Jumat, 17 September 2010

KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Sejatinya pendidikan adalah aspek terpenting dalam setiap pembangunan suatu negara. Jepang membuktikan diri sebagai contoh yang tepat. Setelah luluh lantak oleh bom atom, melalui Restorasi Meiji, Jepang berhasil bangkit. Disusul dengan banyak Negara lain di kawasan Asia.

Perubahan itu selalu ada. Perubahan itu selalu akan terjadi. Jika sang pengubah siap dan berkehendak. Data berikut selayaknya kita simak. Rilis terbaru mengenai kualitas pendidikan di dunia. Dalam rilis terbarunya, dalam tahun ketujuh-nya mempublikasi kualitas pendidikan di dunia, Times Higher Education Supplement, menempatkan Universitas Cambridge sebagai universitas non-Amerika sebagai universitas terbaik. Hal ini menarik, pasalnya, sudah sejak tahun 2004 posisi jawara ditempati oleh Universitas Harvard.

Penilaian dari THES-QS dianggap sebagai penilaian yang paling bebas. Independensinya terjaga dengan melibatkan 700 pimpinan universitas. Ada enam barometer yang dipakai yakni, penilaian sejawat, penilaian pegawai , sitat tiap fakultas, mahasiswa fakultas, fakultas internasional, dan mahasiswa internasional.

Massachusetts Institute of Technology mencetak lompatan besar. MIT berada di posisi lima yang sebelumnya berada di posisi sembilan. MIT berhasil meneguhkan posisinya dengan performa kuat sebagai universitas teknologi.

Sampai tulisan ini selesai belum dipublikasikan keseluruhan ranking. Dari 200 besar perguruan tinggi dunia, kabar buruknya, tidak ada satupun wakil Indonesia. Asia Tenggara diwakili oleh National University of Singapore (NUS) pada urutan ke 31 dunia.

Alarm Katastrofe

Pembangunan sangat linier dengan kualitas pendidikan. Dalam bukunya, Knowledge and Innovation Platform Daya Saing (2010), Zuhal menekankan pentingnya riset untuk perbaikan kualitas pendidikan. Terutama riset pada bidang sains dasar hingga teknologi nano. Hal itu menjadi kendala di Indonesia karena anggaran risetnya yang hanya sekitar 0,1 persen, sangat jauh dari layak yang sekitar 4 persen dari PDB. Hal itu sangat miris melihat potensi Indonesia yang sekarang. Indonesia adalah G-20 major economic countries, sejajar di 11 negara yang akan membuat kemajuan pesat- Next Eleven. Riset yang teraplikasikan pada akhirnya akan memacu pertumbuhan ekonomi suatu negara itu. Dengan berlandaskan Knowledge-Based Economy (KBE) sudah banyak negara maju sebagai aktor utama dalam pembangunan yang diatas rata – rata. Sudah saatnya Indonesia tidak hanya sebagai cameo. Hanya memengaruhi statistik.

Perbaikan kualitas pendidikan harus selalu dijalankan. Sebenarnya Indonesia memiliki banyak sekali universitas baik. Tapi hanya beberapa yang maju dengan berlandaskan research university, maupun entrepreneurial research university.

Ini adalah sebuah peringatan dini. Peringatan dini selayaknya akan terjadi bencana besar jika sang pendengar alarm tidak acuh. Akan menjadi blunder, apabila kita tetap maju dengan cara lama. Dimana competitor kita telah melesat dengan mesin baru. Mesin baru berupa dan riset yang tinggi serta fokus pemerintah terhadap perbaikan kualitas pendidikan. Korea Selatan yang tidak stabil pada tahun 60-an, kini adalah aktor utama pelaku industri dalam tempo kurang dari 40 tahun. China bangkit setelah reformasi selama 30 tahun sejak tahun 1978. Bahkan dengan konstelasi eksospolnya yang sekarang-BRIC- dengan berani menyarankan pewacanaan ulang mata uang dolar AS sebagai tolak ukur mata uang dunia.

Menjawab kebuntuan di sektor pendidikan. Banyak pakar telah duduk bersama dan berdiskusi. Buahnya berupa ITB 2020. Bisa dikatakan sebuah sumpah para ahli dari berbagai bidang untuk memajukan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan pada universitas. Mereka tengah menyiapkan suatu progres yang sangat tidak linier dalam rangka menyambut pendidikan teknik di Indonesia yang akan berusia 100 tahun pad 2020 nanti.

Institut Teknologi Bnadung yang memang sudah sejak lama menyatakan diri sebagai universitas riset kelas dunia maju di garda depan. Sangat futuristik. Terlihat dari logo berikut penjelasannya.

Bentuk-bentuk molekul, rantai karbon, dan sel, ditambah dengan bentuk-bentuk di dalam rangkaian elektronika, PCB dan mikroprosesor mengilhami pembuatan logo kegiatan ITB2020.

Molekul-molekul, rantai karbon, dan sel mewakili kehidupan berbasis karbon (carbon-based life), kehidupan fisik di mana secara nyata kita ada. Sementara itu rangkaian elektronika, PCB, dan mikroprosesor mewakili kehidupan berbasis silikon (silicone-based life), atau kehidupan maya di mana manusia modern pada saat ini banyak menghabiskan waktunya baik untuk secara produktif bekerja maupun bersosialisasi melalui jejaring sosial. Kedua bentuk kehidupan tersebut merupakan inti dari peradaban manusia saat ini dan mendatang.

Bentuk-bentuk visual tersebut diambil sebagai dasar dari citraan semangat dan dinamika ITB sebagai perguruan tinggi sains, teknologi, seni dan bisnis terkemuka di Indonesia menghadapi masa depan di tahun 2020 mendatang. Output logo berupa komposisi bentuk menyerupai arah gerak menandakan dinamika, disusun dari bentuk-bentuk yang selain menyerupai rangkaian elektronika, juga menyerupai sel-sel yang bergabung satu sama lain.

Pada tahun 2009, ITB berada pada daftar 80 besar universitas di dunia bidang teknologi. Banyak paten telah dihasilkan. Banyak paten yang telah diaplikasikan. Tapi yang miris adalah banyak juga ilmuwan Indonesia yang lebih memilih berkarya di luar negeri. Tidak bisa disalahkan karena masalah kesejahteraan peneliti di Indonesia. Asvi Warman Adam Peneliti LIPI selama 27 tahun tunjangan fungsional ahli peneliti utama (APU) sebesar Rp 1,4 juta per bulan. Hanya menigkat sekitar 500 ribu dibandingkan masa Habibie yang sangat apresiatif terhadap riset(Negara dan Nasib Peneliti - KOMPAS 15 September 2010).

Penduduk Indonesia yang melimpah ruah adalah sebuah anugerah. Ditambah dengan geografis Indonesia yang sangat mengagumkan. Saat ini apa yang tidak bisa ditanam di tanah subur ini?. Pemerintah yang sekarang sering sekali goyah karena elemennya tidak bersatu dan hanya mementingkan kepentingan individu.

Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi tidak dipedulikan. Rakyat dibiarkan mati kelaparan. Pencapaian MDGs termasuk yang paling lambat di antara negara kawasan. Dengan dalih membutuhkan ruang kerja layak- yang sekitar 120 meter persegi- triliunan uang rakyat dikorbankan. Padahal banyak sekolah, terutama di pedesaan yang telah roboh. Ada juga sekolah yang hendak roboh, tapi masih digunakan untuk proses belajar mengajar. Gaji guru yang meskipun naik, masih belum bisa mensejahterakan. Okelah, untuk ruang kerja layak, kami kabulkan. Hanya jangan terlalu merefleksikan hedonisme dengan fasilitas luks yang tidak sepatutnya ada.

Dengan alokasi dana yang lebih pada pendidikan yang mumpuni, kita bersama akan menyaksikan kemajuan pendidikan Indonesia dan perekonomiannya mulai detik ini. Saat banyak sekali orang yang mengenyam pendidikan di suatu Negara, Negara itu jugalah yang akan mendapatkan manfaat banyak. Mari maju bersama. ITB sudah memulai. Satukan tekad demi kepentingan bersama. Yang patut kita ingat adalah bahwa India memiliki 150-an ribu ilmuwan berbasis IT hanya di Bangalore, sementara ahli IT Silicon Valley sekitar 120-an ribu!.Perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia adalah sebuah keniscayaan!.


