Rabu, 27 Juni 2012

Susu Inovasi dan Generasi Indonesia yang Menginspirasi

Indonesia adalah salah satu negara yang akan ditagih janjinya oleh negara maju pada tahun 2015. Pada saat itu, Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) akan menemui tenggatnya. Melalui MDGs, negara-negara maju memberikan tantangan kepada negara-negara berkembang melalui delapan sasaran. Dari delapan sasaran yang ada, poin kedua layak mendapat perhatian lebih. Poin kedua adalah tentang mencapai pendidikan dasar untuk semua. Hal ini menjadi menarik mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang masih jamak berada pada garis kemiskinan.

Pendidikan dasar untuk semua dapat dicapai secara maksimal jika masyarakat berada dalam kondisi terbaiknya, yaitu sehat. Laporan Departemen Kesehatan RI menunjukkan bahwa, masyarakat Indonesia masih kurang gemar mengkonsumsi susu. Konsumsi susu menunjukkan kriteria ‘sehat’ yang dimaksud di sini. Bahwa generasi sehat adalah syarat primer kemajuan sebuah bangsa. Kesehatan selalu berbanding lurus dengan kecerdasan. Setiap manusia memiliki potensi kecerdasannya masing-masing.

Tendensi untuk mengkonsumsi susu di negara-negara berkembang masih belum menunjukkan tren positif. Padahal di Amerika Serikat, gerakan minum susu bahkan menjadi agenda rutin tahunan. Harvard Milk Days selalu dilaksanakan pada awal bulan Juni selama tiga hari berturut-turut. Saat itu, semua usia berlomba-lomba untuk minum susu. Hasilnya? Penduduk Amerika Serikat tergolong penduduk yang sehat dan cerdas. Perekonomian memang smepat memburuk, namun Bank Dunia mencatat, PDB AS tahun ini masih yang tertinggi sejagat, disusul China dan Jepang. 

Susu yang baik
Anak-anak adalah salah satu sasaran utama gerakan minum susu massal di negeri ini. Hal itu sangat laik karena anaka-anak adalah generasi emas penerus bangsa ini ke depannya. Namun, susu yang seperti apa yang laik bagi generasi emas itu? Menurut para ahli, kualitas kecerdasan seorang anak juga bisa rusak akibat faktor-faktor tertentu, seperti kekurangan nutrisi dan stimulasi yang buruk. Blogdetik pada laman khusus kesehatannya banyak mengulas tentang hal ini.

Menjawab pertanyaan tentang kebutuhan susu yang laik, Frisian Flag hadir dengan jawabannya yang lugas: susu inovasi. Frisian Flag hadir dengan susu ber-isomaltulosa yang sangat laik untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan primer. Isomaltuloda terbukti baik dalam mendukung pertumbuhan anak. Riset telah membuktikan bahwa kandungan isomaltulosa pada susu terbukti memberikan suplai energi bagi otak anak. Perlu dicatat bahwa, anak memerlukan asupan energi 200 kali lebih banyak daripada orang dewasa. Susu inovasi yang sehat dan baik akan mampu mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Sementara itu, pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), Ahmad Syafiq, menyatakan bahwa, kekurangan gizi pada janin dapat menyebabkan penyakit degeneratif kronis pada anak saat mencapai usia dewasa. Hal ini menjadi pentiing karena kesehatan janin dan kecukupan gizinya menentukan kecerdasan anak. Kecerdasan yang baik dan gizi yang seimbang serta cukup mampu mendukung aktivitas belajar anak yang pada akhirnya mampu memberikan stimulasi kecerdasan berlipat (multiple intelligence) pada anak.

Kecerdasan pada usia belia bukan hanya menjadi prioritas primer Indonesia dalam mengejar tujuan pembangunannya. Hal yang sama dilakukan oleh Bangladesh, negara berkembang yang juga bersiap menuju negara maju dalam segala bidang. Melalui Bank Gramen, salah satu inovasi dari Muhammad Yunus, angka kecukupan gizi masyarakatnya dapat terpenuhi dengan produk yoghurt yang diperkaya. Dalam bukunya, Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan: Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita (2008), Yunus mencoba membuka mata kita tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Yoghurt yang diperkaya adalah jawaban holistik akan kecukupan gizi masyarakat Bangladesh, nilai tambah pada susu, dan inovasi sederhana namun memberdayakan.

