Minggu, 31 Januari 2010

Problema Negara Berkembang(1)

Laporan Pembangunan dan Perdagangan 2009 olehUNCTAD mengkategorikan negara – negara di dunia yang berekonomi kuat pada tiga tipe.

Tipe Negara Industri Maju. Di dalamnya berisi banyak negara Eropa dan Amerika. Australia, Autria, Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Yunani, Hogaria, Eslandia, Irlandia, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat ‘bersesakan’ pada tipe ini.

Tipe Pasar Berkembang. Mayoritas berisi negara – negara di kawasan Asia. Argentina , Brasil, Cile, China, Hongkong, Taiwan, India, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Peru, Filipina, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, Thailand dan Rusia.

Tipe Ekonomi Transisi adalah duo Kazakhstan  dan Rusia. Tiga tipe tersebut juga yang paling sering membuat berita heboh dunia. Banyak yang bernada positif karena berhasil membuat prestasi gemilang, ada juga yang kian terjerembab.

Tahun 2009 ditutup manis dengan banyak catatan dari pulihnya krisis ekonomi. Subprime mortgage di Amerika Serikat tak terlalu menggoyahkan negara – negara di dunia. Dubai, anggota Uni Emirat Arab yang dikbarkan sempat terpuruk dengan mengesankan ditandai dengan persmian Burj Dubai, yang kemudian bergnti nama menjadi Burj Khalifa, sebagai bangunan tertinggi di dunia dengan tinggi hamper satu kilometer- 818 meter. Dubai  banyak menyisahkan decak kagum akan proyek – proyek yang ‘memaksa’ teknologi hingga batasnya. Sebutlah Burj Khalifah, Palm Jumeirah, The World.

Kabar baik juga kita saksikan saat trio negara Eropa telah menjadi Ibu Kota Budaya Dunia oleh UNESCO. Program PBB mengenai edukasi, sains, dan budaya itu telah menetapkan kota Essen (Jerman), Pecs(Hungaria), dan Istanbul (Turki ) sebagai ibu kota budaya Eropa. Nama Turki menjadi menarik disimak, karena negeri itu sdang giat – giatnya masuk jajaran negara Uni Eropa.

Amerika Serikat kian mendapatkan sorotan tajam saat Komite Nobel menganugerahi pemimpinnya penghargaan kemanusiaan tertinggi-Nobel Perdamaian 2009. banyak yang salut, tapi juga banyak yang skeptis-optimis. Lebih banyak yang skeptis-optimis. Pihak yang apatis tersebut menilai bahwa penghrgaan itu mengkritisi si penerima mengenai aksinya yang belum nyata dalam hal perdamaian dunia. Yang nyata adalah penambahan pasukan invasi ke negara – negara yang telah diinvasi negeri kapitalis itu. Sejak awal penghargaan bidang perdamaian itu controversial, tapi juga sangat ditunggu. Rilis persnya di Oslo  menjadi yang paling dinanti jurnalis di awal Okober setiap tahunnya.

Yang paling membuat trenyuh dan miris adalah apa yang terjadi di negara di Tipe Pasar Berkembang. Kelompok militant di Filipina membantai jurnalis. Belum lagi kasus banyak jurnalis yang tewas di negara konflik telah menambah jumlan jurnalis yang tewas, terbunuh ataupun disandera selama tahun 2009.

Problema negara berkembang bagaikan siklus. Pembunuhan – pembantaian-pelanggaran HAM yang lain. Selalu berada pada lingkaran pelanggaran HAM. Masalah infrastruktur yang tidak memadai, edukasi yang kian apa adanya, permukiman kumuh menjadi permasalahan yang masih belum usai.

Tapi kini negara berkembang semakin bergerak maju. Mencoba menggeser dominasi negara maju. Di banyak sector negara berkembang berhasil mentransformasikan problemanya menjadi sebuah prestasi. Kita dikejutkan dengan konstelasi ekonomi dari empat negara yang terkenal dari singkatannya-BRIC-Brasil, Rusia, India, China. Kisah sukses perekonomian keempat negara itu menjadi wacana di banyak harian, surat kabar seluruh dunia. BRIC dengan tegas meminta pewacanaan ulang dolar sebagai tolak ukur mata uang internasional. Keeksistensian Amerika Serikat diperdebatkan. Tak dipungkiri, bahwa keemapt negara itu yang kini paling berpengaruh.(bersambung)

Minggu, 17 Januari 2010

REALITAS:SEBUAH ILUSI(2)

“untuk mereka, aku katakan, kenyataan tidak lebih dari bayangan – bayangan imajinasi.”Plato, dari “The Republic”

Bayangan – bayangan dan warna – warna dari cahaya adalah proyeksi kasar dari realitas yang “lebih nyata”. Alam semesta yang kita hidaup didalamnya menunjukkan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang hanya ilusi, dimana tubuh – tubuh , pikiran – pikiran, dan planet – planet adalah bagian dari trik magis tanpa pesulap ataupun audien.

Ilmuwan di Hanover, Jerman, bekerja di GEO 600, instrumen yang mendeteksi gelombang – gelombang gravitasi, percaya mereka telah menemukan sebuah “granulasi” di ruang-waktu yang mengindikasi bahwa alam semesta kita tak lebih dari hologram raksasa.

Mereka yang bertanggung jawab untuk GEO600 percaya bahwa, pada cara yang sama sebuah gambar digital kehilangan resolusi dengan signifikan meningkat pada ukurannya, interferensi yang tertangkap pada detektor dapat diartikan sebagai resolusi terbatas alam semesta dari apa yang mampu disediakan mata manusia. Terdapat poin eksak dimana hologram dari realitas “memperbesar” dirinya.