Kamis, 02 September 2010

DILEMA KESENIAN

Art is a lie that makes us realize the truth— Pablo Picasso

Kebudayaan adalah identitas sebuah bangsa. Kebudayaan mencerminkan kualitas suatu bangsa, yang tidak lain unsure dari negara tersebut. Dalam berbagai kehidupan berbangsapun tak jarang seni bergesekan dengan aspek kehidupan lain, yakni agama. Lagi, dengan perjuangan keberagaman seni yang bertemu dengan kompleksnya masalah ekonomi. Kala seni dipaksa agar memnuhi permintaan pasar yang fluktuatif dan cenderung asal laku.

Joost Smiers (2009), meyakini bahwa ada orang yang berubah agresif ketika keyakinannya yang terdalam berbenturan dengan bentuk ekspresi artistik yang ditampilkan kepadanya, atau ada juga orang yang merasa didesak untuk melakukan tindak kekerasan kaena dipaksa menerima karya seini tertentu, baik secara eksplisit maupun implisit.

Masa Orde Lama ditandai dengan kegiatan represif terhadap Manifest Kebudayaan. Soeharto sebagai penggantinya juga sama. Semua tentu ingat bagaimana sang smiling general itu terhadap ekspresi seni. Karya bagus milik Pramoedya Ananta Toer baru bias dinikmati dengan bebas beberapa tahun terakhir. Bisa jadi  Gadis Pantai ada karena seorang pelajar di Australia masih menyimpannya.

Di belahan dunia lain aksi represif terhadap kesenian dan produknya lebih ekstrim lagi. Taliban di Afghanistan menghancurkan alat – alat musik tradisional dan aksi Taliban sebagai dampak dari interpretasi Hukum Syariah yang menyatakan bahwa segala bentuk ekspresi budya “tidak religious” yang meyertkan tindakan manusia;hiburan tari dan music, sebagai hal yang tidak islami dan bergelimang dosa. Sebagai akibatnya seni ekspresif dilarang.

Berbanding linier dengan beberapa realita di atas adalah realita lain yang menimpa Salman Rushdie. Penulis Satanic Verses ini bersembunyi setelah Ayatollah Khomeini (pemimpin Iran) mengeluarkan fatwa pada tahun 1989 yang memerintahkan kaum Muslim untuk membunuhnya karena dianggap menghina Islam atas bukunya yang berjudul The Satanic Verses. Ia menulis buku pada 1988, berjudul Satanic Verses. Buku ini memasukkan Tuhan dalam Islam (Allah) sebagai tokoh. Banyak negara melarang buku ini. Mereka menemukan buku ini menyerang Islam, dan melarang sejumlah toko buku menjualnya

Pemimpin Agung Iran saat itu Ayatollah Khomeini berpidato di radio tentang Rushdie. Ia berkata bahwa Rushdie telah keluar dari Islam (murtadin). Rushdie dan sang penerbit buku diberi fatwa mati. Pada 1989, pemerintah Inggris mulai melindungi Rushdie, bahkan tanggal 7 Maret 1989 Iran memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Inggris karena masalah ini. Pada 1990, Rushdie menulis esai, mencoba membuktikan ia masih beriman pada Islam. Hingga pada 16 Juni 2007, Salman Rushdie memperoleh anugerah gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II (Wikipedia).

Bagi dua sisi mata uang, produk kesenian juga menunjukkan citra buruknya dengan kualitas produk yang semakin dipertanyakan. Banyak muncul produk yang sarat unsure seni, film misalnya,yang hanya mementingkan unsur konsumtif. Hingga sensor yang luar biasa, yang menurut para pembuat film yang tersensor sangat banyak tida bias diterima. Banyak ironi terjadi saat pertunjukan perdana film dengan latar belakang cerita horor dan eksploitasi seksual yang lebih dibanjiri penonton dibandingkan film dengan tema social yang sangat representatif. Bukankah film sebagai produk kesenian adalah representasi keadaan masyarakat?.

Mungkin benar bahwa kesenian itu adalah kebohongan yang membuat kita menyadari kebenaran. Saat publik dibohongi dengan tontonan absurd , lalu semakin lama publik akan memberontak dan menunjukkan daya kontrolnya. Dari rasa tidak suka dengan stagnansi pembodohan itulah muncul gerakan independen. Di Indonesia mencuat Masyarakat Film Indonesia yang dengan jells tidak setuju dengan pemenangan suatu film karena jelas sangat imitatif.

Namun dari trigger yang tidak banyak itulah lalu, kemudian semua berbenah. Lalu memunculkan banyak gagasan perbaikan. Karena memang yang membuat perbaikan sejak dahulu adalah yang sebagian kecil itu. Yang lainnya hanya sebagai followers.

 

Rabu, 01 September 2010

Hadiah Nobel Untuk Indonesia

Dengan segala kompleksitas dalam dunia pendidikan di Indonesia, mari, kini saatnya kita bangkit. Negara dengan penduduk terbesar keempat sedunia ini memiliki dan tengah menyibakkan potensinya. Kilau negeri terpendar dengan prestasi anak negeri.

Harus berpikir di luar cangkang. Karena pemikiran yang tidak linier itulah yang akan membuahkan terobosan yang kontributif. Maka, mari kita lihat kontribusi kita pada bidang pendidikan. Bidang penyelamat kita.

Mantan presiden B.J Habibie memberikan contoh yang positif. Bagaimana sebuah ketekunan membuahkan hasil maksimal. Dalam bidang engineering beliau mampu berbicara banyak. Makmur Makka (The True Life Of Habibie:Cerita Dibalik Kesuksesan) setidaknya menjelaskan kehormatan apa saja yang diterima Habibie sebagai seorang intelektual. Habibie menjadi anggota kehormatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Luar, Jerman Barat tahun 1983; The Royal Aeronautical Society, London tahun 1983;The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences tahun 1985;Academie Nationale de I’Air et de I’Espace, Perancis tahun 1985.

Belum cukup dengan itu pada tahun 1992, Habibie menerima Award Von Karman dari ICAS. Kemudian pada tahun 1997 dianugerahi EdwardWarner Award dari ICAO. Habibie juga adalah anggota The US Academy of Engineering. Hal ini menarik karena Asia hanya diwakili oleh tiga Negara yakni, Jepang(10), India(1), dan Indonesia(1). Habibie juga menyumbangkan pemikirannya lebih jauh karena beliau adalah anggota Inter Action Council-lembaga nirlaba yang terdiri dari lebih dari 30 mantan kepala pemerintahan di dunia yang berfokus pada tiga hal: Perdamaian dan Keamanan,Revitalisasi Ekonomi Dunia, dan Standar Etika Universal.

Habibie mendapatkan semua itu karena pemikirannya yang telah banyak dipakai, khususnya pada dunia aeronautika. Mulai dari teorema Habibie, faktor Habibie, sampai menganalisa retakan pada pesawat hingga struktur atomnya. Beberapa rumusannya kini dapat ditemui di Advisory Group for Aerospace Research and Development-buku pegangan yang berisi prinsip – prinsip ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam mendesain pesawat terbang standar NATO.

Untunglah dinegeri sendiri beliau juga cukup disegani. Keberhasiolan uji coba pesawat terbangnya patut diapresiasi. Tapi juga banyak dicerca mengenai gagasannya yang terasa tidak dapat dinikmati penduduk Indonesia seluruhnya. Menegani hal itu Ninok Leksono dari KOMPAS memiliki pandangannya sendiri. “ Tentu  saja banyak alasan yang bisa dikemukakan untuk riwayat muram N250. Namun dari sisi ide dasarnya yakni membuat pesawat penumpang kapasitas sedang tidaklah keliru. Indonesia negara kepulauan berukuran geografis besar, memang alamiah bagi penrbangan. Maraknya angkutan udara dewasa ini menguatkan hal itu.”

