Jumat, 20 Agustus 2010

KOTA BESAR




Di awali oleh Delhi. Delhi-pada peringkat empat dunia- mencatatkan diri sebagai megacity dengan populasi penduduk di kota itu sebesar 23,200,000 jiwa, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 4.60%. China menempatkan Shanghai pada jajaran kota besar dunia dengan populasi sebesar 18,400,000 jiwa dan pertumbuhan tahunan 2.20%. Sementara Jakarta, ada pada urutan ke-14 dengan populasi penduduk sebesar 15,400,000 jiwa dan pertumbuhan tahunan dua persen.



Lalu, apa yang membuat kita senang ataupun bangga?. Megacity dengan segala kosmopolitannya menyimpan sejumlah masalah-yang telihat sebagai tip of iceberg. Di awal tahun 1800, hanya tiga persen penduduk dunia yang bermukim di kota. Pada akhir abad ke 21 terjadi kenaikan sebesar 47 %. Ironis karena, kita semua tahu problema yang terjadi di kota besar. Semuanya dipaksakan untuk ada di kota besar. Jakarta misalnya, apa yang tidak ada di sana?. Pusat pemerintahan, pusat pendidikan terbaik, pusat gaya hidup modern. Sehingga ada yang menjuluki Indonesia Raya itu, ya, Jawa Raya. Pembangunan pesat di kota besar. Yang dulunya blok horizontal, kini vertikal. Blok-blok vertikal yang benar- benar mencakar muka langit. Kawasan yang dulunya langganan banjir sudah hilang. Banjirnya disuruh pindah!.

Masalah menyeruak saat banyak hal dipaksakan. Ledakan perilaku urbanisme. Kemacetan dimana-mana. Statistik resmi menunjukkan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang meningkat drastis tanpa dibarengi dengan jumlah jalan raya yang ada, apalagi Ruang Terbuka Hijau.

Namun tidak ada masalah tanpa solusi. Masalah membuat kita lebih kontemplatif. Memikirkan banyak aspek dalam pembuatan keputusan. Ensiklopedia bebas-Wikipedia-menyajikan tantangan – tantangan kota besar. Bukan masalah kota besar. Setidaknya ada empat tantangan besar. Pertama, adalah Permukiman Kumuh. Selama rentang waktu 15 tahun sejak 1990 hingga 2005, Amerika Serikat mencatat penurunan sebesar 10 persen mengenai penduduk di permukiman kumuh. Tapi hal itu-jumlah permukiman kumuh- ternyata berbanding linier dengan peningkatan populasi karena migrasi massif baik masuk ataupun keluar kota. Tantangan pertama adalah minimnya akses ke pendidikan layak, kesehatan layak, dan perekonomian yang layak.

Tantangan kedua karena kehilangan tempat tinggal. Karena seiring pembangunan yang dilematik karena kaum yang terpinggirkan dan tidak memiliki surat tinggal resmi sering tergusur. Ketiga adalah tantangan lalu lintas. Tantangan karena semakin banyak kendaraan, semakin sempit jalan raya, dan bertambahnya waktu tempuh.

Keempat adalah tantangan polusi udara. Polusi udara sebagian besar kota besar dikarenakan pembakaran bahan bakar fosil(fossil fuel). Bahan bakar fosil yang berusia ratusan tahun menipis hanya pada beberapa dekade. Hal ini linier dengan supply and demand. Mustahil juga peningkatan penduduk yang drastis, namun kebutuhan akan bahn pokok statis.

Berbagai masalah di atas hendaknya menggugah semua pihak. Terutama para pembuat kebijakan. Sinkronisasi pembangunan di daerah dan pusat. Papua adalah surga. Banyak potensi yang belum tergali. Maksimalisasi potensi dan kearifan lokal. Hingga suatu saat kita lihat persebaran penduduk yang dinamis. Anak asal Surabaya  akan pergi ke Bandung karena aspek kreativitasnya. Para sarjana pertanian dan pertambangan asal Jawa Barat akan berbondong-bondong ke Papua karena hendak memaksimalisasi Sumber Daya Alamnya. Hingga semua potensi negeri ini tersebar. Kita memiliki lebih dari cukup orang pandai dan berbakat. Saatnya mereka semua menyebar. Berpendar untuk menunjukkan kilau negeri.



Minggu, 08 Agustus 2010

65 TAHUN REPUBLIK INDONESIA


“…pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa,pribadi bangsamu, ayo maju, maju…”

Kurang dari dua minggu lagi, tanah air beta, Republik Indonesia berusia 65 tahun.65 tahun merdeka meninggalkan 3,5+ abad diinjak-injak bangsa lain. Tapi kita masih tetap berdiri. Eksis. Merenungi pencapaian negara ini mengesankan juga. Kontemplatif.