Para ilmuwan percaya bahwa presisi dari GEO600 mampu mendeteksi variasi – variasi pada gelombang longitudinal pada skala subatomik, menyajikan penemuan dari bulir – bulir terkecil yang membuat alam semesta 3D holografik, diproyeksikan dari batasan – batasan bidimensi dari interiornya.

Kamu dan Aku hanya Hologram

Ide dari alam semesta holografik bukanlah hal baru. Pada tahun 90- an, ilmuwan Leonard Susskind dan Gerard Hooft berpendapat bahwa prisip yang sama yang membuat gambaran 2D pada permukaan rata terlihat 3D dapat diaplikasikan pada seluruh alam semesta.

Lalu, mengapa perasaan kita merasakan realitas pada suatu kejelasan dan cara yang “berisi” jika kita muncul tidak lebih dari bayangan pada layar datar?Masalahnya bisa jadi bahwa mata anusia dan lensa teleskop menyesuaikan kepada realitas sebagai sisa dari alam semesta.

Poin kedua menghubungkan bahwa otak organik kita dapat juga ditemukan dalam ilusi, tanpa mampu mengartikan alam semesta dengan lebih hebat atau lebih sedikit dari dimensi yang dapat kita rasa.

Neurofisiolog Karl Pribram, pemilik Pusat Riset Cerebral di Universitas Radford di Virginia berpikir bahwa otak kita adalah hologram yang mengartikan hologram alam semesta, konstruksi matematis sebuah realitas mengartikan frekuensi – frekuensi yang datang dari dimensi lain- domain yang realitas signifikan yang melebihi ruang dan waktu.

Meskipun teori dari alam semesta holografik terhadap dua spesial dimensi bentrok dengan teori – teori multidimensi meningkat dari akar teori superchord. Sebelum ini ditandai sebagai hipotesa berbeda, banyak ilmuwan telah berkeyakinan bahwa alam semesta adalah hologram atau ilusi yang tercipta oleh partikel dalam kekosongan. Bagaimanapun, semua usaha saintifik untuk mengkomrehensikan kenyataan ditengah fatamorgana telah menjadi jebakan pada kondisi frustrasi dari teori – teori yang tak terbukti.

Banyak teoris sebelumnya berpendapat bahwa pelanggaran yang mengganggu pada ranah fisika kuantum dan relativitas dapat menjelaskan secara historis fenomena yang diperdebatkan pada ranah saintifik, seperti seseuatu yang mana pikiran tak diasosiasikan pada otak. Seperti pengalaman mendekati kematian, visi tersendiri (jauh), dan prekognisi.

Pada kasus apapun, alegori Plato, terlihat seperti opsi yang paling rasional kini untuk menjelaskan pengalaman – pengalaman harian ini yang mana otak kita artikan sebagai kemunculan nyata dari dunia.

Epoch Times

REALITAS:SEBUAH ILUSI(1)

Tiap aksi dan semua materi yang telah dikembangkan pada kesesuaian alam semesta kita tahu sebagai realitas. Gagasan bahwa jagat raya kita berlalu seperti mimpi raksasa, atau seperti produk sangat kompleks program realitas virtual, lebih dekat menyerupai teks fiksi-ilmiah cerdik daripada dunia tak sempurna saat kita beraktivitas tiap hari.

Bagaimanapun, realitas yang kita amati terlihat kontras dengan logika saintifik, jika kita merasa bahwa materi ada secara kasar. Blok – blok konstruksi dari materi terlihat adalah atom  - atom, yang mana hanya nuklei kecil yang ada di tengah kekosongan spasial, dikelilingi oleh partikel – partikel tak terlihat (elektron) yang mengorbit pada kecepatan luar biasa. Jika tubuh kita diletakkan di bawah mikroskop super kuat, apa yang akan terliahat terutama adalah lautan debu pasir kasar pada pergerakan yang terus menerus.

Berdasarkan penelitian terbaru pada ranah fisika kuantum, semua yang kita ketahui sebagai materi- perekat solid dari apa yang muncul menjadi komposisi realitas- bukanlah apa – apa melainkan fluktuasi – fluktuasi kuantum pada pusat jagat raya kosong.

Sekelompok fisikawan tang dipimpin Dr. Stephen Durr dari Institut John Vin Neumann di Jerman mengonfirmasi bahwa jumlah dari tiga partikel subatomik yang menyusun proton – proton dan neutron – neutron (disebut quark) merepresentasikan satu persen dari total massanya.

Beberapa tanda menunjukkan bahwa sisa massa nuklir terdiri dari gluon – gluon, partikel – partikel sementara yang menggelembung di tengah kekosongan berfungsi menjaga trio quark di dalam proton dan neutron. Fakta ini menunjukkan hipotesis yang meungkin realitas hanyalah fluktuasi – fluktuasi dari kekosongan yang sama sekali kosong.

Kenyatan Lain

Apa yang kita lihat dengan mata fisik kita secara sempurna tereduksi menjadi kenyataan yang menyenangkan. Menempatkan sepasang bola mata yang mampu melihat hanya partikelmikroskopik akan membuatnya mungkin untuk kita mengamati dengan objek yang begitu besar, seperti objek yang biasa berinteraksi adalah komposisi dari miliaran partikel mikroskopik.

Menurut biolog Richard Dawkins, batuan hanya terasa keras dan tak mampu penetrasi tangan kita karena mereka tak mampu penetrasi satu sama lain. Untuk kita, itu erguna untuk memahami kekerasan dan kesolodan dan membantu kita mengatur dunia.