Sudah Saatnya

Dari Indonesia banyak cendekiawan lain yang muncul dan dikenal luas oleh public. Terutama setelah ada penghargaan Achmad Bakrie Award yang kontroversial itu. Pada tahun 2009 kita mengenal Sajogyo sebagai penerima penghargaan tersebut untuk Pemikiran Sosial. Pak Sajogyo dinilai layak karena beliau memberikan sumbangan besar dalam menjelaskan garis kemiskinan, kemiskinan absolut, indeks ukur kemiskinan, elastisitas kemiskinan, dan berbagai ukuran distribusi. Menurutnya, garis kemiskinan yang relevan untuk Negara berkembang seperti Indonesia adalah yang langsung merefleksikan kebutuhan hidup terpenting, yaitu kecukupan pangan, yang terwakili oleh beras. Ia menawarkan garis kemiskinan yang lebih realistik, yang bertumpu pada kebutuhan kalori lebih layak (saat ini sekitar 2100 kalori). Inilah yang kemudian disebut Garis Kemiskinan Sajogyo.

Kemudian ada Danarto untuk Kesusastraan. Beliau memperluas pengertian realism dalam sastra Indonesia. Jika realism mengancang hukum social ke arah masyarakat yang lebih baik, maka Danarto dengan berbagai cerita pendeknya, menunjukkan warisan masa lalu yang selalu mengganggu hukum sosial itu. Ia memanfaatkan berbagai khazanah dominan seperti Jawa dan Islam, namun senantiasa mengambil sisi tersembunyi yang berwatak subversive daripadanya. Ia menghidupakn kembali gaya mendongeng dalam sastra modern. Sastra Danarto menggumuli modernitas dengan cara yang Indonesa:kiat untuk menyelami lubuk jiwa masyarakat pascapenjajahan yang membaurkan kemajuan dengan segenap cacatnya. Bapak A.G Soemantri untuk Kedokteran. Di Indonesia Agutinus Soemantri Hardhojuwono merintis cangkok sumsum tulang untuk para penderita talasemia dan leukemia, juga cangkok hati dan sel punca (stem cell). Dokter anak cum hematolog ini juga menemukan bahwa kekurangan asupan zat besi bias menghambat pertumguhan fisik dan mental anak. Yang baru dari risetnya adalah bahwa ia berfokus pada anak – anak berusia enam tahun ke atas, sedangkan di negara – negara lain riset itu mengarah pada anak – anak balita. Temuan Soemantri ini menjadi rujukan penting di dunia kedokteran internasional.

Pantur Silaban untuk Sains. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang mendalami Teori Relativitas Umum. Silaban berhasil membangun persamaan gerak rekativistik untuk partikel titik. Di kancah internasional, karya yang ia kemukakan kemudian dikembangkannya bersama Joshua Goldberg ini digunakan oleh para fisikawan yang datang kemudian untuk mempelajari gerak partikel di sekitar lubanghitam dan bintang neutron. Penyingkapan perilaku lubanghitam ini membuka jalan bagiupaya untuk mendapatkan gambaran scenario masa depan alam semesta. Silaban juga mengembangkan metode matematika dalam melacak konsep simetri untuk menjembatani fisika klasik yang serba deterministic dengan teori medan kuantum yang serba statistik dan diliputi ketidakpastian.

Dalam ranah teknologi kita mengenal Warsito Taruno. Ia menemukan dan terus mengembangkan electrical capacitance volume tomography(ECVT), yakni suatu teknologi tomografi volumetrik berdimensi empat. Dengan terobosan besar ini, ruang dalam mesin dan manusia serta berbagai dinamik yang bekerja di dalamnya bias tergelar jelas dengan citraan tiga dimensi dan seketika. ECVT juga dapat merekam obyek – obyek bergerak yang berada di dalam talang tertutup, apa pun bentuk geometrinya. Pencitraan volumetrik dinamis ini menggunakan prinsip medan listrik statis yang terukur. Temuan Warsito diperkirakan akan mengubah drastic perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang, termasuk nanoteknologi dan kedokteran.

Karya penelitian yang telah diterapkan secara luas tersebut menunggu penghargaan lainnya!.

 

 

 

Jumat, 20 Agustus 2010

KOTA BESAR




Di awali oleh Delhi. Delhi-pada peringkat empat dunia- mencatatkan diri sebagai megacity dengan populasi penduduk di kota itu sebesar 23,200,000 jiwa, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 4.60%. China menempatkan Shanghai pada jajaran kota besar dunia dengan populasi sebesar 18,400,000 jiwa dan pertumbuhan tahunan 2.20%. Sementara Jakarta, ada pada urutan ke-14 dengan populasi penduduk sebesar 15,400,000 jiwa dan pertumbuhan tahunan dua persen.



Lalu, apa yang membuat kita senang ataupun bangga?. Megacity dengan segala kosmopolitannya menyimpan sejumlah masalah-yang telihat sebagai tip of iceberg. Di awal tahun 1800, hanya tiga persen penduduk dunia yang bermukim di kota. Pada akhir abad ke 21 terjadi kenaikan sebesar 47 %. Ironis karena, kita semua tahu problema yang terjadi di kota besar. Semuanya dipaksakan untuk ada di kota besar. Jakarta misalnya, apa yang tidak ada di sana?. Pusat pemerintahan, pusat pendidikan terbaik, pusat gaya hidup modern. Sehingga ada yang menjuluki Indonesia Raya itu, ya, Jawa Raya. Pembangunan pesat di kota besar. Yang dulunya blok horizontal, kini vertikal. Blok-blok vertikal yang benar- benar mencakar muka langit. Kawasan yang dulunya langganan banjir sudah hilang. Banjirnya disuruh pindah!.

Masalah menyeruak saat banyak hal dipaksakan. Ledakan perilaku urbanisme. Kemacetan dimana-mana. Statistik resmi menunjukkan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang meningkat drastis tanpa dibarengi dengan jumlah jalan raya yang ada, apalagi Ruang Terbuka Hijau.

Namun tidak ada masalah tanpa solusi. Masalah membuat kita lebih kontemplatif. Memikirkan banyak aspek dalam pembuatan keputusan. Ensiklopedia bebas-Wikipedia-menyajikan tantangan – tantangan kota besar. Bukan masalah kota besar. Setidaknya ada empat tantangan besar. Pertama, adalah Permukiman Kumuh. Selama rentang waktu 15 tahun sejak 1990 hingga 2005, Amerika Serikat mencatat penurunan sebesar 10 persen mengenai penduduk di permukiman kumuh. Tapi hal itu-jumlah permukiman kumuh- ternyata berbanding linier dengan peningkatan populasi karena migrasi massif baik masuk ataupun keluar kota. Tantangan pertama adalah minimnya akses ke pendidikan layak, kesehatan layak, dan perekonomian yang layak.

Tantangan kedua karena kehilangan tempat tinggal. Karena seiring pembangunan yang dilematik karena kaum yang terpinggirkan dan tidak memiliki surat tinggal resmi sering tergusur. Ketiga adalah tantangan lalu lintas. Tantangan karena semakin banyak kendaraan, semakin sempit jalan raya, dan bertambahnya waktu tempuh.

Keempat adalah tantangan polusi udara. Polusi udara sebagian besar kota besar dikarenakan pembakaran bahan bakar fosil(fossil fuel). Bahan bakar fosil yang berusia ratusan tahun menipis hanya pada beberapa dekade. Hal ini linier dengan supply and demand. Mustahil juga peningkatan penduduk yang drastis, namun kebutuhan akan bahn pokok statis.

Berbagai masalah di atas hendaknya menggugah semua pihak. Terutama para pembuat kebijakan. Sinkronisasi pembangunan di daerah dan pusat. Papua adalah surga. Banyak potensi yang belum tergali. Maksimalisasi potensi dan kearifan lokal. Hingga suatu saat kita lihat persebaran penduduk yang dinamis. Anak asal Surabaya  akan pergi ke Bandung karena aspek kreativitasnya. Para sarjana pertanian dan pertambangan asal Jawa Barat akan berbondong-bondong ke Papua karena hendak memaksimalisasi Sumber Daya Alamnya. Hingga semua potensi negeri ini tersebar. Kita memiliki lebih dari cukup orang pandai dan berbakat. Saatnya mereka semua menyebar. Berpendar untuk menunjukkan kilau negeri.



Minggu, 08 Agustus 2010

65 TAHUN REPUBLIK INDONESIA


“…pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa,pribadi bangsamu, ayo maju, maju…”

Kurang dari dua minggu lagi, tanah air beta, Republik Indonesia berusia 65 tahun.65 tahun merdeka meninggalkan 3,5+ abad diinjak-injak bangsa lain. Tapi kita masih tetap berdiri. Eksis. Merenungi pencapaian negara ini mengesankan juga. Kontemplatif.