Hal yang sama juga tecermin dari inovasi termutakhir Frisian Flag, yaitu isomaltulosa. Isomaltulosa merupakan jenis karbohidrat unik yang diperoleh dari madu dan gula tebu. Dalam penelitiannya seperti dikutip laman Sciencedaily, isomaltulosa terbukti memiliki indeks glykemik (glycaemic index/GI) yang rendah sehingga  mampu mengontrol kadar glukosa dalam darah. Susu inovasi ber-isomaltulosa hasil riset para pakar nutrisi Frisian Flag juga menunjukkan bahwa, tidak terdapat tendensi obesitas dan keasaman dalam mulut yang mampu meruska gigi. Hal yang sangat riskan bagi anak, khususnya usia satu sampai tiga tahun, serta empat sampai enam tahun (Frisian Flag Isomaltulosa 123, dan 456).
Isomaltulosa merupakan penyedia energi natural bagi anak. Isomaltulosa yang lambat diabsorpsi dan dihidrolisis menyediakan energi tambahan yang konstan bagi anak. Hal ini sangat relevan dengan karakter anak-anak yang senantiasa dinamis. Sumber energi baru itu bertahan lebih lama dibandingkan dengan karbohidrat yang terabsorbsi dengan cepat. 

Mengetahui kelaikan susu inovasi yang mengandung isomaltulosa, maka gerakan minum susu ber-isomaltulosa secara massal harus digalakkan. Terdapat satu hal menarik tentang gerakan massal minum susu ini. Frisian Flag hadir dengan inovasinya yang lain. Frisian Flag Indonesia merayakan selebrasi Hari Susu Sedunia 2012 dengan cara yang unik namun sangat komprehensif dalam mendukung kecerdasan anak. Frisian Flag Indonesia hadir dengan Konferensi Keluarga Cerdas Frisian Flag dalam selebrasi tersebut. Hal ini menarik karena Frisian Flag mengajak keluarga untuk turut serta dan menjadi agen primer pendukung kemajuan anak. 

Masalah kelaikan susu inovasi yang diperlukan bagi anak-anak adalah tentang upaya Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunannya. Indonesia yang sedang dalam taraf menuju negara dengan kekuatan ekonomi stabil merupakan sasaran yang tepat gerakan konsumsi susu inovasi untuk anak. Menggeliatnya angka kelas menengah Indonesia, perekonomian yang stabil, dan bonus demografinya adalah tiga komponen utama pendukung kemajuan bangsa. Bangsa yang sehat karena penduduknya menjadikan susu sebagai sumber asupan primer.

Halalan Thayyiban
Hal ikhwal konsumsi susu inovasi di Indonesia akan sangat riskan jika kita tidak cerdas dalam mengenali kelaikan sebuah produk susu. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim memerlukan pengesahan lugas tentang kelaikan sebuah produk. Dalam hal ini Indonesia memiliki lembaga penguji kehalalan setiap produk yang sudah terbukti integritas dan independensinya dalam sertifikasi ‘halal’ sebuah produk. Majelis Ulama Indonesia berada pada garda terdepan dalam hal kehalalan setiap produk yang beredar. Melalui Lembaga Pengakajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, kita mendapatkan pengesahan primer halal tidaknya sebuah produk.