Navigasi adalah realitas ilusi, kita telah menerima bahwa suatu tempat di alam semesta realitas lain dapat ditemui. Ada raksasa tidur, gelembung gila, bahkan mungkin Tuhan.

Saat realitas dari partikel tak lebih dari asap dan bayangan, ini bisa jadi bahwa eksisitensi nyata dari semua objek di kosmos berada pada satu atau lebih jagat raya- jagat raya paralel. Banyak ilmuwan berspekulasi seperti itu, seperti bayangan objek 3D bisa objek 2D di tanah, suatu alam semesta multidimensi (Seperti kasus Teori Dawai) dapat menjelma bayangan pada ruang 3D.

Jika teori ini benar, tiap objek dan organisme di dunia ini tidak akan lebih dari representasi kaar terhadap objek – objek danorganisme di alam semesta yang lebih “nyata”. Serupa dengan teori ini, eksistensi dari pikran ekstrajasmani pada dimensi lain mungkin adalah penjelasan ideal untuk :kenapa kita memeiliki memori, sebagaimana atom – atom di otak kita tergantikan ratusan kali dalam hidup. Menurut Dawkins, bukan satu atom yang menyusun tubuh kita kini, juga ada sejak kejadian yang mampu kita ingat dikala anak – anak.

Steve Grand, pengarang “Creation:Life And How To Make It” berasumsi bahwa materi bergerak dari satu tenpat ke tempat lain dan berkumpul lagi suatu saat sehingga kamu adalah kamu. Lebih jauh, kamu bukanlah materi dari yang mana kamu dibuat. Ini kan menyatakan secara tak langsung bahwa tubuh nyata kita berada di suatu ruang yang kita tak mampu berkomprehen-sementara tubuh virtual, bisa jadi apa yang kini kita sebut realitas.

Epoch Times

 

SUPERATOM:MIMIKRI ELEMEN

Pada abad ke 21, para ilmuwan memeperkenalkan lagi topik alkimia. Tiga periset dari Pennsylvania State University telah menunjukkan bahwa kombinasi istimewa dari elemen – elemen atom memiliki tanda – tanda elektronik yang meniru elemen – elemen lain.

Penemuannya dapat memacu kepada material yang lebih murah untuk aplikasi skala luas terhadap sumber energi baru, metode pengurangan polusi, dan katalis – katalis yang mana industri nasional tergantung pada proses kimia.” Kata pemimpin riset A. Welford Castlemen Jr, Eberly DistinguishedChair in Sciences, dan Evan Pugh, profesor di departemen Kimia an Fisika pada rilis persnya.

Para periset mendemostrasikan bahwa atom – atom yang kini teridentifikasi sebagai menjadi peniru dapat diprediksi dengan melihat pada tabel periodik. Tim menerapkan eksperimen dan teori tingkat lanjut untuk mengukur penemuan yang mengejutkan tersebut

Kami mendapatkan seluruh perspektif dari tabel periodik.” Kata Castleman.

Penemuan tim telah dipublikasi pada edisi online 29 Desember, jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Castlemen dan timnya menggunakan teknik yang diketahui sebagai photoelectron imaging spectroscopy untuk menguji kemiripan antara titanium monoksida dan nikel, zirkonium monoksida dan paladium , dan tungsten karbida dan platina.

Photoelectron spectroscopy menguur energi yang diambil untuk memindahkan elektron dari variasi tingkat elektron dari suatu atom atau molekul, secara simultan menangkap gambaran – gambaran dari perbedaan elektron dengan kamera digital.” Kata Castleman.

Metodenya memungkinkan kita menetukan energi ikat dari elektron dan juga mengobservasi secara langsung keadaan orbital yang mana didiami elektron sebelum terlacak.”

Mereka menemukan bahwa sejumlah energi dibutuhkan untuk memindahkan elektron dari molekul titanium monoksida sama dengan energi yang dibutuhkan untuk memindahkan elektron dari atom nikel. Kesamaan juga ditemui pada kasus sistem zirkonium monoksida dan paladium, serta tungsten karbida dan platina.

Lebih jauh, molekul titanium monoksida, zirkonium monoksida dan tungsten karbida secara masing – masing adalah superatom-kelompok atom yang menunjukkan beberap kecocokan terhadap atom – atom elemental- ari nikel , paladium,dan platina.

Castleman mengatakan bahwa beberapa kemiripan antara atom dan superatom dapat menghemat banyak biaya.

Platina digunakan sebagai katalis pengubah di automobil, tapi itu sangat mahal. “kata Castleman

Kontras, tungsten karbida yang mana menyerupai platina, itumurah. Sejumlah uang yang signifikan dapat dihemat jika katalis pengubah mempu menggunakan tungsten karbida daripada platina. Samahalnya, paladium digunakan pada kebanyakan proses kombusti, juga dimiliki oleh zirkonium monoksida, yang mana sedikit cukup mahal pad faktor 500. penemuan baru kami sangat mengasyikan untuk saintifik juga cara pandang praktikal.”

Castleman berkata bahwa dia tidak tahu jika polanya akan terjadi lintas seluruh tabl periodik. Kini, dia dan timnya sedang meriset melalui atom – atom logam transisi.

Di masa depan, mereka merencanakan mengambil roset selangkah lebih jauh menginvestigasi apakah superaom mirip secara kimiawi dengan atom sederhana.