Harian surat kabar beberapa hari lalu menunjukkan kinerja ekonomi RI semester I-berdasarkan data Biro Pusat Statistik-tumbuh sebesar 5,9 persen. Hal itu, artinya diluar perkiraan. Tapi yang masih harus diperkirakan adalah kinerjanya harus lebih baik. Hendri Saparini dari Econit menegaskan bahwa sektor pengolahan harus didorong agar Indonesia mampu berdaya saing. Dijelaskan, setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan menyerap tenaga kerja sebanyak 500.000 orang. Jadi bias dibayangkan bahwa pertumbuhan ekonomi 7 persen dan lebih itulah yang akan menjadi jawaban masalah pengangguran di Indonesia. India yang sekarang bergabung di BRIC memilki rata – rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen.

Indeks investasi menempatka Indonesia pada jajaran negara yang iklim investasinya kondusif.

Bidang pendidikan pun tak kalah membanggakan. Universitas Indonesia berada pada jajran 200 besar universitas trbaik sedunia. Nomor lima se-Asia Tenggara, dan nomor 34 se Asia. Lalu apanya yang harus diperbaiki lagi?

Birokratnya. Mental para birokrat di Indonesia. Agar (semoga)korupsi bukan menjadi budaya. Tulisan Limas Sutanto di The Jakarta Post layak disimak. Karena akhir – akhir ini media dihiasi berita tidak menyenangkan. Diantaranya tabung LPG meledak, aksi Satpol PP, kenaikan tarif dasar listrik, kemacetan massif, kecelakaan kereta api, penyerangan terhadap aktivis antikorupsi. Disebutkan oleh Limas Sutanto bahwa hal itu sebagai ‘diberkahi dengan pengalaman – pengalaman menyakitkan yang tak henti – hentinya.’ People in this country are unceasingly overwhelmed by painful experiences. Tapi para birokratnya mungkin, bisa jadi, lebih suka menyebut pengalaman berhadapan dengan maut  sebagai konsekuensi(consequences-disingkat C)dari beberapa kejadian yang sedang berlangsung (activating events-disingkat A). Maka itulah Logika A-C para birokrat dan pembuat kebijakan. Mungkin, bisa jadi.

Semua ledakan tabung LPG itu disebabkan karena kebiasaan masyarakat kita yang menggunakan minyak tanah dan masih belum siap dengan konversi ke LPG. Kecelakaan kereta api adalah konsekuensi dari infrastruktur rel kereta yang kurang-dan sering dicuri besinya. Aksi Satpol PP adalah konsekuensi dari perilaku masyarakat yang tidak mau diatur sehingga lahirlah aksi represif. Kemacetan lalu lintas yang massif adalah konsekuensi dari jumlah kendaraan bermotor di jalan raya.

Dengan logika A-C itu kehiduopan masyarakat yang berkali – kali terancam(agonizing)tidak dihiraukan.masyarakat tidak mampu mencela para birokrat maupun pembuat kebijakan. Jika mereka mencela, ya cela-lah realitas, karena realitas itu sendirilah yang membawa pengalaman menyakitkan.

Paul Chadwick, Max Birchwood, dan Peter Trower mencelanya. Dikemukakan Logika A-B-C(Activating event-Belief-Consequence ). Bahwa pengalaman menyakitkan yang terjadi di masyarakat (C)bukanlah hasil dari realitas yang telah ada pada masyarakat(A). konsekuensi di sini lebih disebabkan akibat dari kebijakan yang telah dibuat oleh para birokrat dan pembuat kebijakan yang menggunakan personal Belief-(B)nya dalam mengartikan relitas yang terjadi (A).

Jadi pada konteks mereka aktivis antikorupsi adalah bahaya besar, jadi harus dimusnahkan. Mental para birokrat dan pembuat kebijakan yang masih mengejahwantah ide bahwa”kepentinganku lebih tinggi dari apapun”udah saatnya dihilangkan. Ide aneh.

Dari segi Logika A-B-C mayoritas ledakan tabung LPG di rumah penduduk tidak bisa di hubungkan dengan ketidaksanggupan masyarakat terhadap penggunaan gas dengan layak dan benar. Ledakan tersebut adalah konsekuensi dari realisasi dari para birokrat dan pembuat kebijakan yang kepentingannya jauh lebih tinggi dari apapun. Sehingga mereka tidak menghiraukan keselamatan dan jiwa masyarakat.

Infrastruktur yang kurang memadai tidak bias dijadikan alas an penyebab kecelakaan kereta api di Indonesia. Kecelakaan itu, sekali lagi, karena para birokrat danpembuat kebijakan yang masih menyimpan ide kepentinganku lebih tinggi dari apapun, sehingga tidak memasukkan penghitungan infrastruktur layak.

Sangat penting mengubah pemikiran yang ada. Selayaknya “para”tersebut memakai pendekatan Logika A-B-C bukan Logika A-C. setidaknya akan dicapai dua kesadaran. Pertama, para birokrat dan pembuat kebijakan seharusnya tidk menutup mata mengnai tanggung jawab terhadap pengalaman menyakitkan yang terjadi di masyarakat. Hal ini sangat penting agar mereka meningkatkan performa dan kinerja mereka pada pelayanan mayarakat. Yang kedua dan yang terpenting adalah bahwa kesadaran mengenai kepentingan umum lebih tinggi dari kepentingan pribadi.

Jadi, kesejahteraan adalah konsekuensi dari aksi kita selama 65 tahun.

According to Kant, what human beings can only do is to achieve personal meaning from the reality and take on the reality as “phenomena”, for example, the reality as it appears to humans.

(Limas Sutanto adalah konsultan psikoterapis d Malang. Chairman dari Divisi Fisioterapi di Asosiasi Psikiater Indonesia)

Selasa, 03 Agustus 2010

Sang Naga

Thomas Kuhn:”Anda tidak dapat memahami paradigma baru dengan memakai kosakata paradigma lama.”

Waktu berubah. Begitupula masyarakat di dunia ini. Banyak Negara bergerak sesuai progress yang dibuatnya. Sebuah peta jalan yang telah dibuat berdekade-dekade lalu. China. Tak ada habisnya membicarakan kemajuan perekonomian Negeri Tirai Bambu ini. Tulisan ini rasanya pas diturunan mengingat kini, China menuju perekonomian terbesar kedua di dunia. Tahun ini China akan menggeser posisi Jepang. Berikut petikan yang berhasil disitat dari Kompas edisi 3 Agustus 2010.

China Segera Dahului Jepang

BEIJING, Senin - Walaupun kegiatan sektor manufaktur di China melemah pertama kali dalam 17 bulan terakhir, kekuatan ekonominya akan dapat mendahului Jepang hingga menjadi negara kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. China akan menggantikan posisi Jepang tahun ini.

Menurut perhitungan Purchasing Manager Index dari HSBC yang dikeluarkan pada Senin (2/8) di Beijing, indeks PMI China turun menjadi 49,4 di bulan Juli dari 50,4 pada Juni. Indeks ini menunjukkan aktivitas di sektor manufaktur, naik atau turun. Ini penurunan pertama ke bawah angka 50 sejak Maret 2009.

Adapun menurut perhitungan PMI dari Federasi Logistik dan Pembelian China serta Biro Statistik Nasional, indeks PMI turun menjadi 51,2 pada Juli dari 52,1 pada Juni. Jika indeks PMI di bawah 50, berarti terjadi kontraksi ekonomi.

Hujan lebat dan banjir bandang yang melanda China pada bulan Juli dianggap sebagai salah satu penyebab melemahnya PMI.

Ekonom senior HSBC China, Qu Hongbin, mengatakan, penurunan ini tidak perlu dikhawatirkan. Perekonomian China diperkirakan akan tetap tumbuh sekitar sembilan persen pada tahun 2010 karena ada dukungan pembangunan infrastruktur dan konsumsi swasta.

Bank Sentral China menyebutkan akan terus mengimplementasikan kebijakan moneter yang longgar secara moderat sekaligus memerhatikan perubahan situasi domestik dan internasional. ”Tampaknya, Bank Sentral belum akan menaikkan tingkat suku bunga. Perekonomian China akan mengalahkan Jepang tahun ini,” kata ekonom China pada Bank of America-Merrill Lynch, Ting Lu.