Logo halal Indonesia

Susu inovasi dengan isomaltulosa dari Frisian Flag yang merupakan produk susu olahan, menurut MUI menjadi kritis jika prosesnya tidak laik. Multi proses dalam susu olahan akan sia-sia manakala bahan yang diperoleh tidak laik secara islam. Sehingga pada akhirnya susu yang dihasilkan menjadi berstatus haram. Level kritis pada susu olahan terdapat pada enzim, serta bahan pelapis (coating) yang biasa dipakai dalam proses pegolahannya, yaitu gelatin. Terdapat beberapa mineral yang dpat diperoleh dari bahan-bahan hewan, seperti kalsium dari tulang binatang, yang jelas bisa halal atau bahkan haram.
Namun, Frisian Flag dan inovasinya yang laik itu telah mendapatkan penegsahan utama dalam hal keamanannya dalam koridor kehalalan. MUI telah menjamin bahwa produk susu inovasi ber-isomaltulosa dari Frisian Flag laik untuk anak. Hal itu terbukti dari logo halal MUI pada setiap kemasan Frisian Flag Isomaltulosa dan produk Frisian Flag lainnya. Jelas bahwa Frisian Flag tidak ingin inovasinya berguna tanpa arah jika sudah beredar luas di Indonesia. Dalam hal ini pun MUI juga berada pada garda terdepan konsep yang harus dimiliki pada setiap produk yang beredar di Indonesia, yaitu konsep halalan thayyiban. Bahwa kehalalan sebuah produk itu penting jika selaras dengan prosenya yang juga laik dan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan (thayyiban). Bukan hanya halal, tapi juga harus baik. 

Jujur, dalam hal mengkonsumsi susu, saya termasuk pribadi yang fanatik. Sebagai seorang mahasiswa, saya kira saya juga harus memenuhi kebutuhan enegi guna mendukung aktivitas yang dinamis. Apalagi dalam hal gizi seorang mahasiswa yang tinggal dalam kosan, susu adalah salah satu cara memperoleh sumber gizi dengan mudah dan terjangkau. 

Solusi praktis sumber asupan gizi mahasiswa- dokumentasi pribadi :)

Tetap minum susu ditengah kesibukan. Mahasiswa tak bolah kalah-dokumentasi pribadi :)
Pada akhirnya, susu inovasi adalah jawaban utama bagi tujuan pembangunan Indonesia. Indonesia yang senantiasa dinamis dan progresif harus didukung dengan pasukan yang cerdas dan sehat. Generasi emas anak-anak Indonesia dengan kiprahnya yang luar biasa menjadi katalis lain dalam percepatan Indonesia menjadi negara maju. Sehingga, pada akhirnya susu inovasi dan generasi Indonesia yang senantiasa menginspirasi adalah kensicayaan utama bagi kemajuan negeri. Sebuah keniscayaan bagi kemajuan Indonesia yang akan kita saksikan satu, dua, atau tiga dekade ke depan.

Susu inovasi dan generasi Indonesia yang senantiasa menginspirasi adalah bentuk keniscayaan lain tentang optimisme bangsa ini ke depannya. Optimisme yang dimulai dengan langkah sederhana, yakni mengonsumsi susu hasil inovasi mutakahir.Sehingga para inspirator negeri ini, anak-anak generasi emas, akan mamu meraih esoknya dengan laik. Selaik susu inovasi yang laik juga baik, halalan thayyiban. Jadi, sudah minum berapa gelas susu hari ini, wahai engkau para generasi penginspirasi negeri? Demi sebuah kemajuan yang selalu dalam keselarasan. :) 

Sudah minum berapa gelas susu, kamu hari ini? :9

Kamis, 21 Juni 2012

Trilogi Potensi Bangsa


Trilogi Potensi Bangsa


(Waktu itu ada temen gue yang nyuruh ikut lomba. Sebelumnya segan, tapi ya que sera sera. Alhamdulilah. :) ) Cuma kata temen gue itu (selain ngomen masalah bahasanya yang katanya mantab), "Harusnya kamu 'nembak' di SDM, SDA, kultur, terus coba dihubungkan sama Indonesia Bersinar.. Ya saran aja... Kurang mengena..."  Gue: "Thanks, tararengkyu, teman!" :) Resiprokal itu memang selalu menarik. 

Pada awalnya, Indonesia dikenal sebagai negara yang memesona bak permata hijau. Kekayaan alam membentang sepanjang garis khatulistiwa. Pada awalnya pula bangsa Eropa berbondong-bondong ke Indonesia demi rempah-rempah. Pada awalnya juga kita menjadi bangsa yang terjajah. Kejayaan sektor maritim, teknologi pertanian, dan budaya serta kearifan lokal Indonesia mendadak sirna. Penjajahan mewariskan bangsa dengan mental yang terjajah. Katastrofe  mental bangsa terjajah hampir pasti sulit diperbaiki tanpa rencana, konsep, dan tekad yang kuat serta matang.

