Kamis, 27 September 2012

Listrik Byar-Pet, Konon Itu Cerita Lama

Listrik Byar-Pet, Konon Itu Cerita Lama


        Di Indonesia, korporasi milik pemerintah tengah berjalan menuju perubahan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan sorotan primer masyarakat yang selalu mendamba kinerja yang laik. Hal tersebut kiranya juga sedang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Melalui semangat perubahannya, PLN bergerak maju ke garda terdepan dalam rambu-rambu Tata Kelola Korporasi yang Baik (Good Corporate Governance/ GCG).

        Berbicara tentang PLN dan kita, setidaknya akan menyingkap dua permasalahan primer klasik. Pertama, tentang upaya pemenuhan kebutuhan listrik untuk 240 juta lebih penduduk Indonesia. Kedua, mengenai upaya menjalankan tata kelola korporasi yang baik melalui penghapusan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

       Permasalahan pertama menyeruak pada keseharian kita karena, dalam upaya pemenuhan kebutuhan listrik, masih sering terjadi pemadamam berkala, atau istilah kerennya byar-pet. Harus diakui bahwa, memenuhi kebutuhan listrik untuk seluruh penduduk Bumi Pertiwi bukan perkara mudah. Hal tersebut diperparah dengan praktik korporasi yang belum maksimal oleh PLN saat permasalahan byar-pet menjadi heboh. Untuk permasalahan tersebut, saya sebagai mahasiswa menjadi salah satu ‘korbannya’. Namun, sisi positifnya, pengalaman tersebut menjadikan saya lebih arif dalam menggunakan perangkat digital.

          Maka, setidaknya dua hal berikut ini mencoba menegaskan bahwa, kehebohan byar-pet merupakan cerita lama.

Keterbukaan informasi

        Upaya menjadikan PLN sebagai agen primer yang menjunjung tinggi GCG dan semangat anti korupsi harus sejalan dengan program perbaikan yang signifikan dan holistik. Hal ini merujuk pada fakta bahwa, pada aras Asia Tenggara, PLN masih tertinggal. Dewi Aryani[1] melalui artikelnya yang berjudul Kemana Arah Listrik Kita? (Koran SINDO, 07 September 2012) menyajikan data terbaru mengenai elektrifikasi Indonesia. Menurutnya, rasio elektrifikasi Indonesia yang hanya 74,3% jauh tertinggal dari negara-negara kawasan seperti Singapura (100%), Brunei Darussalam (99,7%), Malaysia (99,4%), Thailand (99%), Vietnam (97,6%), dan bahkan Filipina (89,7%).
Akun resmi @pln_123
          Fakta tersebut jelas merupakan tamparan keras untuk negeri ini. Negeri yang bersiap untuk bergerak maju sebagai salah satu kekuatan utama perekonomian dunia. Namun, PLN tak harus gentar dan kehilangan momentum untuk bergerak maju dengan skema GCG dan semangat anti korupsi. Pada era digital seperti sekarang ini, upaya mejadikan ‘slogan’ byar-pet sebagai cerita lama menjadi lebih mudah. Pertama, karena PLN dapat merengkuh dan berdialog serta mendengar secara langsung keinginan pelanggannya melalui media sosial. Disini, PLN harus mau ‘sedikit merepotkan diri’ untuk membuka dengan selebar-lebarnya corong episentrum informasi. Kedua, pada tahun 2011, PLN merupakan BUMN yang meraih penghargaan premium pada Anugerah BUMN 2011.[2] Secara lugas, kinerja PLN sangat diakui pada kategori ‘Inovasi Produk Jasa BUMN Tebaik’ dan ‘Inovasi Pelayanan Publik BUMN Terbaik’.
Keterbukaan informasi PLN melalui media sosial
Penghargaan premium tersebut menegaskan kemampuan PLN sebagai inovator pada sektor publik. Sebagai salah satu generasi abad ini yang familiar dengan media sosial, saya sangat apresiatif dengan langkah  PLN dalam membuka informasi korporasinya kepada publik secara luas melalui Facebook maupun Twitter. Fakta ini menjadi menarik karena saya tahu belum banyak korporasi pemerintah yang melakukan hal serupa. Umumnya, menurut saya, korporasi pemerintah yang belum memiliki jejaring di media sosial belum mengetahui keampuhan media sosial dalam menciptakan jejaring serta menyebarkan informasi. Maka, saya anggap korporasi milik pemerintah yang lain tersebut melakukan ‘pelanggaran normatif sederhana’ karena belum mau keluar dari kotak birokratifnya dan karena belum mau membuka informasi kepada publik secara luas.

