Sabtu, 23 April 2011

Mari Belajar Sampai India!


Sebuah motivasi diperlukakan bagi siapapun dalam keadaan terpuruk. Terpuruk bisa dalam hal apa saja. Termasuk dalam hal mengejar impian meraih pendidikan hingga tingkatan tertinggi. Jadi, mari menuntut ilmu sampai ke Cina. Oh ya?


Adagium untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sudah lama kita dengar. Seperti elan pada diri kita mengenai gapaian pendidikan tinggi kita nantinya. Tapi mari melangkah lebih jauh. Mari melangkah ke India.


Belum banyak diungkapkan bagaimana kehebatan India dalam hal pendidikannya. Dalam survai tentang perguruan tinggi terbaik seluruh dunia, India selalu menempatkan wakilnya pada jajaran puluhan besar perguruan tinggi terbaik dunia.


Tahun ini, tak seperti biasanya topuniversities.com memublikasikan peringkat terbaru perguruan tingginya dengan mengkategorikan pada tiap bidang. Dalam daftar yang baru - baru ini dirilis untuk bidang Teknik, India kembali membuat kita terhenyak. Dari daftar 200 besar perguruan tinggi dunia bidang Teknik (engineering) India menempatkan beberapa wakilnya. Sungguh luar biasa. Wakil Indonesia tak ditemukan dalam daftar yang belum seluruhnya itu.


Salah satu perguruan tinggi yang layak disimak adalah Institut Teknologi India. ITI didirikan oleh Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India pertama, pada tahun 1955. Nehru mendirikan tujuh ITI yang pertama di Khargapur. Melihat populasi India yang melebihi satu milyar itu, jangan dibayangkan kompetisinya untuk bisa menempuh pendidikan di ITI.


Seperti ditulis oleh Thomas Friedman dalam bukunya The World Is Flat (2005) sebagaimana mengutip The Wall Street Journal (16 April 2003), bahwa konon lebih sulit untuk bisa masuk ITI daripada Harvard atau Massachusetts Institute of Technology. Salah satu alumni ITI, Vinod Khosla, yang juga salah satu pendiri Sun Microsystem yang mengambil gelar S2 nya si Carnegie Mellon dengan santai karena tak sesulit dibandingkan dengan pendidikannya di ITI (halaman 138).


Sudah jamak diketahui bahwa ahli TI di Bangalore lebih banyak daripada yang dimiliki Lembah Silikon. Akses pendidikan yang murah namun berkualitas menjadi hal yang lumrah di India. Dari apa yang dilakukan Nehru lima dasawarsa lalu dapat kita lihat saat ini. India menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Banyak taipan dunia yang merupakan orang India.


Kelompok negara dengan pertumbuhan ekonomi fantastis yang tergabung dalam BRIC bahkan berani mewacanakan ulang mata uang dolar Amerika sebagai tolok ukur dunia. BRIC yang baru saja memiliki anggota baru, Afrika Selatan, kini kian mengokohkan kedudukannya.


Dalam buku Friedman yang membahas kian mendatarnya dunia ini, di jumpai lebih banyak indeks mengenai India dibandingkan Indonesia. Indeks tentang India hanya bisa dikalahkan oleh Cina.


India dengan Bangalorenya telah mengundang banyak investor untuk menanamkan modalnya di sana. Bagaikan pusat gravitasi banyak investor berbondong - bondong menunju Bangalore. Kecenderungan kian bergeser pada India.


Dalam dunia yang kian datar apapun dapat terjadi. Negara manapun bisa menjadi pelopor menuju masa depan yang baik. Apa yang kini sedang dilakukan oleh AS, beberapa minggu kemudian juga bisa dilakukan Cina atau India. Bahkan mungkin saat AS sedang melakukan riset mutakhirnya, India sedang melakukan uji tingkat lanjut riset itu. Amerika mencipta, India yang memberi pangsa pasar.


Para ekonom sudah dengan gamblang menyebutkan bahwa penduduk banyak adalah modal utama kebangkitan suatu negara. Tapi tanpa bermodalkan SDM yang berkualitas populasi yang banyak itu hanya akan menjadi pangsa pasar pekerja murah tanpa kompetensi yang memadai.