Di akhir pekan lalu, Yi Gang, Deputi Gubernur Bank Sentral China, menyebutkan, ”Sebenarnya China telah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia.” Akan tetapi, masih belum jelas berdasarkan data apa pernyataan tersebut.

Berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP), produksi domestik bruto (PDB) China lebih besar dibandingkan Jepang. PPP itu, misalnya, bisa diukur dengan harga satu burger McDonald’s di China dan di Jepang. Pembandingan harga-harga komoditas lain di dua negara itu akan menghasilkan PPP.

PPP tak dipakai sebagai dasar penyusunan peringkat ekonomi. Namun, saat ini China telah jadi eksportir terbesar dunia, pembeli mobil dan produsen baja terbesar dunia—mengalahkan Amerika Serikat (AS)—serta pengaruh China di dunia terus berkembang.

Kuartal ketiga

Walaupun sudah makmur, masih ada jurang menganga di antara orang kaya dan orang miskin di China. Orang Jepang masih merupakan orang-orang terkaya di dunia. Pendapatan per kapita Jepang mencapai 37.800 dollar AS tahun lalu, sedangkan pendapatan per kapita orang China hanya 3.600 dollar AS. Pendapatan per kapita orang AS sebesar 42.200 dollar AS.

Namun, perekonomian Jepang sudah dua dekade terjebak penurunan sangat dalam. Adapun orang AS tengah menghadapi resesi. Kekuatan ekonomi China sedang bangkit dan menikmati kemakmuran saat ini.

PDB China pada tahun lalu tercatat sebesar 4,98 triliun dollar AS, sedangkan PDB Jepang sebesar 5,07 triliun dollar AS. Tahun 2010 ini, pada periode April hingga Juni PDB China tercatat sebesar 1,335 triliun dollar AS, sedangkan PDB Jepang belum ada laporan.

Sepanjang 2010, perekonomian China diharapkan akan bertumbuh sebesar 10 persen, sedangkan Jepang hanya 3 persen. ”Dengan data-data tersebut, diperkirakan pengambilalihan posisi Jepang akan dilakukan China pada akhir kuartal ketiga 2010,” ujar Julian Jessop, ekonom pada Capital Economi di London.

Besarnya kebutuhan China membawa keberuntungan untuk Australia, pemasok tambang untuk China, seperti baja, batu bara, dan komoditas lainnya.(AP/AFP/REUTERS/JOE)

John dan Doris Naibitt pun mengiyakan kemajuan China dengan 8 pilar. Kedelapan pialr itu saling terkait. Mereka semua adalah:

  1. Emansipasi Pikiran
  2. Peyeimbangan Top Down dan Bottom Up
  3. Membingkai Hutan dan Membiarkan Pepohonan Tumbuh
  4. Menyeberangi Sungai dengan Merasakan Bebatuan
  5. Persemaian Artistik dan Intelektual
  6. Bergabug dengan Dunia
  7. Kebebasan dan Keadilan
  8. Dari Medali Emas Olimpiade Menuju Hadiah Nobel

Disini yang paling menarik adalah tiga pilar pertama. Pilar pertama menyoroti China pada tahun 1978. Saat itu Deng Xiaoping memahami bahwa masyarakat top down yang tersentralisasi dengan sedikit ruang untuk kontribusi pribadi bukanlah persemaian yang subur bagi ekonomi pasar. Emansipasi pikiran diperlukan demi keberhasilan reformasi ekonomi yang bercirikan desentralisasi. Emansipasi pikiran melonggarkan kendali dan member lebih banyak kebebasan individu. Emansipasi pikiran menuruni jenjang sosial hingga kelompok peringkat terbawah meningkatkan citra diari mereka, memungkinkan mereka melihat nilai kontribusi mereka terhadap keseluruhan , mendorong mereka mengambil peran di masyarakat. Dilanjutkan dengan pilar kedua yang menunjukkan bahwa perkembangan dinamika arahan top down pemerintah China dan inisiarif bottom up menunjukkan sinergi yang baik. China hadir dengan karya segar. Rakyatnya membentuk model baru yang disebut “demokrasi vertikal.” Kalau kebebasan bagi bangsa Amerika berari kesempatan menentukan bagaimana mereka hidup, tidak dihalangi tindakan semena – mena orang lain, hak individu menjadi pialr utama masyarakat. China hadir dengan kearifan khas timur. China maju dengan dua pandangan –yang juga inti ajaran Konfusius-ketertiban dan harmoni masyarakat. Hanya ketertiban yang dapat memberikan kebebasan sejati.ketertiban tidak mengekang, tapi menciptakan ruang untuk bermanuver. Maneuver positif tentunya.

Selama ribuan tahun China adalah autrokrasi feodalistis. Diperintah sepenuhnya secara top down, dan bottom up ditekan. Maka , demokrasi vertikal China didasarkan pada keseklarasan kekuatan top down dengan bottom up. Demokrasi a la Barat tidak dibangun dalam satu generasi. Proses pematangannya memakan waktu ratusan tahun. Disini China mengemuka dengan demokrasi hasil satu generasi!.

Maka berita di atas layak diapresiasi tinggi. Dan juga harus membuat kita kontemplatif. Bukan malah pragmatis. Praktis. Jiplak kasar. Alam Konstitusi 1978, peta jalan China sangat jelas:

1980-1990:Melipagandakan PDB

1990-2000:Melipatgandakan PDB

2000-2050:Menyelesaikan Modernisasi Bangsa

Pertanyaannya kini hanya satu. Dimana posisi Indonesia. Empat perekonomian terkuat dunia kini sudah memiliki konstelasi sosio-politik-BRIC. Sangat keren jika ditambah satu ‘I’lagi-menjawab semua perkiraan pakar. Indonesia.!

CHINA’S MEGATRENDS:8 PILAR YANG MEMBUAT DAHSYAT CHINA

PENULIS:JOHN&DORIS NAISBITT

PENERBIT:GRAMEDIA, 2010

ISBN:978-979-22-5842-4

TEBAL:XV+251 HALAMAN

Jumat, 23 April 2010

Melihat Melampaui Indonesia!



(bukan sekedar)Ulasan singkat buku terbaru Zuhal; Knowledge & Innovation Platform Daya Saing

Identitas Buku;

Judul:Knowledge & Innovation Platform Daya Saing

Penulis:Zuhal

Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama 2010

ISBN:978-979-22-5652-9

 

…Cahaya di atas cahaya. Dia membimbing cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia member pedoman “wisdom”bagi manusia karena Dia memiliki “knowledge”atas segalanya.(QS.24:35)

Buku ini benar – benar buku yang sangat luar biasa bagus. Buku ini mencoba menelaah lebih jauh mengenai Indonesia pada tataran persaingan global. Pemikiran Zuhal yang terbaru ini terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama diisi dengan ulasn ingkat mengenai platform daya saing kita. Pengembangan teknologi, kreativitas, modal alam, modal manusia yang akan menambah suatu nilai pada rangkaian produk akhir. Bagian dua mengulas masalah implementasi dari kesemuanya itu-teknologi, krearivitas, modal alam, modal manusia-dalam peningkatan daya saing Indonesia dalam skala dunia. Harapan buku ini jelas:melihat melampaui Indonesia yang biasa. Mencoba meneguhkan tesis:Ekonomi Berbasis Pengetahuan. Knowledge-Based Economy (KBE) yang telah mengantarkan banyak negara pada percaturan ekonomi dunia.

Bagian awal buku ini berhasil membuat pembacanya iri melihat kemajuan pesat negara – negara dunia yang dulunya dikenal sebagai underdog. Zuhal mengupas upaya terbaik India yang telah membangun masyarakat berbasisi IT hingga India memiliki 150-an ribu man-power bidang IT hanya di Bangalore saja!,mengalahkan ahli IT dari Silicon Valley yang “hanya”120-an ribu orang!.