Akun informatif PLN 123 di Facebook. Ada yang belum nge-like?

Akun informatif @blogdetik

Fakta bahwa PLN telah merengkuh media sosial membuat saya senang. Karena ini menegaskan bahwa, PLN bukanlah korporasi pemerintah yang sekedar hebat-biasa. Selain itu, bukankah langkah maju dibawah panji-panji semangat GCG dan tekad mencegah korupsi memerlukan upaya yang tidak biasa. Semangat menyongsong PLN sebagai aktor utama penerapan GCG dilandasi fakta bahwa listrik itu penting untuk mendukung kemajuan negeri ini. Wasistho Adji[3], Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menyatakan bahwa energi listrik adalah kebutuhan vital pada era peradaban masa kini. Keterbatasan atau kekurangan pasokan energi listrik akan berdampak pada beberapa persoalan vital, diantaranya tidak ada investasi baru (pertumbuhan investasi) karena tidak tercukupinya pasokan listrik untuk mendukung operasional pabrik baru. Derivatnya secara langsung adalah tidak ada pertambahan lapangan kerja.

Transparency International Indonesia (TII)
Semangat perubahan
          Semangat perubahan yang dilakukan PLN kini kian menemui maknanya.  Kerjasama yang dilakukan PLN dengan Transparency International Indonesia (TII) setidaknya menegaskan upaya menuju koporasi dengan konsep GCG dan semangat anti korupsi. Melalui laman resminya[4], PLN menegaskan bahwa melalui kerjasama tersebut, baik PLN maupun pelanggan, vendor/mitra kerja dan pemegang kebijakan (stake holder) lainnya sama-sama dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan berpotensi menimbulkan korupsi.


Akun Komunikasi Korporasi PLN. GCG banget, ya?

          Semangat perubahan yang lainnya dilakukan oleh PLN dengan menargetkan investasi pada tambang batubara senilai 1 milyar dolar seperti dikutip Reuters.[5] Hal tersebut dilakukan untuk mendukung dan memastikan suplai listrik terpenuhi serta upaya lugas agar kelak tidak melakukan impor. Hal tersebut laik untuk dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara yang besar dan akan sangat riskan jika untuk suplai saja harus didukung dengan impor bahan baku.

          Kenyataan tersebut didukung dengan apa yang disampaikan oleh Gita Wirjawan, yang kala itu menjabat Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),  dalam International Conference on Futurology [6]di Jakarta 28 Juli 2011. Menurutnya, terdapat tiga mimpi primer untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik. Pertama adalah tentang hard infrastructure seperti ketersediaan listrik, rel kereta, dan jalan. Kedua merupakan mimpi tentang edukasi dan kesehatan yang masuk dalam koridor soft infrastructure. Mimpi terakhir adalah tentang digital. Era digital akan mampu mengakhiri keterbatasan informasi dan pendidikan di daerah terpencil. Jelas, poin pertama dan ketiga tengah direngkuh dengan baik oleh PLN.
Media sosial, episentrum keterbukaan informasi
          Apa yang sedang dilakukan oleh PLN sekarang ini memang selayaknya harus dilakukan oleh setiap korporasi pemerintah di Bumi Pertiwi ini. Terhampar begitu banyak riset, seminar, dan kajian yang menunjukkan bahwa semangat perubahan harus selalu dilakukan di Indonesia. Semangat perubahan yang dilakukan korporasi pemerintah merupakan upaya afirmatif dalam mendukung kemajuan Indonesia. Bahwa, negara-negara maju di dunia bukan menjadi sejahtera karena sumber daya alam (SDA) yang dimilikinya. Melalui bukunya, Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing (2010), Zuhal[7] menyoroti pentingnya kekuatan sumber daya manusia (SDM) dan modal dalam mencapai kesejahteraan berbasis daya saing. Bahwa, menurut Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) tersebut, SDA tidak sama dengan kekayaan. Bahwa, pembangunan infrastruktur negeri ini harus didukung oleh SDM yang kompeten dan kapital yang memadai.