Memerlukan upaya ekskavasi jati diri, karakter, dan budaya bangsa untuk menerangi bangsa ini yang memang sedang meredup. Terdapat tiga gatra utama yang linier dengan konsep tersebut. Indonesia yang lebih bersinar berawal dari tiga hal tersebut. Tiga konsep atau trilogi karya Ki Hajar Dewantara. Tiga konsep sakral yang tetap memerhatikan kearifan lokal dalam implementasinya. Konsep yang sangat aplikatif jika dikorelasikan dengan keadaan Indonesia saat ini. Indonesia saat ini yang besiap maju menyongsong kemakmuran bangsanya. Berada di garda depan adalah kumpulan penduduk negeri ini yang berusia produktif. Usia produktif yang dinilai oleh para ahli sebagai ‘bonus demografi’ Indonesia.

Mengapa trilogi?
Tiga gatra utama tersebut merupakan pengejahwantahan upaya penggalian jati diri, karakter, dan budaya bangsa. Terdapat tiga preferensi utama mengenai konsep tersebut. Pertama, konsep ing ngarsa sung tulada, di depan sebagai teladan. Optimisme bangsa ini dibangun oleh pemimpin inspiratif yang berada di garda depan gerakan perubahan. Pemimpin yang menjadi soko guru dalam gerakan pemberantasan korupsi, pelanggaran HAM, dan pelestarian budaya serta kearifan lokal. Pemimpin yang berada di depan selalu mampu membakar semangat kawan dalam gerakan perubahan. 

Kedua, pemimpin yang merupakan kreator perubahan, mampu menjadi lokomotif penggerak gerakan perubahan. Ing madya mangun karsa, kreator perubahan berpotensi luar biasa sebagai lumbung ide, gagasan, dan prakarsa-prakarsa kreatif penggerak perekonomian, ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa ini. Pusat riset terpadu lintas disiplin ilmu berbasis pengabdian kepada masyarakat akan tercipta. Prakarsa yang di luar kotak yang berani menggebrak kerutinan konsep perubahan yang sangat birokratif. Sangat birokratifnya hingga untuk menuju Z harus melalui A terlebih dahulu.

Pada konsep ketiga, sang kreator perubahan mmapu memberikan komando akan kemanakah sinar perubahan negeri ini diarahkan. Tut wuri handayani dalam aplikasinya bagaikan mercusuar di tengah samudera keterpurukan yang luas. Ketiga hal tersebut saling terkait satu sama lain. 

Optimisme bangsa dibangun oleh sang kreator perubahan negeri ini yaitu mahasiswa. Tiga konsep nirwujud tersebut menentukan daya saing negeri ini dengan bangsa lain. Dengan kata lain, potensi bangsa ini bukan lagi hanya permata hijau sepanjang garis khatulistiwanya saja. Potensi bangsa ini adalah bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Konsep angka penduduk usia produktif dengan segala kreativitasnya yang berfusi dengan konsep sakral Ki Hajar Dewantara. Hingga pada akhirnya, benarlah tesis mengenai kemakmuran suatu bangsa. Tesis yang berkata bahwa daya saing suatu bangsa tidaklah sama dengan kekayaan alamnya.

Maka, pada akhirnya biarkanlah cahayamu bersinar! Untuk menikmati pelangi, pertama kita harus menikmati dahulu hujan. Kemajuan dalam keselarasan Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Keniscayaan kemajuan bangsa dua, atau tiga dekade ke depan berawal dari upaya kontemplatif kita hari ini.  

Oleh
Ferry Gunawan (@ferryg1)
Mahasiswa Diploma 3 Program Keahlian Perkebunan Kelapa Sawit 
Program Diploma Institut Pertanian Bogor

Maka Lestarikanlah Bumi


Ferry Gunawan
Program Diploma Institut Pertanian Bogor



Permasalahan lingkungan hidup adalah permasalahan Bumi yang kompleks. Permasalahan kompleks tersebut telah menarik perhatian semua penduduk Bumi. Bumi kian sesak dengan populasi manusia yang mencapai tujuh miliar jiwa. Tidak mengherankan jika Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/UNEP) melibatkan kita semua dalam selebrasi Hari Lingkungan Hidup Dunia 2012. Program tahunan yang telah berjalan selama 40 tahun ini, dengan lugas mengajak kita untuk turut serta dalam aksi lingkungan. Hal itu terpatri kuat melalui tema Hari Lingkungan Hidup Dunia 2012, Green Economy: Does It Include You?