Helena Zhu, staf Epoch Times

NOBELIS:CHINA TAK BERUBAH , BEGITUPUN SAYA

Gao Xingjian, seorang penulis terasing dan pada tahun 2000 menerima Hadiah Nobel Sastra, merayakan ulang tahun ke – 70 nya pada tanggal 4 Januari. Sebuah simposium mendiskusikan karya san idenya telah diselenggarakan di Sekolah Studi Timur dan Afrika di Universitas London.

Gao adalah satu – satunya penerima Nobel Sastra kelahiran China. Karyanya termasuk drama seperti Bus Stop dan Signal Alarm, dan juga novel – novel seperti Soul Mountain dan One Man’s Bible.

Gao diwawancarai oleh BBC-Chinese.com sebelum simposium.

Merasa Beruntung dan Menikmati Kehidupan Ketiga

Gao menyatakan bahwa dia mengalami tiga kehidupan selama 70 tahun. Yang pertama di China, kedua di Paris, dan yang ketiga adalah saat mengalami sakit parah setelah menerima Hadiah Nobel. Dia merasa sangat beruntung dapat menikmati kehidupan ketiganya.

Dia lahir di China, tumbuh di China , dan hidup selam 47 tahun di China. Walaupun rezim China  sngat tidak peduli dengan raihan Hadiah Nobel – nya pada tahun 2000, dan lebih jauh membrikan keterangan bahwa Komite Nobel memiliki ‘motif politik tersembunyi.’

Gao, bagaimanapun, mengatakan dia tidak kecewa, karena karyanya sudah dilarang di China sebelum dia dianugerahi Hadiah Nobel. Dia menambahkan, “Ini seperti beberapa dekade. China tak berubah, begitupun saya.”

Beberapa orang mempertanyakan kewarganegaraannya. Tapi Gao pikir ini adalah isu politik yang mana tak berarti terhadap kreativitas menulis.

Menjadi warga Perancis selama 18 tahun, dia berkata sebenarnya lebih suka menyebutnya warga dunia karena dia bepergian keliling dunia lebih banyak daripada menghadiri acara – acara yang berhubungan dengan kesusastraan.

Politik dan Sastra

Pada pidato penerimaan Hadiah Nobel, Gao mengatakan, “ Alasan sastra China abad 20 menjadi bencana, setelah yang lainnya yaitu bertahn hidup, adalah karena politik mendikte sastra.”

Dia bercerita pada BBC-Chinese karena pengaruh Marxisme, penulis China abad 20 cenderung memiliki sikap politik yang kuat dan terpengaruh pada politik, dan sering menderita konsekuensi yang merisaukan sebagai akibatnya.

Seorang penulis mengorbankan karya kreatifnya dan menjadi pembicaraan politik, atau dia tidak setuj dengan pemerintah saat pemerintah berlaku salah, dia akan tertekan.”

Dia pikir bahwa diluar jangkauan politik seorang penulis sebaiknya memiliki sendiri pandangan kemerdekaannya, dan karya seorang penulis seharusnya secara utama merefleksikan kehidupan dan masalah – masalah umum manusia dalam hidup, yang mana akan lebih hebat daripada politik pasti.

Budaya Internet

Gao juga membagi pandangannya terhadap bagaimana budaya China  telah memengaruhi budaya dunia setelah internet menjadi subur di negara itu dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Walaupun dia tidak menggunakan internet, dia menyebut dampak positif (internet)untuk China : masyarakat China menjadi lebih terbuka pikirannya, menerima informasi baru yang datang dari seluruh dunia, dan itu berperan dalam pertukaran budaya.

Dia juga menghimbau krisis tersembunyi yang kini ada di China, contohnya mental patriotik, dia mengatakan bahwa dia akan menjadi sedikit curiga saat intelektual terlalu tegas terhadap budayanya sendiri, untuk hal itu bisa jadi beberapa motif politik dibelakngnya.

Ji Wei, BBC-Chinese.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 16 Januari 2010

MEMPERBAIKI!

[Bukan sekedar gagasan dengan ide sederhana]

He who stops being better, stops being good.”(Oliver Cromwell, politikus Inggris , 1599-1658)

Plot:Suatu keadaan amburadul. Kacau balau adalah sebuah rutinitas harian. Saling berperikemanusiaan antar sesama merosot. Merosot hingga level paling dasar.

Manusia, spesies dengan segala kompleksitas. Mendiami suatu planet biru indah nan elok. Bersandingan dengan sesama spesies. Memiliki ‘sertifikat hak milik’ untuk mendiami planet tersebut. Memiliki kewajiban sederhana pun riskan: menjaga bumi.

Memiliki ‘hak’ itu membuat manusia pongah. Dengan volume otak yang mengesankan [tapi belum tentu paling cerdas], mencoba mengembangkan keefektivan sekitar. Semua sumber daya dilahap habis. Menyisakan residu yang menyesakkan. Tanggung jawab sosial sangat hampa.

Alam sudah sangat buruk. Berlubang – lubang, kuning pucat dan tak terawat. Lalu kiranya apa yang akan dilakukan manusia dalam rangka melaksanakan kewajiban tersebut?

Memperbaiki menjadi pilihan terbaik dan ter-relevan dengan kondisi lingkungan sekitar. Alih – alih merubah, sebenarnya kita hanya butuh menjalankan suatu perbaikan. Beberapa setuju beberapa skeptis.” Perubahanlah yang mutlak!”, suatu saat kiranya ide itu menyembur keluar.

  Perbaikan berarti tak berarti apapun. Tapi tetaplah perbaikan yang akan menyelamatkan kita. Memperbaiki semua aspek. Perilaku, kebiasaan juga sifat. Mulai menutup lubang yang menganga. Memebrikan lagi ‘warna’ pada pohon yang membosankan dengan mono-warna. Membirukan lagi samudera yang kian ‘berwarna’ kusam.