          Pada akhirnya, melalui GCG dan semangat anti korupsi, PLN tengah mengakhiri stigma negatif pada korporasi tersebut mengenai listrik byar-pet-nya. Bahwa, semangat PLN tersebut harus didukung dengan semangat lain untuk yaitu keterbukaan informasi dan semangat perubahan yang laik. Bahwa benar, aku dan PLN merupakan cara sederhana untuk menunjukkan harapanku untuk PLN. Bahwa benar, kemajuan PLN satu, dua atau sekian dekade ke depan bukan karena ‘Electricity For A Better Life’[8] melainkan karena PLNKerja, Kerja, Kerja’!

          Inilah sekelumit harapan seorang mahasiswa yang menjadi ‘korban’ listrik byar-pet. Eh, konon itu (sudah) menjadi cerita lama kini.

Referensi:

Dahlan Iskan Ganti Slogan PLN Jadi Bekerja Bekerja Bekerja http://finance.detik.com/read/2011/10/06/194504/1738549/1034/dahlan-iskan-ganti-slogan-pln-jadi-bekerja-bekerja-bekerja  Diakses 27 September 2012.

 

Dewi Aryani ; Anggota Fraksi PDI Perjuangan; Ketua PP ISNU, Kemana Arah Listrik Kita? Di dalam Koran SINDO 07 September 2012.

Indonesia's PLN eyes $1 billion investment in coal mines http://www.reuters.com/article/2012/08/14/us-indonesia-coal-pln-idUSBRE87D05W20120814   Diakses 27 September 2012.

Inilah BUMN-BUMN Terbaik 2011

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/12/02/08284285/Inilah.BUMNBUMN.Terbaik.2011  Diakses 27 September 2012.

PLN Jalin Kerjasama Dengan Transparency International Indonesia Dalam Penerapan GCG http://www.pln.co.id/?p=5127  Diakses 27  September 2012.

The International Conference On Futurology 2011. http://www.youtube.com/watch?v=6PTuPnKTeSQ  Diakses 01 Mei 2012.

Wasistho Adji ;  Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Listrik dan Sumber Energi Baru, Di dalam SUARA MERDEKA, 22 Juni 2012.

Zuhal. 2010. Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing. Jakarta: Gramedia.





[1] Dewi Aryani ; Anggota Fraksi PDI Perjuangan; Ketua PP ISNU, Kemana Arah Listrik Kita? Di dalam Koran SINDO 07 September 2012

[2] Inilah BUMN-BUMN Terbaik 2011

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/12/02/08284285/Inilah.BUMNBUMN.Terbaik.2011  Diakses 27 September 2012


[3] Wasistho Adji ;  Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Listrik dan Sumber Energi Baru, Di dalam SUARA MERDEKA, 22 Juni 2012
[4] PLN Jalin Kerjasama Dengan Transparency International Indonesia Dalam Penerapan GCG http://www.pln.co.id/?p=5127  Diakses 27  September 2012

[5] Indonesia's PLN eyes $1 billion investment in coal mines http://www.reuters.com/article/2012/08/14/us-indonesia-coal-pln-idUSBRE87D05W20120814   Diakses 27 September 2012

[6]The International Conference On Futurology 2011. http://www.youtube.com/watch?v=6PTuPnKTeSQ  Diakses 01 Mei 2012.


[7] Zuhal. 2010. Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing. Jakarta: Gramedia.


[8]Dahlan Iskan Ganti Slogan PLN Jadi Bekerja Bekerja Bekerja

5 komentar:

Nuzul Romadona mengatakan...

Selamat ya udah jadi pemenang kontes blog.... :D
Tulisannya emang keren..ilustrasinya juga bagus... :)

SERUMENYALA mengatakan...

Makasih, Mas. :) Salam kenal. Masih berusaha menulis dengan baik, Mas. :)

Cepy Hidayaturrahman mengatakan...

tulisan dan referensinya emang keren, pantas jadi salah satu juara!!

salam kenal, saya cepy, orang bogor juga :D

SERUMENYALA mengatakan...

@Cepy: Salam kenal juga Kang. Bogornya mana, neh Kang? Alhamdulillah dpt. Msh berusaha nulis dengan baik. Yg mantab tulisan yg dpt hadiah Scoopy-nya Kang. Ngarep. :D

Hotel di Bandung mengatakan...

Selamat ya udah jadi pemenang ke 4 dengan hadiah duit 500rb