua itu karena pemikirannya yang telah banyak dipakai, khususnya pada dunia aeronautika. Mulai dari teorema Habibie, faktor Habibie, sampai menganalisa retakan pada pesawat hingga struktur atomnya. Beberapa rumusannya kini dapat ditemui di Advisory Group for Aerospace Research and Development-buku pegangan yang berisi prinsip – prinsip ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam mendesain pesawat terbang standar NATO.

Untunglah dinegeri sendiri beliau juga cukup disegani. Keberhasiolan uji coba pesawat terbangnya patut diapresiasi. Tapi juga banyak dicerca mengenai gagasannya yang terasa tidak dapat dinikmati penduduk Indonesia seluruhnya. Menegani hal itu Ninok Leksono dari KOMPAS memiliki pandangannya sendiri. “ Tentu  saja banyak alasan yang bisa dikemukakan untuk riwayat muram N250. Namun dari sisi ide dasarnya yakni membuat pesawat penumpang kapasitas sedang tidaklah keliru. Indonesia negara kepulauan berukuran geografis besar, memang alamiah bagi penrbangan. Maraknya angkutan udara dewasa ini menguatkan hal itu.”

Sudah Saatnya

Dari Indonesia banyak cendekiawan lain yang muncul dan dikenal luas oleh public. Terutama setelah ada penghargaan Achmad Bakrie Award yang kontroversial itu. Pada tahun 2009 kita mengenal Sajogyo sebagai penerima penghargaan tersebut untuk Pemikiran Sosial. Pak Sajogyo dinilai layak karena beliau memberikan sumbangan besar dalam menjelaskan garis kemiskinan, kemiskinan absolut, indeks ukur kemiskinan, elastisitas kemiskinan, dan berbagai ukuran distribusi. Menurutnya, garis kemiskinan yang relevan untuk Negara berkembang seperti Indonesia adalah yang langsung merefleksikan kebutuhan hidup terpenting, yaitu kecukupan pangan, yang terwakili oleh beras. Ia menawarkan garis kemiskinan yang lebih realistik, yang bertumpu pada kebutuhan kalori lebih layak (saat ini sekitar 2100 kalori). Inilah yang kemudian disebut Garis Kemiskinan Sajogyo.

Kemudian ada Danarto untuk Kesusastraan. Beliau memperluas pengertian realism dalam sastra Indonesia. Jika realism mengancang hukum social ke arah masyarakat yang lebih baik, maka Danarto dengan berbagai cerita pendeknya, menunjukkan warisan masa lalu yang selalu mengganggu hukum sosial itu. Ia memanfaatkan berbagai khazanah dominan seperti Jawa dan Islam, namun senantiasa mengambil sisi tersembunyi yang berwatak subversive daripadanya. Ia menghidupakn kembali gaya mendongeng dalam sastra modern. Sastra Danarto menggumuli modernitas dengan cara yang Indonesa:kiat untuk menyelami lubuk jiwa masyarakat pascapenjajahan yang membaurkan kemajuan dengan segenap cacatnya. Bapak A.G Soemantri untuk Kedokteran. Di Indonesia Agutinus Soemantri Hardhojuwono merintis cangkok sumsum tulang untuk para penderita talasemia dan leukemia, juga cangkok hati dan sel punca (stem cell). Dokter anak cum hematolog ini juga menemukan bahwa kekurangan asupan zat besi bias menghambat pertumguhan fisik dan mental anak. Yang baru dari risetnya adalah bahwa ia berfokus pada anak – anak berusia enam tahun ke atas, sedangkan di negara – negara lain riset itu mengarah pada anak – anak balita. Temuan Soemantri ini menjadi rujukan penting di dunia kedokteran internasional.

Pantur Silaban untuk Sains. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang mendalami Teori Relativitas Umum. Silaban berhasil membangun persamaan gerak rekativistik untuk partikel titik. Di kancah internasional, karya yang ia kemukakan kemudian dikembangkannya bersama Joshua Goldberg ini digunakan oleh para fisikawan yang datang kemudian untuk mempelajari gerak partikel di sekitar lubanghitam dan bintang neutron. Penyingkapan perilaku lubanghitam ini membuka jalan bagiupaya untuk mendapatkan gambaran scenario masa depan alam semesta. Silaban juga mengembangkan metode matematika dalam melacak konsep simetri untuk menjembatani fisika klasik yang serba deterministic dengan teori medan kuantum yang serba statistik dan diliputi ketidakpastian.

Dalam ranah teknologi kita mengenal Warsito Taruno. Ia menemukan dan terus mengembangkan electrical capacitance volume tomography(ECVT), yakni suatu teknologi tomografi volumetrik berdimensi empat. Dengan terobosan besar ini, ruang dalam mesin dan manusia serta berbagai dinamik yang bekerja di dalamnya bias tergelar jelas dengan citraan tiga dimensi dan seketika. ECVT juga dapat merekam obyek – obyek bergerak yang berada di dalam talang tertutup, apa pun bentuk geometrinya. Pencitraan volumetrik dinamis ini menggunakan prinsip medan listrik statis yang terukur. Temuan Warsito diperkirakan akan mengubah drastic perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang, termasuk nanoteknologi dan kedokteran.

Karya penelitian yang telah diterapkan secara luas tersebut menunggu penghargaan lainnya!.