Perubahan. Sebuah opsi yang [bisa jadi, kalau bukan memang] diimpikan banyak pihak. Apa yang akan dirubah? Sistemkah?. Pastinya harus sistem itu. Tapi bukankah pada awalnya suatu sistem memang baik dan fungsional. Ibarat jembatan, kumpulan logam itu berbeda dengan beton. Jika beton retak, maka jembatan rapuh karena siklus panas- dingin. Hingga diberi suatu sistem pengaman; expansion joint.

Jadi apa yang kiranya sanggup dirubah? Sistemkah?atau sang pelaku sisitem itu. Intinya bukan sektor vital itu yang dirubah. Semestinya sisitemnya diperbaiki, termasuk juga tata cara dan si pelaku sistem itu. Agar supaya tidak terjadi hal – hal yang dalam bahasa kerennya kini berdampak sistemik!

Seorang arsitek pernah berujar, “Jika kau ingin menghancurkan sebuah lumbung: buatlah lubang satu meter persegi diatasnya, lalu tinggalkan.”

make the big change through wise improvements!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 12 Januari 2010

KEBERADAAN KEHIDUPAN


Apakah ada kehidupan setelah kematian, dan apakah esensi dari keabadian berada pada jiwa ‘atomik’?

Sederhananya, tubuh manusia mati tiap dekade. Setiap sel bereproduksi, menghilang, dan diganti dalam frekuensi yang spesifik, tergantung pada tipe sel itu (otot, jaringan penghubung , organ , syaraf, dan lainnya). Bagaimanapun, sel – sel pada wajah kita tulang, atau darah mati dalam hitungan jam, hari atau tahun. Sementara itu tubuh kita yang ter-remajakan itu, memelihara kesadaran.

Jadi, dimana keberadaan kesadaran?Apakah itu kekebalan terhadap siklus hidup dan mati yang dialami tubuh fisik kita? Apakah itu kehidupan? Dan apa pula yang menentukan kematian?

Jawaban dari tipe – tipe pertanyaan ini sering dijumpai disuatu tempat antara sains dan filsafat- belum juga kemampuan menentukan kapan kehidupan bermula, berakhir, dan dimana itu berada adalah hal – hal yang tak dapat ditanyakan relevansinya untuk komunitas saintis yang tergabung dalam penemuan eksistensi organisme hidup pada masa depan eksplorasi – eksplorasi ruang angkasa. Masuk ke dalam materi – materi ini juga keputusan yang lebih baik untuk menjelaskan poin eksak suatu kematian dalam harapan: lebih ahli dalam metode – metode reanimasi dengan organisme biologis.

Atom Abadi

Berdasarkan biologi modern, mempelajari- termasuk variasi – variasi stimulasi lingkungan, dan penetapan remifikasi dendrit keseluruhan kehidupan- kini dikenal sebagai “penyimpanan informasi neuron.”

Jenis penyimpanan ini cepat, tapi tak seefiisien informasi genetik. Suatu kemasan informasi genetik dikirimkan dari satu generasi ke generasi tanpa perlu proses belajar yang menjemukan.

Cetak biru tubuh kita ada pada anak kita secara genetis. Warna rambut, bentuk tubuh, protein plasmatis, atau jasmani istimewa lainnya disimpan dalam suatu kemasan informasi genetik yang dibawa dari generasi ke generasi.

Apakah ini menjelaskan keabadian? Tidak sama sekali. Dalam kombinasi gamet – gamet yang mendahului kesuburan, persentase yang besar dari gen hilang dalam proses formasi zigot.

Tak dipungkiri, beberapa saintis setuju bahwa pikiran dan tubuh beralur terpisah. Setelah siklus dari kehidupan telah final. Menurut doktor Rene Severijnen dan Ger Bongaerts- para peneliti di pusat medis Univesitas Radboud Nijmegen di Belanda- kehidupan memiliki level – level berbeda. Mereka mencatat bahwa sel – sel mati relatif cepat, atom – atom abadi secara virtual.

Menurut Bongaerts, kematian suatu atom signifikan dengan materi menjadi energi- hal yang sama terjadi pada detonasi bom nuklir. Bisa dikatakan, bahwa ketika tibuh mendekomposi ke dalam morgue (level peluruhan seluler), nuklei atomik tak terdegradasi. Di lain pihak, bisa dikatakan bahwa tiap kematian suatu jasad memilki potensi bahaya bom nuklir.

Aktivitas atomik tak berakhir dengan kematian, jasi apa yang terjadi dengan atom – atom ini saat seseorang mati?

Jika kita memelajari kepercayaan dari kebudayaan Timur kuno, dikatakan bahwa manusia menempati beberapa tubuh yang terdiri dari beberapa lapisan. Penjelasannya, kita tahu saat tubuh dalam keadaan dekomposi morgue, lapisan seluler tak berintegrasi (tubuh fisik). Sementara itu atom – atom miniscule di dalam sel, berada pada dimensi kedap terhadap peluruhan, mempertahankan komposisi aslinya.

Jadi “ tubuh – tubuh “ ini terbuat dari partikel yang lebih kecil dari sel yang tak mengalami dekomposisi yang kita amati pada morgue, mungkin (bisa jadi ) adalah jiwa, pikiran atau kesadaran paska manusia yang dapat kita rasakan tapi tak mampu diidentifikasi oleh sains.