Buku ini menjadi serasa makin gemuk dan kaya dengan disertainya reportase nyata dari pengembangan nyata iptek di Indonesia. Reportasenya dimulai dengan penerapan pengetahuan dan inovasi melalui produk akhir berupa distro dalam bus kreasi Fiki Chika Satari, batik fractal karya Muhammad Lukman, juga mengenai Bandung Creative City-Bandung berderet sejajar dengan 11 kota lain di dunia yang menjdi ikon kota kreati dunia;Glasgow(Skotlandia),Bristol dan London(Inggris), Cebu(Filipina), Bangkok(Thailand), Taipei(Taiwan), Auckland(Selandia Baru), Kuala Lumpur(Malaysia), Hanoi(Vietnam), dan Yokohama(Jepang). Reportase kedua mengangkat peningnya sebuah universitas riset()research university)sebagai rangkain triple helix-akademisi, institusi pemerintah, bisnis-dalam peningkatan KBE pada suatu negara. Reportase ketiga - keempat tentang improvement bidang ilmu dasar Molecular Farming LIPI dan Menambang Solar dari Alga. Pada reportasenya yang ketiga dan keempat itu penulis mencoba mengatakan bahwa kita sebenarnya tidak kalah dalam hal riset teknologi mutakhir. Kita hanya kalah dalam hal dana riset dan belum terbukanya mata pemerintah pusat maupun daerah tentang pentingnya riset berkelanjutan terhadap pengembangan suatu nilai tambah produk-produk industri contohnya. Reportase terakhirnya adalah reportase yang paling jauh ke depan. Yakni masalah teknologi nano. Teknologi nano-lah yang akan menyelamatkan kita!.

Disisi lain, buku ini membuka dengan lebar kelemahan kita. Dari segala indeks penilaian –Indeks Daya Saing, Indeks Pembangunan Manusia-Rasio riset dari PDB-kita masih kalah dari “murid”kita dulu-Malaysia. Padahal penduduknya 10 kali lebih banyak penduduk Indonesia. (Tapi menurut Anies Baswedan pada suatu kesempatan kita jangan melihat dari segi itu. Penduduk kita yang hebat juga tidak kalah banyaknya disbanding Malaysia. Coba  kita liha yang 10 persen atas. Kalangan akademisi kita jauh diatas Malaysia. Kita harus melihat dengan jauh. Beyond Indonesia, katanya.)Hingga kini dana riset kita hanya 0,1 persen dari PDB. Idealnya, kata ketua LIPI Prof Umar A Jennie adalah 4 persen.

Riset dan kecintaan pada bidang ilmu pengetahuan berbasiskan teknologi maju adalah jalan terbaik menuju KBE dan menciptakan Masyarakat Berbasis Pengetahuan-Knowledge –Based Society. Dengan itu kita kan bisa menyamai Finlandia yang dulu masyarakatnya dikenal sebagai pengelola hutan. Dengan PDB tahun 2004 yang sekitar 4 ribu dolar AS. Melonjak hingga 13 kali lipat pada 2008 sebesar 54 ribu dolar AS.

Belum lagi Jepang yang memegang banyak hak paten, juga Jerman dan negara maju lainnya. Data – data yang dibuka lebar ini meneguhkan lagi tesis (dari bahan bacaan lain) bahwa negara termakmur di dunia bukanlah negara dengan ladang minyak tinggi. Karena daya saing ≠ Kekayaan. Banyak contohnya :Korea Selatan, Jepang, Malaysia, China, India,dan bahkan negara-kota Singapura. Kuncinya hanya satu:SDM yang berdaya saing. Menguasai bidang ilmu dasar hingga ilmu termutakhir. Mulai biologi dasar hingga rekayasa skala nano. Menjadikan produk akhir yang berupa produk cerdas. Kini bukan saatnya lagi mengekspor bahan mentah. Harus kita galakkan gerakan nilai tambah suatu produk.

Yang terbaru adalah dari hasil rapat kerja dengan para menteri, gubernur, swsta, dan ahli teknologi di Tampaksiring, Presiden Yudhoyono telah mengetahui dan berusaha mengimplementasikan alih teknologi pada tiap sektor. Dengan harapan nyata nilai pertumbuhan ekonomi kita sampai tahun 2012 sebesar7- 7,7 persen. Semoga. Amin. Menuju Indonesia yang terbaik menjawab semua proyeksi yang ada:BRIIC, Next Eleven: Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Meksiko, Nigeria, Pakistan ,Filipina ,Korea Selatan ,Turki ,Vietnam

Pastinya dengan dana riset sebesar itu dari PDB kita akan puluhan tingkat diatas!. Sebauah optimism yang bukan seolah – olah!”semua akan indah pada saatnya.”

Ps:sejauh sekarang ini kita bukanlah lagi macan asia. Empat Macan Asia adalah: Hongkong, Singapura, Korea Selatan dan Taiwan. Tapi itu tak masalah. Hal itu menunjukkan persaingan sehat kita dengan banyak negara. Toh perubahan bukan juga berarti statis(kalau dulu gitu, sekarang juga harus gitu!-sangat konservatif jika masih melihat dari skala berpuluh – puluh tahun lalu mengabaikan pemikiran yang sangat maju dari semua negara yang dulu sangat miskin dan terbelakang). Yang terpenting kita semua kini tidak sedang berdiam diri. Kita sedang dalam kondisi sangat dinamis.

Selasa, 23 Februari 2010

EXPO 2010

Kala China Menuju Ibukota Global

Bosan juga akhirnya menyaksikan masalah yang sama tiap hari di teve. Perdebatan disini dan disana. Mulai dari masalah upaya penegakan hukum dengan benar hingga polemik penyebutan nama. Hak angket itu rasanya bergulir terlalu jauh.

Akhirnya melakukan semacam pelarian kecil di dunia maya. Mencoba menemukan sesuatu dari berita global lainnya. Dengan harapan menyaksikan, membaca serta mendengarkan kepositifan. Kepositifan yang membawa energi hebat. Energi perbaikan. Rejuvenation. Berita apapun asalkan positif. Riset improvisasi, berita kawat dunia, hingga lagu baru-yang akhirnya jatuh pada Kunang – Kunang.

Banyak link yang di-klik. Banyak juga printout yang didapatkan. Siap untuk dibaca sampai suntuk. Merasa autis sendiri dengan handout sebanyak itu. Kepositifan yang luar biasa datang (lagi!)dari China. China  menghentak lagi dengan progresnya. Banyak kemajuan di beberapa bidang. Yang paling tegas terlihat yaitu infrastrukturnya tang kian berdiri gagah.

Tahun ini, China sejak Mei hingga Oktober depan adalah host untuk Expo 2010. Dengan tagline-nya Better City Better Life(yang merepresentasikan harapan umum tiap manusia untuk kehidupan yang lebih baik pada masa depan lingkungan urban.), Expo 2010 akan diadakan di Shanghai. Investasi besar -melebihi jumlah yang digelontorkan pada Olimpiade Beijing 2008-senilai 45 miliar dolar amerika siap menyambut proyeksi 70 juta wisatawan. Bermaskotkan haibao yang dinilai mampu mewakili kebudayaan China. Banyak paviliun- paviliun dari beberapa negara dengan desain fantastis dan sangat laik. Mulai paviliun Kazakhstan, hingga Spanyol.

Hari ini Shanghai mencoba meraih kesuksesan masa lampaunya. Dahulu kala Shanghai dikenal sebagai surga opium dan tempat prostitusi besar. Pemerintah China tak ingin pertumbuhan China yang cepat dan progresif hanya sebagai sekedar menjadi headline harian mancanegara. Tapi harus ada aksi nyata. Sebuah pembuktian lumrah dari tingkat terendah hingga mencapai banyak kemakmuran kini.

Sejak awal berdiri China memang sudah tahu akan dibawa kemana masa depan negara itu. Sama halnya dengan Indonesia, China sering berganti-ganti pemerintahan. Pertumpahan darah adalah hal yang sangat biasa. Tapi China tidak lekas terpuruk. China  tidak lantas debat disana sini tanpa hasil implementasi jelas. Kala itu, mengutip Kompas ; Presiden Jiang Zemin pada 2000 mengumpulkan semua pemimpin China untuk membahas bagaimana mengurangi beban pelajaran siswa melalui adopsi sistem pendidikan yang patut secara umur dan menyenangkan, serta pengembangan semua aspek dimensi manusia, kognitif, karakter, aestitika, dan fisik.