Dewasa ini aksi nyata melestarikan Bumi bukan hanya aksi lingkungan hidup an sich. Bahwa aksi nyata memelihara Bumi juga harus selaras dengan pembangunan ekonomi. Ekonomi hijau menempatkan kita, manusia, secara inklusif di dalamnya. Program Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) berada pada garda terdepan program pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Secara lugas, tercantum pada poin ketujuh MDGs, bahwa negara harus mampu memastikan kelestarian lingkungan hidup dalam konsep pembangunannya. 

Upaya Indonesia dalam melestarikan lingkungan hidup seperti tantangan negara-negara maju melalui MDGs menunjukkan bahwa, Indonesia sangat responsif dengan permasalahan lingkungan hidup. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia tahun 2010 oleh BAPPENAS menunjukkan bahwa, Indonesia mengalami fluktuasi persentase tutupan hutan. Pada tahun 2008, persentase tutupan hutan Indonesia ‘hanya’ 52,43%. Hal tersebut jelas sangat berbeda pada tahun 1990, saat persentase tutupan hutan Indonesia mencapai 59,97%. Konversi hutan menjadi area perkebunan secara masif menjadi ranah yang sangat riskan bagi Indonesia.

Pemerintah Indonesia harus memiliki rencana yang serius jika ingin “memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang” seperti yang terungkap dalam laporan tersebut. Dunia hanya mencatat Brasil sebagai negara yang mampu melakukan pembangunan ekonomi dan lingkungan secara bersih, berkelanjutan, dan berkesinambungan. 

Program nasional Indonesia melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) haruslah menjadi jawabannya. Setidaknya, dengan membagi Indonesia menjadi beberapa koridor ekonomi, pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dapat dilaksanakan dengan komprehensif dan holistik.  

Dunia yang lebih baik
Tahun ini, Bumi kian renta pada selebrasi Hari Lingkungan Hidupnya yang ke 40 tahun. Bumi sedang mengalami apa yang disebut Thomas Friedman dalam bukunya Hot, Flat, and Crowded (2009), sebagai konvergensi antara panas, rata, dan penuh sesak. Secercah harapan ada pada kiat dan kemauan kita dalam melestarikan lingkungan. Ekonomi hijau adalah landasan utama kita dan semua negara di dunia dalam melaksanakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Hal itu sangat laik karena kemajuan perekonomian Indonesia akan kita rasakan selaras dengan keberlanjutan lingkungan hidup.

Dunia yang lebih baik sepenuhnya menjadi pilihan primer kita. Dunia yang lebih baik adalah tentang upaya kita dalam mengkreasi masa depan yang ingin kita lihat nantinya. Melalui MP3EI, Indonesia memberikan kontribusi dan responsnya terhadap permasalahan lingkungan hidup. MP3EI secara khusus memiliki kebijakan tentang ketahanan pangan, air, dan energi yang berkelanjutan tahun 2011 hingga tahun 2025.

Upaya mencipta dunia yang lebih baik, pada akhirnya akan segera menemui tenggat waktunya pada akhir dekade ini. Pertama, kala tenggat yang diberikan negara maju melalui MDGs berakhir pada tahun 2015. Kedua, kesuksesan program MDGs Indonesia akan selaras dengan perekonomian Indonesia nantinya pada kurun waktu 2025. Dimana pada tahun 2025, Indonesia menjadi salah satu dari sebelas kekuatan ekonomi dunia jika ‘skenario’ Kelompok Sebelas Negara (Next Eleven/N-11) oleh Goldman Sachs tahun 2005 berjalan dengan lancar. Ekonomi hijau adalah sebuah paradigma baru arah pembangunan perekonomian Indonesia yang berwawasan lingkungan.