Kehadirannya mengindikasi bahwa, pun setelah kematian tubuh, kehidupan tidaklah berakhir. Seperti observasi Dr. Severijnen, suatu keberakhiran dalam aktivitas pertumbuhan dan metabolis selama kematian tubuh hanyalah satu sisi kehidupan.

Kehidupan kecil

Menurut beberapa saintis, atom – atom mengingatkan – tiap emosi, tiap sensasi, tiap perasaan ekstrim ringan- walaupun ide bantalan memory (memory - bearing)atom terdengar sedikit jauh tak relevan, penemuan inteligensi pada tingkatan – tingkatan mikroskopik telah membuka pintu menuju perdebatan baru asal muasal kehidupan.

Beberapa tahun, sains percaya bahwa kekurangan sel – sel tiap individu : sel – sel yang diamati beraksi dalam grup layaknya jalinan pada tenunan. Bagaimanapun, penelitian terbaru oleh Profesor Brian Ford, biolog dan presiden dari Masyarakat Cambridge untuk Aplikasi Riset, berkata lain. Penelitiannya mengungkapkan bahwa sel – sel individu termasuk entitas komplit dengan inteligensi yang mampu berkomunikasi dan berbagi informasi. Dalam pandangannya, sel individu adalah kompleksitas organisme yang mampu membuat keputusan.

Lalu, jika kapabilitas penyimpanan sel tak pernah dijelaskan oleh ilmuwan sebelumnya, seperti temuan beberapa ilmuwan, juga struktur atomik. Hal itu mungkin menawarkan suatu kunci dari keabadian manusia dan ilusi kecil yang merefleksikan keadaan kematian

(Leonardo Vintiñi, staf Epoch Times)

Senin, 11 Januari 2010

2009:TAHUN YANG TRAGIS DAN DRAMATIS BAGI JURNALIS

Tahun 2009 adalah tahun yang dramatis pada dunia jurnalisme. Bukan karena perubahan – perubahan korporasi, yang mana diartikan sebagai penurunan lebih jauh terhadap perusahaan media. Kehilangan pekerjaan dan meremehkan ingatan institusional pada berita utama adalah bagian penting dari apa yang terjadi kepada reporter dan keluarganya akhir tahun lalu.

 

Bagaimanapun, drama manusia yang paling signifikan adalah angka pembunuhan jurnalis yang masih tinggi. Terbunuh saat bertugas atau karena cerita yang dilaporkannya,kebanyakan pembunuhnya melenggang bebas. Impunitas pada kasus – kasus pembunuhan jurnalis di seluruh dunia tetaplah tinggi.

Total angka jurnalis yang tewas pada tahun 2009 adalah 76 orang, yang membuat berita utama adalah pada 2007 saat [hanya] 86 orang tewas.

Tahun ini diawali dengan ketakutan mengenai keselamatan jurnalis yang terancam dan juga “ kematian misterius” terhadap reporte di negara konflik seperti Afghanistan. Kondisi bahaya yang paling ekstrim adalah Timur Tengah saat pada bulan Januari serangan Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza. Akses media terbatas dan 2 jurnalis mati pada serangan itu.

Penangkapan dan pemenjaraan jurnalis Amerika Serikat, Euna Lee dan Laura Ling di Korea Utara membawa ketakutan baru mengenai keselamatan jurnalis Amerika yang bekerja di luar negeri. Kedua wanita tersebut yang bekerja untuk CurrentTV, baru saja diselamatkan dan dipulangkan dengan selamat melalui intervensi dramati oleh mantan presiden AS Bill Clinton dan tim terlatih yang memecahkan krisis dengan diplomasi.

Pada bulan Mei, jurnalis berdarah campuran Iran-Amerika, Roxana Saberi dibebaskan dari penjara di Iran, setelah dicurigai dan dipenjarakan karena menjadi mata – mata pemerintah AS. Saberi telah bekerja sebagai jurnalis freelance di Iran selama beberapa tahun.

Paruh kedua 2009 suasana makin memburuk, diawali dengan kejadian di Iran saat puluhan ribu orang turun ke jalanan memprotes hasil pemilu presiden yang dipertanyakan. Media lokal dibungkam bahkan ditutup, warga mencari tempat lain untuk mendapatkan berita. Twitter dan Facebook digunakan untuk mempublikasi pelanggaran HAM dan juga sebagai media bagi citizen journalism.

Beberapa bulan setelah insiden protes di jalanan – yang mana masih berlanjut – banyak jurnalis di Iran yang dipenjara. Komite Melindungi Jurnalis (CPJ) melaporkan bahwa hanya di akhir minggu, setidaknya 11 jurnalis dipenjara oleh pemerintah Iran, termasuk mantan penerima Penghargaan Kebebasan Pers Internasional, Mashallah Shamsolvaenzin dan penulis kenamaan Emadeddin Baghi. Menurut CPJ, ada lebih dari 30 jurnalis ditahan di Iran.

Menurut Reporter Tanpa Sekat (RSF), seluruh insiden yang melibatkan jurnalis pada tahun 2009 sebagai berikut:Jurnalis lokal; 33 jurnalis diculik, 573 jurnalis ditahan, 1456 mengalami kekerasan fisik, 570 media disensor, 157 jurnalis hilang dari negaranya. Bloger dan Cyber-Dissident; 1 bloger meninggal di penjara, 151 bloger dan cyber-dissident ditahan, 61 orang mengalami kekerasan fisik, dan 60 negara terkena sensor internasional.

Yang paling tragis, 76 jurnalis terbunuh tahun lalu, dibandingkan tahun 2008 yaitu 60 orang, terjadi peningkatan 26 persen.