Harian surat kabar beberapa hari lalu menunjukkan kinerja ekonomi RI semester I-berdasarkan data Biro Pusat Statistik-tumbuh sebesar 5,9 persen. Hal itu, artinya diluar perkiraan. Tapi yang masih harus diperkirakan adalah kinerjanya harus lebih baik. Hendri Saparini dari Econit menegaskan bahwa sektor pengolahan harus didorong agar Indonesia mampu berdaya saing. Dijelaskan, setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan menyerap tenaga kerja sebanyak 500.000 orang. Jadi bias dibayangkan bahwa pertumbuhan ekonomi 7 persen dan lebih itulah yang akan menjadi jawaban masalah pengangguran di Indonesia. India yang sekarang bergabung di BRIC memilki rata – rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen.

Indeks investasi menempatka Indonesia pada jajaran negara yang iklim investasinya kondusif.

Bidang pendidikan pun tak kalah membanggakan. Universitas Indonesia berada pada jajran 200 besar universitas trbaik sedunia. Nomor lima se-Asia Tenggara, dan nomor 34 se Asia. Lalu apanya yang harus diperbaiki lagi?

Birokratnya. Mental para birokrat di Indonesia. Agar (semoga)korupsi bukan menjadi budaya. Tulisan Limas Sutanto di The Jakarta Post layak disimak. Karena akhir – akhir ini media dihiasi berita tidak menyenangkan. Diantaranya tabung LPG meledak, aksi Satpol PP, kenaikan tarif dasar listrik, kemacetan massif, kecelakaan kereta api, penyerangan terhadap aktivis antikorupsi. Disebutkan oleh Limas Sutanto bahwa hal itu sebagai ‘diberkahi dengan pengalaman – pengalaman menyakitkan yang tak henti – hentinya.’ People in this country are unceasingly overwhelmed by painful experiences. Tapi para birokratnya mungkin, bisa jadi, lebih suka menyebut pengalaman berhadapan dengan maut  sebagai konsekuensi(consequences-disingkat C)dari beberapa kejadian yang sedang berlangsung (activating events-disingkat A). Maka itulah Logika A-C para birokrat dan pembuat kebijakan. Mungkin, bisa jadi.

Semua ledakan tabung LPG itu disebabkan karena kebiasaan masyarakat kita yang menggunakan minyak tanah dan masih belum siap dengan konversi ke LPG. Kecelakaan kereta api adalah konsekuensi dari infrastruktur rel kereta yang kurang-dan sering dicuri besinya. Aksi Satpol PP adalah konsekuensi dari perilaku masyarakat yang tidak mau diatur sehingga lahirlah aksi represif. Kemacetan lalu lintas yang massif adalah konsekuensi dari jumlah kendaraan bermotor di jalan raya.

Dengan logika A-C itu kehiduopan masyarakat yang berkali – kali terancam(agonizing)tidak dihiraukan.masyarakat tidak mampu mencela para birokrat maupun pembuat kebijakan. Jika mereka mencela, ya cela-lah realitas, karena realitas itu sendirilah yang membawa pengalaman menyakitkan.

Paul Chadwick, Max Birchwood, dan Peter Trower mencelanya. Dikemukakan Logika A-B-C(Activating event-Belief-Consequence ). Bahwa pengalaman menyakitkan yang terjadi di masyarakat (C)bukanlah hasil dari realitas yang telah ada pada masyarakat(A). konsekuensi di sini lebih disebabkan akibat dari kebijakan yang telah dibuat oleh para birokrat dan pembuat kebijakan yang menggunakan personal Belief-(B)nya dalam mengartikan relitas yang terjadi (A).

Jadi pada konteks mereka aktivis antikorupsi adalah bahaya besar, jadi harus dimusnahkan. Mental para birokrat dan pembuat kebijakan yang masih mengejahwantah ide bahwa”kepentinganku lebih tinggi dari apapun”udah saatnya dihilangkan. Ide aneh.

Dari segi Logika A-B-C mayoritas ledakan tabung LPG di rumah penduduk tidak bisa di hubungkan dengan ketidaksanggupan masyarakat terhadap penggunaan gas dengan layak dan benar. Ledakan tersebut adalah konsekuensi dari realisasi dari para birokrat dan pembuat kebijakan yang kepentingannya jauh lebih tinggi dari apapun. Sehingga mereka tidak menghiraukan keselamatan dan jiwa masyarakat.

Infrastruktur yang kurang memadai tidak bias dijadikan alas an penyebab kecelakaan kereta api di Indonesia. Kecelakaan itu, sekali lagi, karena para birokrat danpembuat kebijakan yang masih menyimpan ide kepentinganku lebih tinggi dari apapun, sehingga tidak memasukkan penghitungan infrastruktur layak.