Pada 2005, Pusat Penelitian Modernisasi China menerbitkan peta jalan Modernisasi China untuk abad ke-21. Isinya: tahun 2025 produk domestik bruto (GDP) China menyamai Jepang. Tahun 2050 China jadi negara maju secara moderat. Tahun 2080 China menjadi negara maju, sama dengan AS. Tahun 2100 China menjadi negara paling maju di dunia, melampaui AS. Atas dasar peta jalan itu, China  bergerak menuju masyarakat yang lebih baik secara bersama (xiaokang).

Pendidikan dinomor satukan. Sumberdaya manusianya menjadi andalan. Setiap warga China yang tengah belajar di luar negerinya memiliki beban untuk segera kembali ke rumah untuk menerapkan apa yang didapatnya. Setiap warga China sangat bersungguh – sungguh karena memang mereka pernah dan masih menjadi (di)minoritas(kan). Dianggap aneh. Berwajah aneh, sipit, dll. Dengan aksi sangat nyata China menyumpal semua mulut besar itu.

Riset terakhir menunjukkan bahwa perguruan tinggi China menjadi yang dituju kebanyakan orang. China menjadi satu diantara sepuluh negara tujuan pendidikan. Berikut hasil risetnya(dikutip dari sini dengan revisi penulisan).

1. Amerika serikat

Amerika merupakan magnet yg sangat besar bagi tidak hanya mahasiswa indonesia, namun juga mahasiswa di seluruh dunia.

2. Australia

Lebih dari 15.000 orang indonesia menuju Australia tiap tahunnya untuk belajar.

3. Singapura

18.000 orang mahasiswa Singapura berasal dari Indonesia. Alasan memilih Singapura sebagai tujuan pendidikan adalah tawaran beasiswa, setelah selesai belajar hampir pasti bisa bekerja.

4. Malaysia

Alasan memilih malaysia sebagai tujuan pendidikan adalah dekat jaraknya dari Indonesia, serta biaya ringan.

5. Jerman

Alasan memilih Jerman sebagai tujuan pendidikan: Biaya pendidikan murah, 78 juta untuk tingkat Strata 1. Terkenal dengan program tekniknya(Pemenang Solar Decathlon salah satunya dari Universitas Teknik di Jerman).2.500 orang mahasiswa berasal dari Indonesia.

6.Jepang

1.500 orang mahasiswa berasal dari Indonesia.

7. Inggris

Sebagian besar mahasiswa Indonesia  belajar di Inggris untuk mengambil program pasca sarjana, dengan fokus pada jurusan bisnis, seni, psikologi.

8. Belanda

Mahasiswa Indonesia adalah mahasiswa asing tebesar kelima di Belanda. Jumlah  pelajar Indonesia di belanda diperkirakan sekitar 1.450 orang

9. Mesir

Universitas Al Azhar adalah pusat studi islam para mahasiswa indonesia. Hampir 5000 orang indonesia menuntut ilmu di sana.

10. China

Bahasa menjadi jurusan pilihan orang indonesia, kemudian medis.

Dan, salah satu peraih Hadiah Nobel Fisika tahun 2009, Charles K Kao adalah warga China.

 

Rabu, 03 Februari 2010

Dunia Yang Lebih Baik


(foto dari National Geographic)

Para ilmuwan sedang mengusahakan untuk membuat Mars sebagai Bumi Baru. Banyak biaya dan teknologi yang digunakan. Ilmuwan akan membuat pemanasan global di Mars. Hal itu dilakukan menyangkut kenyataan bahwa kendaraan penjelajahnya telah menemukan bahwa awalnya Mars itu hangat. Dengan menghangatkan Mars akan dilepaskan CO2 beku yang akan menyesuaikan kehangatan dan memacu tekanan atmosfirnya pada tingkatan dimana  cairan dapat mengalir. Gas rumah kacayang hendak digunakan adalah Perfluoro Karvon yang dapat disintesis dari Lumpur Mars lalu dialirkan ke atmosfir.

“Dunia yang lebih baik.”

“Mana?Masa’ iya ada?”

“Mimpi kamu!”

Manusia cenderung skeptis menilai dunianya sendiri. Banyak isu dan fenomena yang berkembang. Awalnya hanya sebatas teori. Berkembang menjadi hokum. Ketetapan tanpa cela. Ketetapan mutlak tanpa friksi.

Menyadari bahwa dunia yang lebih baik ada di sini sangatlah penting. Optimisme terlanjur kabur tertutup bayangan skeptisme yang lebih gelap. Semua orang berbondong – bondong dengan segala daya upaya mencari dan juga berusaha mencari bumi yang lain. Bumi lain sebagai solusi alternative pengganti bumi yang kini kita pijak. Bumi yang katanya sudah tak layak huni.

Lintas galaksi ditempuh ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk mencari Bumi Baru. Dari yang paling ekstrim jaraknya hingga yang terdekat dan menjadi tetangga kita- Planet Mars. Planet Dewa Perang dengan satelit berupa Ketakutan dan Teror.

Semua itu tak lepas dari pendapat yang berkembang mengenai kondisi lingkungan kita. Tergantung sumber yang telah anda dapatkan. Tergantung buku yang telah anda baca. Dan tergantung dokumenter yang telah disaksikan.

Orang awan bias jadi pro setelah membaca buku karya Albert Gore mengenai lingkungan, Our Choice: a plan to solve the climate crisis, dan juga setelah menyaksikan dokumenternya tentang perubahan iklim An Inconvenient Truth. Akan semakin pro jika ditambahkan ramuan terbaru Friedman Hot Flat and Crowded. Banyak juga yang akan skeptis pula tentang tanggung jawab terhadap lingkungan saat membaca analisa – analisa dari para ilmuwan dan korporasi berbasis industri. Para awam akan berpikir ulang sekali lagi mengenai alam sekitar dan kondisi kekacauannya saat bertemu bahan bacaan Superfreakonomics:Global Cooling, Patriotic Prostitutes and Why Suicide Bomber Should Buy Life Insurance juga State of Fear milik Chricton.

Untuk saat ini bumilah harapan kita. Dan disinilah dunia yang lebih baik itu. Pun jika planet yang paling mirip dengan bumi telah ditemukan, dan teknologi paling mutakhir dapat diterapkan, tetap tak akan ada bumi kedua. Tak perlu harus mondar – mandir lintas galaksi. Kita hanya butuh tekad untuk menjaga dan memperbaiki bumi kita yang memang sudah akut kondisinya.

Walaupun kondisi di Mars sudah memungkinkan. Butuh berapa milenia untuk menjadikannya selayak Bumi?. Menghabiskan bermilenia – milenia untuk mencari hunian baru bukanlah langkah terbaik. Tapi juga bukan berarti tidak mungkin.

Yang paling baik dan paling mungkin adalah menjaga kondisi hunian kita kini. Menumbuhkan lagi tanggung jawab sosial. Anggap kita telah berhutang kepada bumi dan kini saatnya membayar. ‘Debt Collector’ nya adalah bencana. Kalaupun keadaan tak memungkinkan maka kita harus menciptakan keadaan yang mungkin. Meninjau ulang pemikiran kita mengenai pemanfaatan kearifan lokal. Lebih bijak dan kembali kepada kehidupan normal yang peduli kepada sekitar. Memanfaatkan yang ada. Kita semua yakin bahwa dunia tempat kita hidup ini masih kaya dan beragam sumber daya yang menanti untuk dieksplorasi dengan bijak.

“Disaat tanah tak lagi subur, kau harus memeperbaikinya. Bajak dan berilah pupuk agar tanah itu subur kembali.”

Problema Negara Berkembang (2)

Tera-Transformasi

Kisah mengenai problema yang ditransformasikan menjadi kekuatan banyak terjadi di Negara berkembang. Kuba , Bangladesh, dan India  memiliki contohnya masing – masing.

India si Mutiara Hitam

[sepertinya]Kesengsaraan adalah motivasi utama India. Di kala negeri ini dihebohkan dengan mobil dinas yang sangat mahal, India mendobrak ‘kebiasaan’ aneh itu dengan muncul sebagai Negara yang memakai mobil karya negerinya sendiri. Mobil dinas yang nyatanya boros energi itu seolah sangat miris dengan kenyataan bahwa Indonesia akan mengurangi emisi karbonnya hingga 26 persen. Di sektor pemanfaatan kearifan local India juga melaju cepat. India  kala itu pada tahun 2005 mencanangkan suatu program bernama National Rural Employment Guarantee Act (NREGA). Program tersebut memberdayakan perekonomian pedesaan. NREGA menjamin banyak rumah tangga di pedesaan. Rumah tangga di pedesaan dikelompokkan dalam tiap – tiap tim yang terdiri dari 4 rumah tangga. Dengan tugas sederhana : wajib menanam 200 pohon, di dalamnya termasuk pohon buah – buahan. Rumah tangga itu akan mendapatkan gaji jika pada akhir tahun terdapat setengah dari jumlah pohon awal yang mampu nertahna hidup. Sebuah langkah inovatif yang berkesinambungan.