Yang paling banyak bipublikasi dari kasus – kasus pembunuhan termasuk jurnalis berdarah Spanyol-Prancis, Christian Poveda. Poveda , pembuat film dokumenter yang membuat film kontroversial “La Vida Loca” tentang genkgenk Salvador, tertembak kepalanya di El Salvador. Beberapa orang ditahan sehubungan dengan eksekusi itu, yang mana telah dihubungkan dengan pekerjaannya mendokumentasikan dan mengekspos genkgenk di negara kecil Amrekia Tengah.

Di Filipina, parade manusia yang berhubungan dengan pemilu yang sedang berlangsung  diserang. Lusinan orang terbunuh, termasuk 30 jurnalis. Itu adlah pambunuhan massal jurnalis yang peling buruk dalam sejarah.(Genevieve Long)

MEMBAWA BUKU DAN MENCARI PERDAMAIAN DI KOLOMBIA

Seorang guru, dua ekor keledai , dan timbunan besar buku sedang bekarja untuk memperkaya hidup anak-anak di suatu komunitas kecil di Kolombia. Luis Soriano Boroquez berharap melakukannya membantu membawa perdamaian di negaranya yang berkonflik.

Sejak tahun 1930-an, kekerasan telah menjadi komponen yang tak dapat dihindari oleh masyarakat Kolombia. Dari tahun 1947 hingga tahun 1957 terjadi perang sipil yang dikenal sebagai “La Violencia”, yang mana lebih dari 250000 orang meninggal. Hasil perseteruan lama orang di Partai Liberal dan Konservatif. Insiden ini menciptakan kerangka kerja terhadap kekerasan ekstrim dalam masyarakat Kolombia kini.

Sebagai konsekuensi dari gelombang kekerasan  dan persekusi politis, seluruh keluarga meninggalkan rumahnya untuk bermukim di kotakota besar. Mereka  biasanya bermukim pada kebanyakan area kumuh dan jelatah, kekurangan pelayanan sosial dan kesehatan dasar.

Pada tahun 1980-an, faktor – faktor baru mengkontribusi keburukan budaya kekerasan di negeri tersebut. Satu yang terpenting adalah penyebaran kokain dan keterlibatan anak – anak muda ke dalam perdagangan obat. Faktor lain adalah krisis ekonomi dab proliferasi terhadap kelompok – kelompok  gerilya yang masih berlanjut hungg kini. Kolombia menjadi satu dari negara terkeras di dunia. 

Yang tidak dapat dihindari, kekerasan telah memengaruhi seluruh aktivitas warga sipil, seperti pendidikan. Menurut beberapa perkiraan, Kolombia kini memiliki 20 persen rasio buta huruf, yang mana menjadi lebih tinggi pada area – area terdampak kekerasan. Sebagai tambahan, buta huruf fungsional juga tinggi, berdasarkan pengukuran skala besar terhadap kekurangan behan – bahan bacaan dan perpustakaan pada komunitas – komunitas tersebut. 

Perpustakaan Keledai

10 tahun lalu, Boroquez, seorang guru desa, mendapatkan ide gilanya: membawa banyak buku untuk anak – anak di departemen kota di Nueva Granada!. Dia memiliki sekutu – sekutu yang tidak biasa: dua ekor keledai yang bernama Alfa dan Beto. Berdasarkan dua keledai tersebut, petualangannya mendapatkan nama: Dia menyebutnya “Biblioburro”atau “Perpustakaan Keledai”.

Tiap akhir pekan, guru sekolah SD ini dari sekolah La Gloria bersama keledainya mengangkat 70 hingga 120 buku( Alfa yang mengangkut paling banyak) dan berjalan 3 hingga 11 kilometer (rata – rata 2 hingga 7 mil) per hari,membawa buku – buku san budaya kepada anak desa. Tiap perjalanan membutuhkan 8 jam per hari.

Ide dari perpustakaannya, dijelaskannya kepada New York Times, setelah dia menyaksikan kekuatan transformatif dari membaca kepada anak – anak di wilayah Kolombia yang terkena malapetaka konflik. Tujuannya untuk memberantas buta huruf dan membantu anak – anak melakukan riset untuk PR-nya dan meyediakan mereka bahan – bahan bacaan yang tidak dimiliki mereka di desa.

Segera saat anak pertama melihatnya datang, anak itu kembali dan mengajak anak – anak lainnya, datang dan membimbing gurunya pada sebuah parade. Saat guru tiba di desa, dia mencari lahan kosong. Disana dipasang meja dengan melingkar dimana beberapa anak mengerjakan PR-nya sementara sisanya duduk – duduk di rerumputan, membaca dan bermain.

Secara inisiatif, Soriano mengumpulkan buku – buku dari rumahnya sendiri, dimana dia bermukim dengan istrinya, Diana, dan tiga anaknya, dengan tumpukan – tumpukan buku sampai langit – langit. Memberikan permintaan buku – buku untuk anak desa, dan dengan bantuan finansial dari “Cajamag”, institusi finansial lokal, dia baru – baru ini menyelesaikan pembangunan perpustakan kecil yang memiliki, kurang lebih 4000 buku.

Apa yang awalnya sebagai kebutuhan segera berubah menjadi obligasi, kemudian kebiasaan, dan kini dengan konstruksi perpustakaannya, menjadi sebuah institusi.”Apa yang ingin saya lakukan adalah mengajarkan anak – anak hak mereka, kewajiban, dan tanggung jawabnya. Saat mereka mengetahuinya, tiap anak yang kami ajari melalui Biblioburro menjadi paham, dan mampu berkata tidak terhadap perang.”kata Soriano.