Sangat penting mengubah pemikiran yang ada. Selayaknya “para”tersebut memakai pendekatan Logika A-B-C bukan Logika A-C. setidaknya akan dicapai dua kesadaran. Pertama, para birokrat dan pembuat kebijakan seharusnya tidk menutup mata mengnai tanggung jawab terhadap pengalaman menyakitkan yang terjadi di masyarakat. Hal ini sangat penting agar mereka meningkatkan performa dan kinerja mereka pada pelayanan mayarakat. Yang kedua dan yang terpenting adalah bahwa kesadaran mengenai kepentingan umum lebih tinggi dari kepentingan pribadi.

Jadi, kesejahteraan adalah konsekuensi dari aksi kita selama 65 tahun.

According to Kant, what human beings can only do is to achieve personal meaning from the reality and take on the reality as “phenomena”, for example, the reality as it appears to humans.

(Limas Sutanto adalah konsultan psikoterapis d Malang. Chairman dari Divisi Fisioterapi di Asosiasi Psikiater Indonesia)

Selasa, 03 Agustus 2010

Sang Naga

Thomas Kuhn:”Anda tidak dapat memahami paradigma baru dengan memakai kosakata paradigma lama.”

Waktu berubah. Begitupula masyarakat di dunia ini. Banyak Negara bergerak sesuai progress yang dibuatnya. Sebuah peta jalan yang telah dibuat berdekade-dekade lalu. China. Tak ada habisnya membicarakan kemajuan perekonomian Negeri Tirai Bambu ini. Tulisan ini rasanya pas diturunan mengingat kini, China menuju perekonomian terbesar kedua di dunia. Tahun ini China akan menggeser posisi Jepang. Berikut petikan yang berhasil disitat dari Kompas edisi 3 Agustus 2010.

China Segera Dahului Jepang

BEIJING, Senin - Walaupun kegiatan sektor manufaktur di China melemah pertama kali dalam 17 bulan terakhir, kekuatan ekonominya akan dapat mendahului Jepang hingga menjadi negara kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. China akan menggantikan posisi Jepang tahun ini.

Menurut perhitungan Purchasing Manager Index dari HSBC yang dikeluarkan pada Senin (2/8) di Beijing, indeks PMI China turun menjadi 49,4 di bulan Juli dari 50,4 pada Juni. Indeks ini menunjukkan aktivitas di sektor manufaktur, naik atau turun. Ini penurunan pertama ke bawah angka 50 sejak Maret 2009.

Adapun menurut perhitungan PMI dari Federasi Logistik dan Pembelian China serta Biro Statistik Nasional, indeks PMI turun menjadi 51,2 pada Juli dari 52,1 pada Juni. Jika indeks PMI di bawah 50, berarti terjadi kontraksi ekonomi.

Hujan lebat dan banjir bandang yang melanda China pada bulan Juli dianggap sebagai salah satu penyebab melemahnya PMI.

Ekonom senior HSBC China, Qu Hongbin, mengatakan, penurunan ini tidak perlu dikhawatirkan. Perekonomian China diperkirakan akan tetap tumbuh sekitar sembilan persen pada tahun 2010 karena ada dukungan pembangunan infrastruktur dan konsumsi swasta.

Bank Sentral China menyebutkan akan terus mengimplementasikan kebijakan moneter yang longgar secara moderat sekaligus memerhatikan perubahan situasi domestik dan internasional. ”Tampaknya, Bank Sentral belum akan menaikkan tingkat suku bunga. Perekonomian China akan mengalahkan Jepang tahun ini,” kata ekonom China pada Bank of America-Merrill Lynch, Ting Lu.

Di akhir pekan lalu, Yi Gang, Deputi Gubernur Bank Sentral China, menyebutkan, ”Sebenarnya China telah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia.” Akan tetapi, masih belum jelas berdasarkan data apa pernyataan tersebut.

Berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP), produksi domestik bruto (PDB) China lebih besar dibandingkan Jepang. PPP itu, misalnya, bisa diukur dengan harga satu burger McDonald’s di China dan di Jepang. Pembandingan harga-harga komoditas lain di dua negara itu akan menghasilkan PPP.

PPP tak dipakai sebagai dasar penyusunan peringkat ekonomi. Namun, saat ini China telah jadi eksportir terbesar dunia, pembeli mobil dan produsen baja terbesar dunia—mengalahkan Amerika Serikat (AS)—serta pengaruh China di dunia terus berkembang.

Kuartal ketiga

Walaupun sudah makmur, masih ada jurang menganga di antara orang kaya dan orang miskin di China. Orang Jepang masih merupakan orang-orang terkaya di dunia. Pendapatan per kapita Jepang mencapai 37.800 dollar AS tahun lalu, sedangkan pendapatan per kapita orang China hanya 3.600 dollar AS. Pendapatan per kapita orang AS sebesar 42.200 dollar AS.