Kuba yang Tegar

Kuba hadir dan berdiir tegak di antara dominasi Eropa dan Amerika. Dan yang terpenting adalah mampu berdiir dari dominasi Amerika Serikat. Sejak dahulu  Kuba adalah seteru utama AS. Kini bersama Bolivia, Venezuela dan beberapa Negara Amerika Latin Kuba mencoba menggeser dominasi AS yang mereka nilai kelewatan. Embargo ekonomi atas Kuba hanya sedikit berpengaruh di awal. Dengan berbagai cara AS belum sanggup menggulingkan pemimpin Kuba yang dinilai sebagai penggagas perseteruan. Tapi Kuba masih tetap berdiri tegak. Meskipun ‘hanya beberapa meter’ jaraknya tapi pemimpin Kuba masih menunjukkan taringnya. Sangat kontras dengan Saddam Husein yang berhasil ditundukkan.

Kuba bangkit karena sadar akan potensi sumber daya manusianya. Jangan ditanyakan maslah edukasi. Di Kuba edukasi menjadi motor penggerak kemajuan bangas. Layanan edukasi hingga jenjang perguruan tinggi digratiskan. Layanan pendidikan dan kuliah professor dapat dinikmati di teve – teve di Kuba. Dibandingkan Negara berkembang lain Kuba memiliki jumlah paramedic , dan akademisi lebih banyak. Malaria yang masih menjadi masalah yang belum usai di beberapa negara berkembang bukanlah momok yang menakutkan lagi bagi Kuba. Bahkan angka harapan hidup masyarakatnya setara bahkan jauh di atas AS.

Bangladesh yang inovatif

Bangladesh mencuat saat pada tahun 2006 putra bangsanya meraih penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian. Muhammad Yunus dengan semua inovasinya dinilai mampu membuat Bangladesh lebih moderat. Muhammad Yunus dan bisnis sosialnya mengubah hidup warga Bangladesh- negara miskin yang beranjak maju. Yunus mendirikan suatu bank yang dalam bahasa sekitar disebut Bank Grameen atau Bank Desa. Bank Grameen memberikan kredit mikro kepada kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang. Besaran kreditnya antara 30 – 40 dolar. Bisnis social Yunus berhasil. Bukanlah dividen yang dipikirkannya melainkan upaya pengentasan kemiskinan. Anggotanya secara sadar untuk memperbaiki keadaan melalui perubahan – perubahan bijak.

Anggota Bank Desa harus paham semua aturan yang ada dan telah terangkum did lam Enam Belas Keputusan. Langkah briliannya dalam mengentaskan kemiskinan sangat taktis jika dikorelasikan dengan kondisi negaranya. Kini perlahan namun pasti Bangladesh bergerak maju mengiringi kemajuan India. Gagasan Yunus mampu mengubah masyarakat yang mendapatkan kredit mikro. Yunus dengan banyak program pengentasan kemiskinan telah mengurangi angka buta huruf, menaikkan pendapatan per kapita, memperbaiki kualitas kesehatan dan indicator – indicator lain. Yunus menilai Bangladesh  telah mampu memenuhi 8 indikator yang terdapat di dalam Tujuan Pembangunan Milenium.

Dengan gagasannya Muhammad Yunus mengajak warga dunia untuk meletakkan kemiskinan  di dalam museum!

Bodoh itu modal untuk pandai, miskin itu modal untuk kaya, kesengsaraab itu modal untuk kesejahteraan.

 

Minggu, 31 Januari 2010

Problema Negara Berkembang(1)

Laporan Pembangunan dan Perdagangan 2009 olehUNCTAD mengkategorikan negara – negara di dunia yang berekonomi kuat pada tiga tipe.

Tipe Negara Industri Maju. Di dalamnya berisi banyak negara Eropa dan Amerika. Australia, Autria, Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Yunani, Hogaria, Eslandia, Irlandia, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat ‘bersesakan’ pada tipe ini.

Tipe Pasar Berkembang. Mayoritas berisi negara – negara di kawasan Asia. Argentina , Brasil, Cile, China, Hongkong, Taiwan, India, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Peru, Filipina, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, Thailand dan Rusia.

Tipe Ekonomi Transisi adalah duo Kazakhstan  dan Rusia. Tiga tipe tersebut juga yang paling sering membuat berita heboh dunia. Banyak yang bernada positif karena berhasil membuat prestasi gemilang, ada juga yang kian terjerembab.

Tahun 2009 ditutup manis dengan banyak catatan dari pulihnya krisis ekonomi. Subprime mortgage di Amerika Serikat tak terlalu menggoyahkan negara – negara di dunia. Dubai, anggota Uni Emirat Arab yang dikbarkan sempat terpuruk dengan mengesankan ditandai dengan persmian Burj Dubai, yang kemudian bergnti nama menjadi Burj Khalifa, sebagai bangunan tertinggi di dunia dengan tinggi hamper satu kilometer- 818 meter. Dubai  banyak menyisahkan decak kagum akan proyek – proyek yang ‘memaksa’ teknologi hingga batasnya. Sebutlah Burj Khalifah, Palm Jumeirah, The World.

Kabar baik juga kita saksikan saat trio negara Eropa telah menjadi Ibu Kota Budaya Dunia oleh UNESCO. Program PBB mengenai edukasi, sains, dan budaya itu telah menetapkan kota Essen (Jerman), Pecs(Hungaria), dan Istanbul (Turki ) sebagai ibu kota budaya Eropa. Nama Turki menjadi menarik disimak, karena negeri itu sdang giat – giatnya masuk jajaran negara Uni Eropa.

Amerika Serikat kian mendapatkan sorotan tajam saat Komite Nobel menganugerahi pemimpinnya penghargaan kemanusiaan tertinggi-Nobel Perdamaian 2009. banyak yang salut, tapi juga banyak yang skeptis-optimis. Lebih banyak yang skeptis-optimis. Pihak yang apatis tersebut menilai bahwa penghrgaan itu mengkritisi si penerima mengenai aksinya yang belum nyata dalam hal perdamaian dunia. Yang nyata adalah penambahan pasukan invasi ke negara – negara yang telah diinvasi negeri kapitalis itu. Sejak awal penghargaan bidang perdamaian itu controversial, tapi juga sangat ditunggu. Rilis persnya di Oslo  menjadi yang paling dinanti jurnalis di awal Okober setiap tahunnya.

Yang paling membuat trenyuh dan miris adalah apa yang terjadi di negara di Tipe Pasar Berkembang. Kelompok militant di Filipina membantai jurnalis. Belum lagi kasus banyak jurnalis yang tewas di negara konflik telah menambah jumlan jurnalis yang tewas, terbunuh ataupun disandera selama tahun 2009.

Problema negara berkembang bagaikan siklus. Pembunuhan – pembantaian-pelanggaran HAM yang lain. Selalu berada pada lingkaran pelanggaran HAM. Masalah infrastruktur yang tidak memadai, edukasi yang kian apa adanya, permukiman kumuh menjadi permasalahan yang masih belum usai.

Tapi kini negara berkembang semakin bergerak maju. Mencoba menggeser dominasi negara maju. Di banyak sector negara berkembang berhasil mentransformasikan problemanya menjadi sebuah prestasi. Kita dikejutkan dengan konstelasi ekonomi dari empat negara yang terkenal dari singkatannya-BRIC-Brasil, Rusia, India, China. Kisah sukses perekonomian keempat negara itu menjadi wacana di banyak harian, surat kabar seluruh dunia. BRIC dengan tegas meminta pewacanaan ulang dolar sebagai tolak ukur mata uang internasional. Keeksistensian Amerika Serikat diperdebatkan. Tak dipungkiri, bahwa keemapt negara itu yang kini paling berpengaruh.(bersambung)