Walaupun perpustakaan baru kini menyediakan komunitas kecil dari 200 orang anak, Soriano tetap melanjutkan aktivitasnya selama akhir pekan. “Melakukan ini adalah komitmen hidupku.” Dia menyatakan pada Valentina Canavesia, seorang sutradara independen, “Aku ingin berguna untuk masyarakat.” Soriano merasa bahwa kerjanya mengkontribusi dengan cara sederhana tapi signifikan, untuk membawa perdamaian kepada negaranya yang lesu.

(César Chelala, penulis isu - isu HAM)

Sabtu, 09 Januari 2010

Pemenang Hadiah Nobel:Keingintahuan Dapat Memimpin Kepada Penemuan-Penemuan Bermanfaat

Dr. Carol Greider menandai suksesnya untuk tetap fokus


Carol Greider adalah ibu yang sibuk untuk dua orang anak, dan baginya keluarga nomor satu. Dia sedang melipat pakaiannya dan bersiap memberikan pelajaran ke kelas saat dia menerima panggilan telepon pukul 5 pagi pada 8 Oktober. Panggilannya memberitahu bahwa dia telah memenangkan Hadiah Nobel. Carol Greider adalah ahli biologi molekuler di Universitas John Hopkins. Dia memiliki 2 orang anak. Charles, 13 dan Gwendolyn,10.

Dr. Carol Greider , 48 tahun memenangkan Hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran 2009 untuk temuannya; telomerase, suatu enzim pada kromosom. Kembali di tahun 1984 saat dia adalah mahasiswa pasca sarjana di Universitas California, Berkeley. Dia membagi kemenangannya dengan Dr. Elizabeth Blackburn dari Universitas California, San Fransisco dan Dr. Jack Azostak, Sekolah Medis Harvard.

 

Penghargaan dari Hadiah Nobel mengakui penemuan dari mekanisme fundamental di sel, penemuan yang menstimulasi pengembangan dari strategi terapi.” Ungkap konferensi pers Hadiah Nobel. Komite Hadiah Nobel menghargai mereka bertiga untuk penemuan mereka terhadap telomerase yang dapat membantu mengobati kanker dan penyakit penuaan lainnya.

Telomerase adalah deret DNA yang terulang pada akhir tiap kromosom di sel. Sebuah deret DNA dengan telomer di dalamnya melindungi kromosom-kromosom ketika sel-sel dikopi untuk divisi sel. Telomerase menjaga panjang telomer dari pemendekan saat divisi sel.

Sains fundamental adalah sesuatu yang kami sukai.”kata Dr. Greider. Dia membuat penemuan saat Greider yang menjadi mahasiswa pasca sarjana bekerja di lab Blackburn di Universitas California, Berkeley.

 

Sejak penemuan tahun 1984, 25 tahun terakhir, riset seluruh dunia telah menemukan bahwa telomer dan telomerase memainkan peranan pada kasus kanker, penyakit degeneratif , dan penuaan.

Banyak orang mencoba untuk mengambil langkah klinis. Kami tepatnya, mengembangkan model yang dapat mengerti aspek di istilah kanker, seperti kelompok yang sangat luas dari penyakit degenertif yang berasosiasi dengan penuaan, dimana telomerase secara meyakinkan memainkan peran.”kata Greider.

Dr. Greider mengatakan penghargaan yang diberikan kepadanya adalah suatu kesempatan menjelaskan kepada dunia apakah telomer itu. Dia juga mencatat suksesnya dapat menegaskan:mengapa berlaku ingin tahu terhadp sains sangat penting.

Karena kita temukan hal yang sebelumnya kita tidak tahu dan apa hubungannya dengan penyakit.”kata Greider.

Keingintahuan dan hasrat yang kuat untuk memahami, memotivasinya pada penghargaan lain, seperti uang dan prestis, memotivasi beberapa orang. “Saat saya  di kampus, saya  tak pernah punya tujuan menjadi profesor. Ini bukanlah suatu jenis tujuan karir, lebih kepada mencoba memahami masalah yang sedang saya kerjakan. Bahwa tiap masalah yang sangat dekat, dan tetap itulah yang paling merangsangku.”dia menjelaskan.

Dr. Greider yang saat kecil menderita disleksia(kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis-wikipedia)-pujian awalnya memicunya dalam hidup dengan membantunya fokus pada apa yang benar-benar diinginkannya:”Jika saya ingin melakukan sesuatu, saya akan mengabaikan semua hal yang ada di jalannya, dan tetap fokus padanya. Jadi saya belajar, agar sukses pada apa yang kita inginkan berhasil, saya butuh fokus yang sangat keras pada hal-hal itu, dan menemukan cara ke alur yang aku inginkan untuk melakukannya.”

Dr. Greider berada pada jajaran 40 wanita yang memenangkan Hadiah Nobel sejak tahun 1901 hingga tahun 2009, dan berada pada jajaran 10 wanita yang telah memenangi hadiah pada bidang fisiologi atau kedokteran. Pada usia 48 tahun, dialah yang termuda yang memenangi hadiah bidang kedokteran.

Dr. Carol Greider adalah Profesor dan Direktur Genetik & Biologi Molekuler Daniel Nathans di Institut John Hopkins untuk Ilmu Biomedis Dasar. “Dia menjadi orang ke-33 yang berasosiasi dengan Universitas John Hopkins yang memenangi Hadiah Nobel, dan orang ke-20  di Sekolah Kedoktern yang menerima penghargaan.”ungkap Koran Universitas John Hopkins.(Nicholas Zifcak, staf Epoch Times)