Sehingga pada akhirnya, program pelestarian lingkungan hidup bukan hanya sekedar aksi-aksi normatif berdasarkan kertas kerja para saintis. Bukan pula tentang teknologi termutakhir nan futuristis. Bahwa benar semuanya berangkat dari diri. Bahwa benar, apakah inklusivitas Hari Lingkungan Hidup Dunia telah menyadarkan kita. Bahwa benarkah Green Economy: Does It Include You? Mari kita mengkreasi keturutsertaan kita dalam upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Maka, marilah bersama melestarikan Bumi. Demi kemajuan dan keselarasan Bumi.

(Esai ini ditulis dalam rangka lomba dengan seperti yg tertera pada banner di atas. Alhamdulilah, ya? :) @ferryg1 ) Harus belajar menulis lagi. Tetap semangat! Nothing but writing.. :)

Minggu, 17 Juni 2012

Tentang Berilmu dan Kesahajaannya





Waktu itu, Jumat 15 Juni, ceritanya lagi iseng mampir di Kampus Sekolah Pascasarjana IPB, Baranangsiang. Sambil nunggu waktu untuk UTS Ganjil. Ada pemandangan menarik di salah satu sudutnya. Di pintu mushola terdapat sebuah sticker sederhana. Kesederhanaannya tak bisa dianggap biasa manakala kita melakukan upaya kontemplasi lebih jauh. Sudah sejauh mana ilmu kita sebelum kita begitu vokal dalam berujar. Lebih jauh lagi, ‘kevokalan’ kita itu, adakah menjadi sebuah amal yang melapangkan jalan kita nantinya?

Perjalanan ilmu pengetahuan di jagat raya ini sudah berlangsung begitu lama. Lebih dari usia semesta itu sendiri, kiranya. Ilmu, banyak yang menjuluki bagai pisau bermata dua. Selalu berpredikat ‘relatif’ tergantung subyek yang memanfaatkan ilmu itu. Namun, bagi saya ilmu semacam pencerahan tiada arti. Ilmu selalu bagai matahari, yang sinarnya selalu menyapa kita, tanpa harapan akan kembali. Rasanya tak ada sisi ‘relatif’ dalam ilmu. Sang subyek yang memanfaatkan ilmu itulah yang begitu relatif dalam memanfaatkannya. 

Para subyek selalu saja mengatasnamakan ilmu mereka di atas supremasi kotor mereka atas ketidak berdayaan yang lain. Disini, pada kasus ini kesahajaan ilmu menjadi tercela. Bahkan lebih tercela lagi manakala supremasi kotor atas nama ilmu itu mengarah pada ranah religi. Seolah di negeri ini tak ada ruang lagi bagi keberagaman. Seolah semua harus pada satu ‘warna’ dalam pencarian Tuhannya. Ranah religi yang seharusnya sakral, sacred, menjadi ranah tergelap bak Abad Pertengahan. Zaman dimana segala bentuk kekritisan nalar akan berakhir pada pemberangusan. 

Ke-jumawa-an atas nama ilmu agaknya akan kian berlanjut, manakala Sang Subyek dengan derajat tertinggi dalam klasifikasinya pada taksonomi makhluk hidup, kian dangkal. Kedangkalan pola pikir atas nama common sense  semoga hanya memang berada pada benak kumpulan orang berilmu itu. Semoga tidak menginsepsi para pemuda harapan bangsa negeri ini. Karena memang benar kiranya bahwa, kita jangan hanya mengandalkan common sense dangkal dalam bertindak. Setidaknya untuk berkata dan beramal pun kita dituntut untuk berilmu terlebih dahulu. Bahwa ilmu, layaknya ide dan bakteria. Seperti salah satu ungkapan dari film Inception, “What is the most resilient parasite? Bacteria? A virus? An intestinal worm? An idea. Resilient… highly contagious. Once an idea has taken hold of the brain it’s almost impossible to eradicate.” 

Ilmu harusnya kembali pada fitrahnya nan kaffah, yakni kesahajaan. Sehingga nantinya akan kita temui negeri ini yang selaras dalam harmoni. In harmonia progressio... (@ferryg1)