Jumat, 23 April 2010

Melihat Melampaui Indonesia!



(bukan sekedar)Ulasan singkat buku terbaru Zuhal; Knowledge & Innovation Platform Daya Saing

Identitas Buku;

Judul:Knowledge & Innovation Platform Daya Saing

Penulis:Zuhal

Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama 2010

ISBN:978-979-22-5652-9

 

…Cahaya di atas cahaya. Dia membimbing cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia member pedoman “wisdom”bagi manusia karena Dia memiliki “knowledge”atas segalanya.(QS.24:35)

Buku ini benar – benar buku yang sangat luar biasa bagus. Buku ini mencoba menelaah lebih jauh mengenai Indonesia pada tataran persaingan global. Pemikiran Zuhal yang terbaru ini terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama diisi dengan ulasn ingkat mengenai platform daya saing kita. Pengembangan teknologi, kreativitas, modal alam, modal manusia yang akan menambah suatu nilai pada rangkaian produk akhir. Bagian dua mengulas masalah implementasi dari kesemuanya itu-teknologi, krearivitas, modal alam, modal manusia-dalam peningkatan daya saing Indonesia dalam skala dunia. Harapan buku ini jelas:melihat melampaui Indonesia yang biasa. Mencoba meneguhkan tesis:Ekonomi Berbasis Pengetahuan. Knowledge-Based Economy (KBE) yang telah mengantarkan banyak negara pada percaturan ekonomi dunia.

Bagian awal buku ini berhasil membuat pembacanya iri melihat kemajuan pesat negara – negara dunia yang dulunya dikenal sebagai underdog. Zuhal mengupas upaya terbaik India yang telah membangun masyarakat berbasisi IT hingga India memiliki 150-an ribu man-power bidang IT hanya di Bangalore saja!,mengalahkan ahli IT dari Silicon Valley yang “hanya”120-an ribu orang!.

Buku ini menjadi serasa makin gemuk dan kaya dengan disertainya reportase nyata dari pengembangan nyata iptek di Indonesia. Reportasenya dimulai dengan penerapan pengetahuan dan inovasi melalui produk akhir berupa distro dalam bus kreasi Fiki Chika Satari, batik fractal karya Muhammad Lukman, juga mengenai Bandung Creative City-Bandung berderet sejajar dengan 11 kota lain di dunia yang menjdi ikon kota kreati dunia;Glasgow(Skotlandia),Bristol dan London(Inggris), Cebu(Filipina), Bangkok(Thailand), Taipei(Taiwan), Auckland(Selandia Baru), Kuala Lumpur(Malaysia), Hanoi(Vietnam), dan Yokohama(Jepang). Reportase kedua mengangkat peningnya sebuah universitas riset()research university)sebagai rangkain triple helix-akademisi, institusi pemerintah, bisnis-dalam peningkatan KBE pada suatu negara. Reportase ketiga - keempat tentang improvement bidang ilmu dasar Molecular Farming LIPI dan Menambang Solar dari Alga. Pada reportasenya yang ketiga dan keempat itu penulis mencoba mengatakan bahwa kita sebenarnya tidak kalah dalam hal riset teknologi mutakhir. Kita hanya kalah dalam hal dana riset dan belum terbukanya mata pemerintah pusat maupun daerah tentang pentingnya riset berkelanjutan terhadap pengembangan suatu nilai tambah produk-produk industri contohnya. Reportase terakhirnya adalah reportase yang paling jauh ke depan. Yakni masalah teknologi nano. Teknologi nano-lah yang akan menyelamatkan kita!.

Disisi lain, buku ini membuka dengan lebar kelemahan kita. Dari segala indeks penilaian –Indeks Daya Saing, Indeks Pembangunan Manusia-Rasio riset dari PDB-kita masih kalah dari “murid”kita dulu-Malaysia. Padahal penduduknya 10 kali lebih banyak penduduk Indonesia. (Tapi menurut Anies Baswedan pada suatu kesempatan kita jangan melihat dari segi itu. Penduduk kita yang hebat juga tidak kalah banyaknya disbanding Malaysia. Coba  kita liha yang 10 persen atas. Kalangan akademisi kita jauh diatas Malaysia. Kita harus melihat dengan jauh. Beyond Indonesia, katanya.)Hingga kini dana riset kita hanya 0,1 persen dari PDB. Idealnya, kata ketua LIPI Prof Umar A Jennie adalah 4 persen.

Riset dan kecintaan pada bidang ilmu pengetahuan berbasiskan teknologi maju adalah jalan terbaik menuju KBE dan menciptakan Masyarakat Berbasis Pengetahuan-Knowledge –Based Society. Dengan itu kita kan bisa menyamai Finlandia yang dulu masyarakatnya dikenal sebagai pengelola hutan. Dengan PDB tahun 2004 yang sekitar 4 ribu dolar AS. Melonjak hingga 13 kali lipat pada 2008 sebesar 54 ribu dolar AS.

Belum lagi Jepang yang memegang banyak hak paten, juga Jerman dan negara maju lainnya. Data – data yang dibuka lebar ini meneguhkan lagi tesis (dari bahan bacaan lain) bahwa negara termakmur di dunia bukanlah negara dengan ladang minyak tinggi. Karena daya saing ≠ Kekayaan. Banyak contohnya :Korea Selatan, Jepang, Malaysia, China, India,dan bahkan negara-kota Singapura. Kuncinya hanya satu:SDM yang berdaya saing. Menguasai bidang ilmu dasar hingga ilmu termutakhir. Mulai biologi dasar hingga rekayasa skala nano. Menjadikan produk akhir yang berupa produk cerdas. Kini bukan saatnya lagi mengekspor bahan mentah. Harus kita galakkan gerakan nilai tambah suatu produk.

Yang terbaru adalah dari hasil rapat kerja dengan para menteri, gubernur, swsta, dan ahli teknologi di Tampaksiring, Presiden Yudhoyono telah mengetahui dan berusaha mengimplementasikan alih teknologi pada tiap sektor. Dengan harapan nyata nilai pertumbuhan ekonomi kita sampai tahun 2012 sebesar7- 7,7 persen. Semoga. Amin. Menuju Indonesia yang terbaik menjawab semua proyeksi yang ada:BRIIC, Next Eleven: Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Meksiko, Nigeria, Pakistan ,Filipina ,Korea Selatan ,Turki ,Vietnam

Pastinya dengan dana riset sebesar itu dari PDB kita akan puluhan tingkat diatas!. Sebauah optimism yang bukan seolah – olah!”semua akan indah pada saatnya.”

Ps:sejauh sekarang ini kita bukanlah lagi macan asia. Empat Macan Asia adalah: Hongkong, Singapura, Korea Selatan dan Taiwan. Tapi itu tak masalah. Hal itu menunjukkan persaingan sehat kita dengan banyak negara. Toh perubahan bukan juga berarti statis(kalau dulu gitu, sekarang juga harus gitu!-sangat konservatif jika masih melihat dari skala berpuluh – puluh tahun lalu mengabaikan pemikiran yang sangat maju dari semua negara yang dulu sangat miskin dan terbelakang). Yang terpenting kita semua kini tidak sedang berdiam diri. Kita sedang dalam kondisi sangat dinamis.