Namun, perekonomian Jepang sudah dua dekade terjebak penurunan sangat dalam. Adapun orang AS tengah menghadapi resesi. Kekuatan ekonomi China sedang bangkit dan menikmati kemakmuran saat ini.

PDB China pada tahun lalu tercatat sebesar 4,98 triliun dollar AS, sedangkan PDB Jepang sebesar 5,07 triliun dollar AS. Tahun 2010 ini, pada periode April hingga Juni PDB China tercatat sebesar 1,335 triliun dollar AS, sedangkan PDB Jepang belum ada laporan.

Sepanjang 2010, perekonomian China diharapkan akan bertumbuh sebesar 10 persen, sedangkan Jepang hanya 3 persen. ”Dengan data-data tersebut, diperkirakan pengambilalihan posisi Jepang akan dilakukan China pada akhir kuartal ketiga 2010,” ujar Julian Jessop, ekonom pada Capital Economi di London.

Besarnya kebutuhan China membawa keberuntungan untuk Australia, pemasok tambang untuk China, seperti baja, batu bara, dan komoditas lainnya.(AP/AFP/REUTERS/JOE)

John dan Doris Naibitt pun mengiyakan kemajuan China dengan 8 pilar. Kedelapan pialr itu saling terkait. Mereka semua adalah:

  1. Emansipasi Pikiran
  2. Peyeimbangan Top Down dan Bottom Up
  3. Membingkai Hutan dan Membiarkan Pepohonan Tumbuh
  4. Menyeberangi Sungai dengan Merasakan Bebatuan
  5. Persemaian Artistik dan Intelektual
  6. Bergabug dengan Dunia
  7. Kebebasan dan Keadilan
  8. Dari Medali Emas Olimpiade Menuju Hadiah Nobel

Disini yang paling menarik adalah tiga pilar pertama. Pilar pertama menyoroti China pada tahun 1978. Saat itu Deng Xiaoping memahami bahwa masyarakat top down yang tersentralisasi dengan sedikit ruang untuk kontribusi pribadi bukanlah persemaian yang subur bagi ekonomi pasar. Emansipasi pikiran diperlukan demi keberhasilan reformasi ekonomi yang bercirikan desentralisasi. Emansipasi pikiran melonggarkan kendali dan member lebih banyak kebebasan individu. Emansipasi pikiran menuruni jenjang sosial hingga kelompok peringkat terbawah meningkatkan citra diari mereka, memungkinkan mereka melihat nilai kontribusi mereka terhadap keseluruhan , mendorong mereka mengambil peran di masyarakat. Dilanjutkan dengan pilar kedua yang menunjukkan bahwa perkembangan dinamika arahan top down pemerintah China dan inisiarif bottom up menunjukkan sinergi yang baik. China hadir dengan karya segar. Rakyatnya membentuk model baru yang disebut “demokrasi vertikal.” Kalau kebebasan bagi bangsa Amerika berari kesempatan menentukan bagaimana mereka hidup, tidak dihalangi tindakan semena – mena orang lain, hak individu menjadi pialr utama masyarakat. China hadir dengan kearifan khas timur. China maju dengan dua pandangan –yang juga inti ajaran Konfusius-ketertiban dan harmoni masyarakat. Hanya ketertiban yang dapat memberikan kebebasan sejati.ketertiban tidak mengekang, tapi menciptakan ruang untuk bermanuver. Maneuver positif tentunya.

Selama ribuan tahun China adalah autrokrasi feodalistis. Diperintah sepenuhnya secara top down, dan bottom up ditekan. Maka , demokrasi vertikal China didasarkan pada keseklarasan kekuatan top down dengan bottom up. Demokrasi a la Barat tidak dibangun dalam satu generasi. Proses pematangannya memakan waktu ratusan tahun. Disini China mengemuka dengan demokrasi hasil satu generasi!.

Maka berita di atas layak diapresiasi tinggi. Dan juga harus membuat kita kontemplatif. Bukan malah pragmatis. Praktis. Jiplak kasar. Alam Konstitusi 1978, peta jalan China sangat jelas:

1980-1990:Melipagandakan PDB

1990-2000:Melipatgandakan PDB

2000-2050:Menyelesaikan Modernisasi Bangsa

Pertanyaannya kini hanya satu. Dimana posisi Indonesia. Empat perekonomian terkuat dunia kini sudah memiliki konstelasi sosio-politik-BRIC. Sangat keren jika ditambah satu ‘I’lagi-menjawab semua perkiraan pakar. Indonesia.!

CHINA’S MEGATRENDS:8 PILAR YANG MEMBUAT DAHSYAT CHINA

PENULIS:JOHN&DORIS NAISBITT

PENERBIT:GRAMEDIA, 2010

ISBN:978-979-22-5842-4

TEBAL:XV+251 HALAMAN